Testimoni Aburizal Bakri Bercerita Ketika Menjadi Pasien Dokter Terawan

Fokustoday.com – Jakarta, 6 April 2018.

 

Semua bermula dari beredarnya surat putusan sanksi Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) terhadap dokter cuci otak, Dokter Terawan di media sosial pada Selasa (3/4/2018).

Dokter Terawan2.jpg

Dokter Terawan melakukan konfrensi pers bersama anggota Komisi I DPR RI di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, Rabu (4/4/2018)

Bersama ini, tagar #SaveDokterTerawan menggema di lini masa. Tak tanggung-tanggung ada sosok pengusaha yang juga politikus ulung Aburizal Bakrie di barisan terdepan pembela Dokter Terawan.

Surat yang ditandatangani Ketua MKEK Pusat DR Dr Prijo Sidipratomo SpRad (K) itu berisi putusan terkait dugaan pelanggaran etik kedokteran berat yang telah dilakukan dokter Terawan.

MKEK menduga, dokter yang identik dengan terapi Brain Washing melalui metode diagnostik Digital Substraction Angiography (DSA) itu sudah berlebihan dalam mengiklankan diri. Menurut MKEK, tidak sepatutnya dokter Terawan mengklaim tindakan cuci otak itu sebagai tindakan pengobatan (kuratif) dan pencegahan (preventif) stroke iskemik.

Alasan lain yang memperkuat MKEK menjatuhkan sanksi itu karena dokter Terawan melakukan dugaan menarik bayaran dengan nominal yang tidak sedikit. Selain itu, menurut MKEK, janji-janji dokter Terawan akan kesembuhan setelah menjalankan tindakan cuci otak (brain washing). Padahal, terapi tersebut belum ada bukti ilmiah atau Evidence Based (EBM).

Mariya Mubarika dari Tim Advokasi Legistalif IDI. Mariya amat terkejut begitu mengetahui bahwa media banyak yang menerima surat pemecatan itu.

Menurut Mariya, segala informasi dan data dari MKEK PB IDI yang asli tidak bisa diakses secara bebas. Mariya menjadi heran mengapa bisa sampai kebobolan seperti ini.

“MKEK PB IDI itu tertutup dan tidak mungkin pemberitaan kasus dokter Terawan beredal viral,” kata Mariya saat dihubungi Health Liputan6.com melalui sambungan telepon, Selasa siang.

Saat disinggung apakah surat yang beredar itu asli atau palsu, Mariya menjawab, “Soal berita itu hoaks atau bukan, saya juga belum tahu pasti.”

Surat yang tersebar dalam bentuk Portable Document Format (PDF) itu berjudul Keputusan MKEK – TAP (singkatan dari nama Terawan Agus Putranto) dengan jumlah halaman 10 lembar. Salah satu keputusan yang tertulis di sana menetapkan bahwa pelanggaran yang dilakukan dokter Terawan tergolong pelanggaran etik serius (serious ethical misconduct).

Pada halaman nomor sembilan diketahui bahwa sanksi yang diberikan dokter Terawan berupa pemecatan sementara sebagai anggota IDI selama 12 bulan dari 26 Februari 2018 sampai dengan 25 Februari 2019. Hal ini juga diikuti pernyataan tertulis pencabutan rekomendasi izin praktiknya.

Testimoni pasien Dokter Terawan

Ical, panggilan akrab Aburizal Bakrie, punya alasan khusus mengapa ia membela dokter militer berpangkat Mayor Jenderal (Mayjen) TNI itu. Dalam tulisan di blognya, Ical mengungkapkan peristiwa yang nyaris merenggut nyawanya enam tahun lalu.

“Ingatan saya langsung kembali ke tahun 2012 silam. Saat itu saya sedang makan siang dengan anak saya Anindya Bakrie. Saat akan menyuapkan makan ke mulut, tiba-tiba tangan saya tidak bisa mengarah pas ke mulut. Anin sempat membantu, tapi saat saya mau menyuap sendiri tidak bisa lagi,” ungkap Ical.

Singkat cerita, lanjut Ical, keadaan memburuk, dan ia sampai tidak sadarkan diri. Keluarga pun melarikannya ke salah satu rumah sakit di Jakarta. Karena keadaan makin menghawatirkan, saat itu Prof dr Djoko Rahardjo, dokter kepresidenan, yang juga masih besan adik Ical, menyarankan dipindahkan ke RSPAD Gatot Soebroto.

“Kepada istri, anak, dan adik-adik saya Prof Djoko meminta izin agar dilakukan tindakan DSA kepada saya. Lalu dilakukanlah terapi yang juga dikenal sebagai ‘cuci otak’ itu,” ujarnya.

Sekitar 30 menit terapi (menurut kesaksian istri, karena dirinya tidak sadar), Ical langsung sadar dan kembali bugar. Pagi dilakukan tindakan, jam sore sudah dibolehkan pulang. “Bayangkan dari tidak sadar dan kondisi mengkhawatirkan, sampai keluarga saya histeris, tidak lama setelah tindakan saya kembali sadar dan bugar,” lanjutnya.

Saya masih ingat, kata Ical, ketika itu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sampai menelepon dirinya dan mengatakan, Alhamdulillah Pak Ical sudah sembuh. Jangan sakit, masih banyak yang bisa diperbuat bagi bangsa dan negara ini”.

Itulah awal perkenalan Ical dengan dr Terawan. “Bisa dibilang saya utang nyawa pada Allah melalui dr Terawan. Sejak saat itu, jika ada keluhan yang diduga gejala stroke, saya juga minta bantuan dr Terawan. Seingat saya sudah empat kali saya menjalani terapi DSA atau cuci otak dengan dia.

Riuh di media sosial soal kabar pemecatan dokter Terawan Agus Putranto dari keanggotan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Muncul gerakan #SaveDokterTerawan yang pertama kali didengungkan Abu Rizal Bakrie (ARB) melalui sebuah unggahan foto di akun Instagram pribadinya.

Beberapa saat setelah ramai pemberitaan mengenai Terawan, mertua artis Nia Ramadhani ini mengunggah sebuah foto kolase saat dokter Terawan menerima penghargaan.

Menurut ARB, Terawan dengan metode cuci otak yang dia punya sudah menolong banyak orang. Termasuk diri dia sendiri dan sejumlah nama tokoh elite masyarakat negeri ini. Sebut saja Tri Sutrisno, AM Hendropriyono, Dahlan Iskan, sampai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

“…Inilah mengapa saya perlu ikut membela dia. Orang yang dengki terhadap keberhasilan orang lain, adalah orang yang tidak pandai mensyukuri bahwa Allah telah memberikan kelebihan pada siapa pun yang dikehendakinya…,” ungkap ARB.

Sosok penting dari Pantai Golongan Karya (Golkar) ini berharap atasan dokter Terawan mengizinkan anak buahnya itu membela diri. #SaveDokterTerawan pun tersemat di akhir komentar.

Dari ranah Twitter ada sosok Mahfud MD yang ikut bersuara. Guru Besar FH-UII Yogyakarta sekaligus mantan Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2008 sampai dengan 2013 menulis kicauan seperti ini;

“Saya bukan dokter. Mungkin saja pemecatan dokter Terawan oleh IDI benar. Tetapi saya dan isteri pernah bertobat kpd dr. Terawan dan hasilnya terasa baik. Mudah-mudahan semua berakhir baik,” cuitnya.

Kicauan pukul 12.58 WIB itu pun direspons oleh lebih dari 100 akun. Mendapat tanda suka (likes) lebih dari 1.000. Beragam respons Mahfud terima. Ada yang membela dan ada pula yang berpihak pada IDI dan MKEK. Bahkan tidak sedikit warganet yang menyamakan kasus dokter Terawan ini dengan Dokter Warsito.

Ical, Mahfud MD, Tri Sutrisno, SBY, AM Hendropriyono sampai Sutiyoso merasakan betul terobosan medis yang dilakukan Dokter Terawan. Meskipun terobosan medis itu belum diakui IDI, tapi hal lain justru dirasakan berbeda oleh pasien. Sampai-sampai Ical berani bersaksi bagaimana ia melihat prosedur yang dilakukan Dokter Terawan.

“Kalau yang pertama tidak sadar, yang berikutnya saya sadar dan melihat metodenya memang unik. Karena ada lagu, atau nyanyi-nyanyinya, lalu komunikatif dengan pasien dan saya bisa melihat prosesnya. Proses kateter masuk dari paha sampai ke atas, rasa panas (seperti mint) di mulut saya saluran yang buntu disemprot dan lain sebagainya,” ungkap Ical.

Ical mengaku dirinya tidak mengerti dunia medis, tapi dari pengalamannya tidak ada yang aneh dari apa yang dilakukan oleh dr Terawan. Baginya, dampak kesembuhan itu ada. Karena itu ia mengaku banyak merekomendasikan orang untuk berobat kepada dr Terawan. Banyak yang terbantu dan merasakan manfaatnya, kecuali yang kondisinya sudah terlambat.

“Bahkan ada teman main tenis saya yang sudah mencong mulutnya dan tangan enggak bisa gerak, setelah diterapi, sekarang sudah sembuh dan bisa main tenis lagi,” ujarnya.

Menurut Ical, sudah puluhan ribu orang yang tertolong oleh metode yang dikembangkan dr Terawan. Apa yang dilakukan juga telah ditulisnya dalam disertasinya saat mengambil S3. Penghargaan luar negeri juga banyak didapatnya. Pasiennya juga banyak dari luar negeri. Bahkan ada dokter dari Amerika dan Jerman yang belajar dan minta ilmunya dibagi ke sana.

Memang, kata Ical, banyak dokter masih mempertanyakan metode ini. Namun, dirinya percaya bahwa ilmu, termasuk ilmu kedokteran itu berkembang. Lihat saja perkembangan ilmu dan teknologi yang ada. Hal yang merupakan kemajuan sering kali awalnya dianggap tidak lazim dan dipertanyakan, tapi belakangan diterima dan umum dipakai. Oleh karena itu, ia berharap pihak IDI maupun yang berwenang memberikan tempat dan pengawasan bagi terobosan medis yang bermanfaat bagi pasien. (Liputan6/FT/am)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s