Ucapan Kasar Indikasi Etika Perpolitikan Kita Merosot?

Ucapan Kasar Indikasi Etika Perpolitikan Kita Merosot.jpg

Ucapan  Kasar Indikasi Etika Perpolitikan Kita Merosot?

Fokustodays.com – Jakarta, 4 April 2018.
Beberapa waktu belakangan, sejumlah politikus terlihat mudah menyelipkan umpatan-umpatan kasar di setiap pernyatannya. Kata kasar dinilai menjadi cara mereka merebut sorotan publik di tengah atmosfer politik yang berisik, saat semua orang memiliki kesempatan untuk berbicara.

Tercatat ada nama Anggota Komisi III DPR RI Arteria Dahlan dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang beretorika dengan menggunakan kata-katas kasar yang ujungnya menimbulkan kontroversi.

Arteria menggunakan kata ‘bangsat’ dalam rapat kerja antara Komisi III dengan Jaksa Agung Muhammad Prasetyo, di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (28/3). Arteria menggunakan kata itu karena geram akan banyaknya kasus penipuan ibadah umrah yang tidak bisa diselesaikan oleh Kementerian Agama.

“Ini Kementerian Agama bangsat pak, semuanya Pak. Saya buka-bukaan,” ujar Arteria. Belakangan Arteria sudah meminta maaf atas pernyataan kasarnya ini.

Sementara Prabowo menggunakan kata ‘goblok’ untuk menuding elite pemerintahan yang tidak mampu mengatasi ketimpangan. Selain itu dia juga menambahkan sebutan ‘berhati dingin’ dan ‘bermental maling’.

“Jangan-jangan karena elite kita yang goblok, atau menurut saya campuran. Sudah serakah, mental maling, hatinya beku, tidak setia pada rakyat. Mereka hanya ingin kaya,” kata Prabowo pada Sabtu (31/3) di Cikampek, Jawa Barat, seperti dikutip Antara.

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Kuskridho Ambardi memang ada tren pengungkapan gagasan oleh politikus menggunakan pilihan kata yang semakin kasar dan cenderung tidak beradab.

Dodi, panggilan akrab Kuskridho, menyebut motif politisi menggunakan kata kasar adalah untuk merebut perhatian.

Dihubungi terpisah, pakar bahasa dari Universitas Padjadjaran Lina Meilinawati menyampaikan bahasa mencerminkan tujuan dari sang pembicara. Dia menjelaskan pemilihan kata atau diksi melambangkan ekspresi dalam gagasan secara verbal.

“Dari bahasa yang diungkapkan dapat dilihat apakah dia senang menebar bibit-bibit kebencian, menebar permusuhan, ingin menyakiti, bersikap arogan, dan ingin menang sendiri misalnya,” kata Lina kepada CNNIndonesia.com, Senin (2/4).

Lebih lanjut dia menjelaskan gaya bahasa yang dipakai Prabowo dan Arteria adalah sarkasme atau sindiran langsung dan kasar. Gaya bahasa ini, tuturnya, bisa menimbulkan efek tertentu, seperti membangkitkan kebencian atau kemarahan dari pendengar.

“Atau agar pendengar teryakinkan dengan kemarahan, kebencian, kekesalan yang sedang diungkapkannya,” kata Lina.

Sementara itu, dalam konteks politik, Dodi menambahkan ada pertemuan tren berkata kasar yang dilakukan politikus dengan panasnya ruang publik menjelang tahun politik.

Adab dalam politik tak pernah jadi bahasan serius. Politikus juga, kata Dodi, mendramatisir dengan penggunaan kata kasar sampai lupa batasan antara keras dan kasar.

Dodi menyebut hal ini diperparah oleh forum-forum publik di media sosial yang miskin tradisi keberadaban.

“Sama juga, forum-forum publik di media sosial juga miskin tradisi civility. Jadi klop, ada penawaran dan ada pemintaan,” tambahnya.

Dodi menambahkan dalam derajat tertentu penggunaan kata kasar akan menghasilkan poin positif bagi politikus di mata pendukungnya karena sudah kaburnya batasan keras dan kasar di publik Indonesia.

“Dalam derajat tertentu iya (menambah poin positif di mata pendukung) sebab sebagian publik mencampurkan kekasaran dengan keberanian,” katanya. (Ft/CNN/SA).

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s