Sejarah Lagu-Lagu Mashabi (Sang Peratap dari Tanah Abang) dan Cikal bakal Dangdut Indonesia.

Mashabi 1.jpg

Adik Mashabi  : “Saya paling dekat dengan kakak saya…” Rugaiyah, kini 70 tahun, beberapa kali saya pergoki terlihat matanya berkaca-kaca tatkala dia mengenang kembali kakaknya. Dia menunjukkan pula potret hitam putih sang kakak -yang sepertinya tidak pernah dipublikasikan sebelumnya.

Fokustoday.com – Lifestyle. 5 Desember 2017.

Sebelum musisi Rhoma Irama ‘melahirkan’ dangdut, Mashabi dan generasinya telah meramaikan kancah musik melayu modern pada 1950-1960, yang kelak disebut cikal bakal musik dangdut.

Tetapi siapakah sosok Mashabi? Mengapa namanya begitu melegenda di kalangan penggemar musik melayu di Indonesia? Saya jamin, sebagian besar dari Anda tidak mengenalinya.

Saya sendiri agak lupa kapan pertama kali mendengar Mashabi. Tetapi begitu mendengar ulang Renungkanlah atau Kesunyian Jiwa –dua lagunya yang mirip mantra di kalangan penggemarnya– saya akan menyebut kampung ibu saya di kawasan Ampel, Surabaya.

Di masa kanak-kanak, di tahun 1970-an akhir dan awal 1980-an, telinga saya telah mengenal secara samar-samar suara Mashabi melalui alat pengeras suara yang diputar kencang di acara resepsi pernikahan keluarga ibu.

Tentu saja, ketika itu saya tidak ada minat sama-sekali untuk tahu lebih lanjut tentang sosok pelantun lagu-lagu itu. Intinya, saya sama-sekali tak tertarik. Titik.

Namun demikian, kira-kira 15 tahun kemudian, ceritanya menjadi lain. Ketika sudah mengenal rasanya jatuh cinta (dan ditolak), saya ‘dipaksa’ untuk mendengarkan berulang-ulang lagu-lagu melankolis Mashabi.

Seorang sahabat, yang rupanya sedang patah hati, begitu menghayati beberapa lagu Mashabi –yang kala itu kusebut lebih mirip ratapan. Alhasil, dalam perjalanan dari Malang ke Bali bersama sobat itu, saya pun ikut-ikutan mengakrabinya.

Tetapi mengapa lagu-lagu Mashabi dapat begitu menghipnotis sobat saya itu? Bagaimana sejarah lahirnya lagu-lagunya? Dan mengapa pria kelahiran 1930-an itu mati muda?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu seperti terus memanggil. Dan, setelah hampir 20 tahun menjadi jurnalis, saya akhirnya memenuhi panggilan itu.

Kebon Kacang Enam

Mashabi 2.jpg

Mashabi Meninggal di usia 37 tahun (antara 1963 atau 1967), meninggalkan tujuh adik, dan empat diantaranya adalah perempuan, yang masih tinggal di rumah peninggalan orang tua mereka di kawasan Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Awal Maret lalu, saya menghidupkan lagi rasa ingin tahu saya tentang sosok legendaris itu dengan mencoba mencari tempat tinggalnya dulu.

“Cobalah susuri Jalan Kebon Kacang 6, Tanah Abang, semua orang pasti tahu di mana rumah keluarga Mashabi,” ujar seorang teman -yang sepertinya akrab dengan lagu-lagu Mashabi.

Patut diketahui, sekian tahun lalu, teman saya ini pula yang menawari saya untuk meliput sang legendaris Mashabi, tetapi kemudian ide ini menguap dan akhirnya terlupakan.

Tetapi, pada hari-hari itu, tekad saya sudah membara. Saya kemudian membuka peta Jakarta dan bertanya ihwal jalan itu kepada teman sekantor yang tinggal di Kebon Kacang. “Kayaknya jalan-jalan Kebon Kacang yang angkanya kecil itu di dekat jalan raya Kyai Mas Mansyur.”

Info tambahan dari seorang penggila musik Melayu, Geisz Chalifah, yang menyebut ‘adik-adik Mashabi’ masih tinggal di Kebon Kacang 6 pun makin membulatkan tekad saya.

Dan akhirnya, “Apakah betul ini kediaman keluarga Pak Mashabi?” penuh harap suara saya mengambang di hadapan seorang perempuan berhidung mancung dengan rambut kelam.

Sebuah rumah yang dihiasi tanaman gantung, selain jemuran, dan bangunan kecil menjorok di depannya, serta sebuah papan bertuliskan ‘Rumah Dijual’ ditempel di pagar depannya yang mulai berkarat.

Di kanan-kirinya berdiri losmen atau hotel kecil serta lebih dari satu perusahaan pengiriman barang – sebuah ciri khas yang banyak dijumpai di kawasan di dekat pusat grosir terbesar di Asia Tenggara, Tanah Abang.

“Iya betul.” Suara perempuan memantul dari balik barang-barang di sebuah bangunan kecil yang disulap menjadi toko kelontong. Saya lega mendengarnya: saya akhirnya menemukan rumah sang legenda!

Meninggal di usia muda

Meninggal dunia di usia 37 tahun, yaitu antara tahun 1963 atau 1967, Mashabi meninggalkan tujuh adik, dan empat diantaranya adalah perempuan, yang masih tinggal di rumah peninggalan orang tua mereka di kawasan Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Saya bertemu Rugaiyah, Sakinah, Bahijah dan Aminah -sebagian adik-adik Mashabi- di teras rumahnya, ketika langit Jakarta perlahan berubah menjadi biru bercampur lembayung di ujung baratnya.

“Saya paling dekat dengan kakak saya…” kata Rugaiyah, kini 70 tahun, yang beberapa kali saya pergoki terlihat matanya berkaca-kaca tatkala dia mengenang kembali kakaknya. Dia menunjukkan pula potret hitam putih sang kakak -yang sepertinya tidak pernah dipublikasikan sebelumnya.

Muhammad Mashabi adalah anak kedua dari 14 bersaudara. Mamad, begitulah panggilannya, adalah anak pasangan Salim Mashabi dan Salamah Mashabi. “Ayah saya dulu juga pemusik dari orkes melayu Al Wardah…”

Dalam wawancara sekitar satu jam, Bahijah dan Sakinah terkadang ikut nimbrung, tetapi dari cerita Rugaiyah, sosok Mashabi seolah seperti hidup kembali.

“Mashabi itu baik sekali. Makanya di waktu dia meninggal, tiga bulan ibu saya enggak belanja. Yang kasih terigu, minyak, karangan bunga, banyak sekali. Di sini (dia menunjuk halaman rumahnya) penuh.”

Lagu Ratapan anak tiri

Keluhan anak tiri adalah salah-satu lagu terkenal karya Mashabi dan kelak lagu ini meledak setelah dijadikan musik latar film Ratapan anak tiri yang kali pertama diputar pada tahun 1973.

Di hadapan saya, Rugaiyah -dengan logat Betawi yang kental- bercerita latar belakang lahirnya lagu legendaris tersebut. Sebuah kenyataan yang barangkali bisa menjadi petunjuk sifat perasa sang biduan.

Suatu saat, “dia pergi ke Lampung, dan lihat ada orang dan anaknya, yang (anaknya) terus dimarah-marahin. Dia paranin (datangi); ‘kenapa kok dimarahin’, ternyata itu anak tiri.”

Rupanya pengalaman menyaksikan kepedihan ini terus membebani Mashabi. “Dia pulang, dia kemudian mengarang (menulis lagu). Cepat ngarangnya!”

Ujungnya, pria kelahiran tahun 1930-an itu, menggelar latihan bersama teman-temannya di rumah tersebut. “Dan, kalau pas latihan, saya dikasih duit gede dan disuruh beli kelapa, beli ini, beli ini, bikin nasi uduk..” Mata Rugaiyah kali ini berbinar.

Abubakar, adik bungsu Mashabi, yang saya hubungi secara terpisah, mengatakan kakaknya memang sangat perasa alias sensitif.

“Dia mempunyai hati yang sensitif sekali. Lihat anak kecil saja bisa menangis,” kata pria yang kini berusia 58 tahun ini.

Abubakar kemudian teringat bahwa kakaknya sebagai tipe orang, “Yang tidak bisa menerima jika ada temannya susah”. Tipe seorang seniman, tambahnya.

“Saya tahu, dia habis main panggilan orkes, dan dapat uang, tapi besoknya sudah tidak punya uang. Saya dengar ceritanya, setiap dia punya uang, temannya berkumpul, dan dia tidak bisa menolak,” ungkapnya.

Menjiwai lagu-lagunya

Mashabi 3.jpg

Munif Bahasuan, tinggal di kawasan Petojo, Jakarta Barat.

Bergabung bersama orkes Melayu Kelana Ria pada akhir 1950-an, pria kelahiran Jakarta itu seperti menemukan rumahnya yang baru.

Bersama grup musik ini, Mashabi produktif melahirkan karya-karya lagu emasnya, kata salah-seorang sahabatnya, Munif Bahasuan.

“Dia senang sekali bergabung dengan kita, karena saya selalu memberikan kebebasannya untuk menciptakan dan menyanyikan lagu-lagunya,” kata Munif.

Bersama Mashabi, grup orkes melayu itu kemudian melakukan beberapa rekaman musik dan tampil di berbagai panggung.

Di sini, selain sosok Mashabi dan Munif Bahasuan, ada nama-nama seperti Husein Bawafie, Adi Karso, Lutfi Mashabi, atau Ellya Khadam, yang kelak oleh generasi berikutnya ditahbiskan ikut berperan besar mengenalkan gaya musik melayu modern.

Malam itu, saya beruntung bisa bertemu dan mewawancarai Munif Bahasuan, kini berusia 80 tahun, pencipta dan pelantun lagu Bunga Nirwanayang menjadi hits di zamannya.

Saya temui di kediamannya di kawasan Petojo, Jakarta Barat, Munif -sahabat Mashabi sekaligus pemimpin grup musik Kelana Ria- mengatakan, Mashabi adalah tipe penyanyi yang selalu menjiwai lagu-lagunya.

“Saya rasa belum ada penyanyi dangdut yang punya penjiwaan seperti dia. Dia selalu menyanyi dengan sepenuh hati,” ungkap Munif.

Sebagai pencipta lagu, demikian Munif, Mashabi memiliki kemampuan lebih dalam menyusun ‘karakter melodinya yang memang betul-betul indah’.

Dalam karya-karya lagunya, dia menyebut Mashabi tidak pernah menjiplak dan tidak pernah meniru lagu-lagu yang sudah ada.

“Dia menciptakan dari perasaan dan jiwa,” tandas Munif.

Mengapa melankolis?

Jika mau jujur, sebagian besar lagu-lagu karya Mashabi yang beredar di masyarakat, terasa sekali ada nuansa lirik dan melodinya yang menunjukkan sang pelantunnya tengah ‘patah hati’.

Saya teringat sahabat saya di masa mahasiswa, yang berulang-ulang memutar dua atau tiga lagu Mashabi, ketika dirinya patah hati. Saat itu, dalam perjalanan dari Malang ke Bali, lagu-lagu seputar itu selalu diputar dalam alat rekam miliknya.

Dan ternyata ini bukan asumsi saya semata. Pemusik asal Surabaya dan pengelola situs Arabische Kamp, Adil Albatati, mengatakan, sebagian besar lagu-lagunya dipenuhi lirik bertema cinta.

Mashabi 4.jpg

Adil Albatati,  pengelola situs Arabische Kamp.

“Kayak orang merana, merintih, kenapa dunia ini kejam sekali. Kayak begitulah. Melankoli, bluesy,” ungkap personil grup band Hi Mom! asal Surabaya dan dibesarkan dalam keluarga yang memiliki tradisi mendengarkan lagu-lagu Mashabi.

Adapun pengamat musik melayu, Geisz Chalifah mengatakan, sebagian lagunya memang bertema cinta yang pedih. Dia menduga lagu-lagu Mashabi yang bertema cinta tidak terlepas dari pengalaman pribadi Mashabi.

“Lagu-lagu Melayu itu personal. Nah, kehidupan pribadinya itu diekspresikan lewat lagu. Jadi apa yang dialami, apa yang dilihat, apa yang dirasakan, dia ekspresikan dalam lagu,” kata Geisz yang tiap tahun menggelar Jakarta Melayu Festival.

Kisah nyata Mashabi ‘patah hati’

Tetapi, benarkah sebagian besar lagu-lagu karya Mashabi -terutama yang bertema cinta- didasarkan kisah nyata dirinya sendiri?

Adik bungsu Mashabi, Abubakar membenarkannya. “Betul sekali, karena saya mendengar beliau patah hati,” ungkapnya pelan saat saya hubungi Jumat (11/03) sore melalui sambungan telepon.

Ketika itu ada seorang perempuan yang begitu dicintai oleh Mashabi, tetapi semuanya menjadi berantakan karena orang tua si perempuan menolak kehadirannya -karena alasan soal klaim strata sosial.

“Keluarganya menolak dengan keras, dan sempat mendatangi ibu saya, sehingga ibu saya sampai syok,” ungkap Abu terus terang.

Alih-alih melawan, pria yang perasa itu menuruti nasihat orangnya. Walaupun berat hati, dia kemudian memutuskan percintaannya dengan sang kekasih. “Dan dia putus cinta,” tambahnya.

Ketika saya tanya lagu apa yang dilatari kisah pedih itu, Abubakar berkata singkat: “Lagu yang tidak direkam dan berjudul Datang surat“.

Lagu Untuk bungaku juga disebut Abu dilatari pengalaman pribadi Mashabi ketika melihat langsung pengalaman adik-adik perempuannya.

“Ibu saya, keluarga saya keras, sehingga adik-adik perempuan Mashabi tidak bisa keluar. Kita keluarga yang taat pada orang tua. Kalau tidak boleh keluar, ya tidak keluar,” ungkapnya.

Selama masa hidupnya, Mashabi telah menelorkan sekitar 40 lagu, tetapi yang direkam hanya sekitar 12 lagu, kata Abubakar.

Cikal bakal dangdut

Dalam buku 100 Tahun Musik Indonesia (2015) karya (almarhum) Denny Sakrie, musik dangdut disebut merupakan hibrida dari musik Melayu, India dan Arab.

Dan menurutnya, secara umum, kehadiran generasi Mashabi, Munif Bahasuan, Ellya Khadam, A. Kadir, Husein Bawafie dan pemusik melayu lainnya, pada tahun ’50-an dan 60-an, sudah menampilkan gaya lagu melayu yang disebutnya sebagai “cikal bakal dangdut”.

Munif Bahasuan mengklaim “dangdut itu startnya dari (orkes melayu) Kelana Ria, (karena) saat itu belum ada orang-orang yang merekam lagu-lagu yang warnanya seperti dangdut.”

Dia tidak mau menyebut pihaknya disebut sebagai pionir musik dangdut, tetapi, “Pada saat itu, gaya musik yang kita persembahkan saat itu nggak bisa dibilang Melayu asli, tetapi juga enggak bisa dibilang dangdut.”

“Dia punya warna sendiri, tapi karena ada Ellya Khadam di sana, jadi ada bau dangdutnya. Ellya ‘kan menyanyi Boneka dari IndiaTermenung. Itu ‘kan asalnya lagu India,” ungkap Munif kepada saya.

Meninggalkan melayu asli

Selama ini sudah ada anggapan yang beredar di masyarakat bahwa Rhoma Irama sebagai orang yang melakukan revolusi terhadap musik melayu dengan menciptakan dangdut.

Moh. Shofan dalam buku berjudul Rhoma Irama, Politik dakwah dalam Nada(2014) menyebut Rhoma Irama “mengatur strategi agar dangdut equal dengan rock… Dia mengatur strategi untuk mengakomodasikan dangdut dengan realitas musik pada zamannya.” kata Moh. Shofan.

Mashabi 5.jpg

Menurut Geisz Chalifah, Mashabi,  menjadikan musik melayu menjadi bagian dari masyarakat Indonesia.

Adapun laporan Majalah National Geographic edisi bahasa Indonesia, Juli 2007, Ini dia negeri dangdut menyebutkan pada tahun 1950, lagu Kudaku lari dianggap cikal bakal musik dangdut.

Dan pada dekade 1960-an, musik melayu menjadi bercampur musik lain, dengan pengaruh musik India, Melayu Deli dan gambus, kata National Geographic.

Saya hubungi secara terpisah, pengamat musik melayu, Geisz Chalifah, yang mengatakan kehadiran Mashabi dkk melakukan perubahan dari melayu yang asli menjadi melayu yang lebih modernis.

“Dengan mengambil formulasi dari musik India, tetapi akar melayunya tidak tertinggal,” kata Geisz.

Dan lebih dari itu, menurutnya, Mashabi dan penyanyi seangkatannnya telah menjadikan musik melayu menjadi kegemaran masyarakat.

“Kalau semula musik melayu itu musik etnis yang hanya dikenal di Medan dan Riau, mereka menjadikan musik melayu menjadi bagian dari masyarakat Indonesia.”

Pada akhirnya, saya menjadi tahu sepenggal sosok Mashabi dan sekelumit sejarah musik melayu. Tetapi, di sisi lain, saya sepertinya tetap belum mampu melepaskan perasaan menggelayut setiap mendengar sebagian lagu-lagu sang legenda yang mirip ratapan itu. (Ft/Bbc/Sma/Lifestyle).

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s