Peta Kekuatan, Kontrol dan Kronologis Perang Suria.

Fokustoday.com – Dubai. 22 Februari 2018.

Suria Damai.jpg

Perundingan damai Suria di PBB

Apa yang menyebabkan pemberontakan itu? Sebagian karena kurangnya kebebasan dan kesengsaraan ekonomi memicu kebencian terhadap pemerintah Suriah, tindakan keras terhadap pemrotes memicu kemarahan publik. Arab Spring (2011), yang dianggap keberhasilan bagi pemberontakan juga memicu – yang kemudian dikenal sebagai Musim Semi Arab – menggulingkan presiden Tunisia dan Mesir. Ini memberi harapan kepada aktivis pro-demokrasi Suriah. (lihat Gambar/Peta).

Kronologi Lengkap Perang Suria.
Erdogan Marah: AS Membentuk ‘Tentara Teroris’ di Suriah dan Pemberontak di Turki.

Pada bulan Maret itu, demonstrasi damai meletus di Suriah juga, beberapa demontran ditahan dan banyak yang lainnya. Dikatakan ada beberapa dari mereka yang terbunuh. Pemerintah melakukan tindakan represif terhadap demontran dan pemberontak dan memenjarakan lebih banyak lagi. Kemiskinan, urbanisasi karena pemanasan global, yng menyebabkan gagal panen, juga memperburuk kondisi sosial yang juga memicu kejengkelan terhadap pemerintah.

Baca : Breaking News: Suriah – Turki Dalam Kondisi Siaga Perang!!

FSA (Free Syuria Army)
Pada bulan Juli 2011, beberapa pembelot dari militer mengumumkan pembentukan FSA (Free Syiria Army), sebuah kelompok pemberontak yang bertujuan untuk menggulingkan pemerintah, dan Suriah mulai terjadi perang sipil (pemberontak melawan pemerintah). Awalnya perang sipil biasa bukan perang dengan isu agama dan sektarian.

Baca : Suriah Menghadapi “Gelombang Baru” Intervensi AS

Memang pada tahun 1982, Ayah Bashar Assad memerintahkan sebuah tindakan militer terhadap Ikhwanul Muslimin (IM) di Hama, menewaskan ribuan orang, tetapi sebenarnya itu terjadi juga dibebarapa negara di Timur Tengah. Sebab IM banyak melakukan pemberontak terhadap pemerintahan disekitar itu, baik di Mesir, Yordania, Iraq dan tempat lainnya.

Baca : Breaking News!!Suriah Mobilisir Pasukan ke Afrin Untuk Menghadang Militer Turki

Isu sektarian dihembuskan, banyak jihadist berdatangan ke Suria dengan dukungan sipil, individu atau kelompok bahkan negara. Qatar, Turki dan Saudi dianggap ikut memobilisasi keadaan tersebut, walau tidak dalam bentuknya yang pasti.

Keterlibatan internasional

Konflik itu tidak bisa dilokalisasi, setelah isu sektarian berlangsung, Saudi-Turki dan Qatar jelas-jelas membantu pemberontak, termasuk AS dengan alasan mengusir ISIS tetapi banyak mentarget kelompok pro-Assad. Assad dibantu oleh Iran dan Hizbullah. Dukungan asing dan intervensi terbuka telah memainkan peran besar dalam perang sipil Suriah.

Baca : Turki memerangi Kurdi Suriah di dua front di Afrin

Sejak tahun 2014  AS melakukan operasi bermata ganda terhadap ISIS. Disamping menarget ISIS di Suria, AS banyak menyerang kelompok pro pemerintah. AS memiliki kelompok pemberontak anti-Assad.  2015 Rusia memasuki konflik pada tahun 2015 dan telah menjadi sekutu utama Assad sejak saat itu.  Tahun 2016, pasukan Turki meluncurkan beberapa operasi melawan ISIS di dekat perbatasannya, dan juga terhadap kelompok Kurdi yang dipersenjatai oleh Amerika Serikat. Alasan melawan ISIS selalu bermata ganda di Suria, sebab ISIS itu anti-Assad.

Bahkan Israel juga ikut serta melakukan serangan udara di Suriah, dilaporkan menargetkan pejuang dan fasilitas Hizbullah dan pro-pemerintah. Pertahanan udara Suriah pertama kali menembaki F-16 Israel pada Februari 2018.

AS dan Rusia

AS langsung atau tidak langsung anti-Assad, pro Qatar, Saudi dan Turki. Walaupun tidak melibatkan dirinya secara langsung kecuali dengan alasan mentarget ISIS. Presiden AS Barack Obama telah memperingatkan bahwa penggunaan senjata kimia di Suriah adalah “garis merah” yang akan mendorong intervensi militer AS secara langsung.

Pada bulan April 2017, AS melakukan tindakan militer langsung pertamanya melawan pasukan Assad, meluncurkan 59 rudal jelajah Tomahawk di sebuah pangkalan angkatan udara Suriah dimana pejabat AS percaya bahwa sebuah serangan kimia terhadap Khan Sheikhoun telah diluncurkan (Sebuah alasan yang sampai sekarang tidak terbukti sama sekali, seperti kasus bom kimia Iraq-Saddam).

Pelatihan CIA: Pada tahun 2013, CIA memulai sebuah program rahasia untuk mempersenjatai, mendanai, dan melatih kelompok pemberontak yang menentang al-Assad, namun program tersebut kemudian ditutup, mungkin karena sudah ketahuan, tetapi alasan resmi yang dikemukakan adalah ada ketidak efisienan dan korupsi dalam operasinya.

Kampanye Rusia: Pada bulan September 2015, Rusia meluncurkan sebuah kampanye pengeboman terhadap apa yang disebutnya sebagai “kelompok teroris” di Suriah, termasuk kelompok pemberontak ISIL dan anti-Assad yang didukung oleh Amerika Serikat. Rusia juga telah menempatkan penasihat militer untuk menopang pertahanan Assad.

Di Dewan Keamanan PBB, Rusia dan China berulang kali memveto resolusi yang didukung Barat di Suriah.

Pembicaraan damai

Perundingan damai telah berlangsung antara pemerintah Suriah dan oposisi untuk mencapai gencatan senjata militer dan transisi politik di Suriah.

Jenewa: Putaran pertama perundingan yang difasilitasi PBB antara pemerintah Suriah dan delegasi oposisi berlangsung di Jenewa, Swiss pada bulan Juni 2012.

Putaran terakhir perundingan pada Desember 2017 gagal di tengah perselisihan antara pemerintah Suriah dan delegasi oposisi mengenai pernyataan tentang peran masa depan al-Assad dalam pemerintahan transisi.

Astana : Pada bulan Mei 2017, Rusia, Iran dan Turki menyerukan penyiapan empat zona de-eskalasi di Suriah, dimana jet tempur Suriah dan Rusia tidak diharapkan untuk terbang.

Suria Astana.jpg

Perundingan Damai Suria di Astana

Sochi : Pada bulan Januari 2018, Rusia mensponsori pembicaraan mengenai masa depan Suriah di kota Sochi Laut Hitam, namun blok oposisi tersebut memboikot konferensi tersebut, dengan mengklaim bahwa ini adalah upaya untuk melemahkan usaha PBB untuk menjadi perantara sebuah kesepakatan.

Kelompok pemberontak

Sejak konflik dimulai, saat pemberontakan Suriah melawan pemerintah Assad, banyak kelompok pemberontak baru telah bergabung dalam pertempuran di Suriah dan telah sering bertengkar satu sama lain.

FSA adalah gabungan brigade bersenjata yang lepas yang dibentuk pada tahun 2011 oleh para pembelot dari tentara Suriah dan warga sipil yang didukung oleh Amerika Serikat, Turki, dan beberapa negara Teluk. Pada bulan Desember 2016, tentara Suriah mencetak kemenangan terbesarnya melawan pemberontak ketika merebut kota strategis Aleppo.

ISIL/ISIS muncul di Suriah utara dan timur pada tahun 2013 setelah mengalahkan sebagian besar Irak. Kelompok ini dengan cepat memperoleh ketenaran internasional atas eksekusi brutal dan penggunaan media sosial yang energik untuk merekrut pejuang dari seluruh dunia.

Kelompok lain yang berperang di Suriah termasuk  Mujahidin Suriah (Jaisy Al Islam, Jabh Al Fath Syam, Ahrar Syam dan Faksi Mujahidin Lainnya), juga Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didominasi oleh Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG). Termasuk Hizbullah yang didukung Iran.

Situasi hari ini

Peta Perang Suria.jpg

Peta Control Wilayah di Suria

Pertarungan di Suriah berlanjut di dua front utama:

Ghouta Timur: Pasukan pemerintah Suriah yang didukung oleh pesawat tempur Rusia terus menyerang daerah kantong pemberontak Ghouta Timur, mengakibatkan ratusan warga sipil tewas. Ghouta Timur dikepung sejak 2013 dan merupakan kubu pemberontak terakhir yang tersisa di dekat ibu kota, Damaskus.

Afrin: Turki dan Free Syria Army (FSA) dimulai pada bulan Januari 2018 melakukan operasi militer melawan YPG di Suriah barat laut, dekat Afrin. Juga di Suriah barat laut, pemberontak Hay’et Tahrir al-Sham mengaku bertanggung jawab untuk menembaki sebuah pesawat tempur Rusia dekat Idlib pada 3 Februari.

Pengungsi Suriah

Pada Februari 2018, badan pengungsi PBB (UNHCR) telah mendaftarkan lebih dari 5,5 juta pengungsi dari Suriah dan memperkirakan bahwa ada lebih dari 6,5 juta pengungsi internal di wilayah Suriah. Lebanon, Turki, dan Yordania menjadi tuan rumah sebagian besar pengungsi Suriah, yang banyak di antaranya mencoba melakukan perjalanan ke Eropa untuk mencari kondisi yang lebih baik.

Apakah ada tanda-tanda segera berakhir?
AS mungkin juga Turki akhir-akhir ini dengan serangan di Afrin, menjadikan tanda-tanda peperangan segera berakhir dan perundingan damai memerlukan waktu lebih panjang lagi.

Pada bulan Maret ini (2018), konflik Suriah akan memasuki tahun ke 8. Sudah lebih dari 465.000 warga Suriah telah tewas dalam pertempuran tersebut, lebih dari satu juta orang terluka, dan lebih dari 12 juta – setengah populasi negara itu – telah mengungsi dan terusir dari rumah mereka.

Dengan banyaknya pengungsi, pembunuhan, ketakutan dan kehancuran, maka membangun kembali Suriah setelah perang akan menjadi proses yang panjang dan sulit. (Ft/Int/AlJazeera/SA).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s