Kepribadian Pengguna Facebook dan Skandal Cambridge Analytica.

Facebook dan Cambridge Analytica.jpg

Data Pribadi Facebook dan Cambridge Analytica

Fokustoday.com – Berlin, 25 Maret 2018.
Apabila kita mengetahui tentang anda lebih banyak, maka kami akan lebih mudah berkomunikasi dengan anda. Kata lebih mudah berkomunikasi itu bisa bermakna positif atau negatif. Makin tahu seseorang maka makin mudah memberikan penawaran kepadanya (karena diketahui yang disukai atau yang dibenci), bahkan lebih bisa mengarahkan dan mempengaruhi.

Baca : Ini Cara Cambridge Analytica Pengaruhi Pemilu di Banyak Negara. Indonesia ?

Menteri Kehakiman Jerman Katarina Barley mengatakan, skandal Cambridge Analytica membombardir pengguna dengan pidato kebencian. Dia mengundang Mark Zuckerberg untuk beri penjelasan seputar penyalahgunaan data pribadi di Facebook.

Katharina mengatakan Kamis (22/3), Bagaimana Cambridge Analytica bisa “memanen” data jutaan pengguna Facebook. Data-data ini kemudian dijual ke aktor-aktor politik yang berusaha mengeksploitasi kelemahan pengguna dengan iklan-iklan politik yang ditargetkan.

Dia menyebut skandal itu “ancaman terhadap demokrasi,” dan menambahkan bahwa manajemen Eropa Facebook “berutang beberapa jawaban” kepada pemerintah Jerman.

Akhir pekan lalu, seorang pengungkap fakta (whistleblower) mengungkapkan bahwa perusahaan riset data yang berbasis di London, Cambridge Analytica, anak perusahaan dari kelompok SCL, telah menggunakan tes kepribadian yang dibentuk oleh seorang dosen psikologi untuk mengumpulkan data dari 270.000 pengguna. Mereka kemudian dapat mengumpulkan data dari teman-teman pengguna ini sehingga akhirnya mendapatkan informasi mengenai 50 juta orang.

Baca : Facebook Terancam, Puluhan Juta Data Pengguna AS Bocor.

“Mengeksploitasi setan batin”

ca

© BBC Konsultan politik Cambridge Analytica terlibat dalam kasus bocornya data 50 juta pengguna Facebook.

Cambridge Analytical didirikan tahun 2013 oleh Robert Mercer dengan masukan dari Steve Bannon, yang kemudian menjadi penasihat Presiden AS Donald Trump. Mereka terlibat dalam pemenangan pemilihan presiden 2016.

Co-founder Christopher Wylie, yang meninggalkan perusahaan itu tahun 2014, mengatakan kepada surat kabar Observer dari Inggris: “Kami mengeksploitasi Facebook untuk memanen profil jutaan orang. Dan membangun model untuk mengeksploitasi apa yang kami ketahui tentang mereka dan menargetkan ‘setan batin’ mereka.”

Baca : Konflik Suriah dan Perang Opini Media Kita

Skandal itu makin disorot ketika muncul cuplikan Direktur Utama Cambridge Analytica Alexander Nix yang menyiratkan kepada seorang wartawan yang menyamar sebagai politikus Sri Lanka, bahwa dia dapat menggunakan “suap dan pemerasan” untuk mempengaruhi hasil pemilu.

Merongrong demokrasi

Direktur Utama dan pendiri Facebook Mark Zuckerberg, mendapat banyak kecaman dan tekanan dari Komisi Informasi di parlemen Inggris juga Komisaris Kehakiman Uni Eropa Vera Jourova mengkritik pelanggaran keamanan data-data pribadi di Facebook yang disebutnya telah “merongrong demokrasi”.

Baca : “Mereka Tahu Bahwa Kita Tahu Mereka Pendusta” (Propaganda Perang Barat di Ghouta)

Setelah beberapa hari diam, Marc Zuckerberg hari Rabu (21/3) mengeluarkan pernyataan penyesalan dan mengatakan akan “meningkatkan langkah-langkah untuk melindungi data pengguna”.

“Kabar baiknya adalah, bahwa kami telah mengambil tindakan untuk mencegah hal ini terjadi beberapa tahun yang lalu,” kata Zuckerberg. “Tapi kami juga membuat kesalahan, masih ada lagi yang harus dilakukan, dan kami harus meningkatkan (perlindungan data) dan melaksanakannya.” (Ft/Int/SA).

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s