[Terbongkar !] Semangat murni Alumni 212 hanya politik berkedok agama.

212

Motif gerakan 212 sekarang bermuatan Politik

Fokustoday.com- Jakarta, 26 Maret 2018

Seperti dilansir beberapa media  akhir-akhir ini terkait ditolaknya usulan bakal calon yang diajukan Presidium Alumni 212 kepada tiga Partai, Gerindra, PAN, dan PKS telah membuka kedok sesungguhnya motif aksi berjilid-jilid di DKI Jakarta tempo lalu. Jelas dan terang bahwa aksi yang katanya bela Islam dan semangat Al-Maidah 51 hanya politik berkedok agama.

Agama telah menjadi alat untuk membodohi masyarakat dan pemeluk agama yang taat. Mereka yang merasa agamanya dinista lantas berduyun-duyun datang ke Jakarta untuk melakukan aksi bela agama. Padahal mereka telah dibodohi demi syahwat politik dan kekuasaan.

Baca : Alumni 212 : Syarat Bagi Kandidat Pilkada, Harus punya Dana Cukup.

Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Al-Khaththat, mengakui itu, Bahkan kejadiaan serupa sudah direncanakan di tempat-tempat lain. Tak hanya di Jakarta. Beruntungnya usulan rekomendasi mereka untuk calon kepala daerah tak satupun ada yang diterima oleh partai politik yang selama ini mendukung gerakan mereka yaitu PKS, PAN dan Gerindra. Sehingga rencana itu kemungkinan besar gagal dan tidak akan terjadi.

“Pesan Habib Rizieq ketika saya pergi ke Mekkah, meminta kepada tiga pimpinan partai supaya meng-copas (copy-paste) di Jakarta supaya mendapatkan kemenangan di provinsi lain. Nah, tentunya saya nggak tahu apakah ada mispersepsi seolah-olah kita mendukung dengan cek kosong. Mungkin pemahaman mereka seperti itu,” tutur Al-Khaththath.

Baca : [Tak Tau Diri] Setelah tidak digubris oleh Gerindra Cs, Presidium 212 nekat seleksi Capres 2019.

“Kita mendukung munculnya Gubernur Anies-Sandi dengan semangat 212, semangat Al-Maidah 51. Kita berharap hal itu terjadi di tempat-tempat lain,” imbuhnya.

Ada sejumlah indikasi yang menunjukkan gerakan Presidium 212 memiliki agenda politik.

1. Pada saat Pilgub DKI, gerakan 212 memiliki agenda politik untuk menumbangkan Ahok dengan berbagai isu SARA yang dikemas dengan propaganda.

2. Propaganda dengan jargon jangan pilih calon kepala daerah yang diusung partai yang mendukung penista agama sudah beredar di berbagai media.
Mereka juga membuat propaganda jangan pilih partai dan calon presiden yang mendukung penista agama, jangan pilih partai pendukung Perppu No 2 Tahun 2017 tentang Ormas.

Baca : Gerindra Korbankan Umat 212 demi dongkrak elektabilitas..?

3. Adanya pengakuan dari Pembina Presidium 212 Kapitra Ampera yang menyatakan dengan tegas, gerakan 212 adalah real politik. “Ada kata ‘jangan pilih’, itu sudah jelas merupakan bagian dari kepentingan politik. Lalu ada lagi narasi ‘jangan pilih parpol pendukung penista agama’ maka ini apa namanya kalau bukan tendensi politik.

Jad, masihkan anda percaya jika 212 itu tidak berhubungan sama sekali dengan politik ? (ft/nas/./es)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s