Ditekan AS!, NATO-pun Setujui Agresi Militer AS ke Suriah

nato

Konferensi NATO Sikapi Serangan AS ke Suriah

Fokustoday.com- Washington, 16 April 2018

Dewan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menggelar pertemuan luar biasa di tingkat duta besar untuk membahas transformsi Suriah. Pertemuan yang diselenggarakan pada Sabtu sore, 14 April 2018 ini dilakukan pasca serangan militer Amerika Serikat dan sekutunya ke Suriah.

Militer AS, Inggris dan Perancis melancarkan serangan udara ke Suriah pada Sabtu dini hari untuk menarget sejumlah posisi di negara ini dengan melibatkan rudal jelajah, Tomahawk. Unit pertahaan udara militer Suriah dilaporkan berhasil menembak jatuh 71 rudal dari 103 rudal yang ditembakkan militer AS dan sekutunya.

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg di akhir pertemuan luar biasa dewan aliansi militer ini mengatakan bahwa semua anggota NATO mendukung serangan militer AS, Inggris dan Perancis ke Suriah. Pada dasarnya, posisi NATO sebagai lengan militer Eropa dan Barat dalam mendukung penuh agresi militer AS, Inggris dan Perancis ke Suriah sama dengan dukungan Uni Eropa sebagai lengan politik negara-negara Eropa atas invasi ilegal ini.

NATO dan Uni Eropa mengambil posisi untuk mendukung agresi militer AS dan sekutunya ke Suriah ketika mereka sendiri menyadari bahwa tidak ada bukti yang kredibel mengenai serangan kimia di kota Douma oleh militer Suriah.

Tuduhan dan klaim serangan kimia di Douma hingga sekarang masih digunakan oleh AS dan sekutunya untuk menekan Suriah dan melemahkan pemerintahan legal Damaskus. Sekjen NATO dalam sebuah pernyataan menyambut serangan AS dan sekutunya ke Suriah dan mengklaim bahwa agresi militer ini telah mengurangi kapasitas dan kemapuan senjata kimia Suriah.

Klaim seperti itu disampaikan Stoltenberg, padahal dia sendiri mengetahui bahwa semua stok senjata kimia yang dimiliki Suriah telah dihancurkan setelah negara ini bergabung dengan Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) pada tahun 2013, bahkan penghancuran senjata kimia Suriah juga dilakukan di bawah pengawasan negara-negara dan organisasi internasional termasuk AS dan PBB.

Di sisi lain, para inspektur PBB yang dikirim ke Suriah untuk menyelidiki dugaan serangan kimia ke Douma hingga sekarang juga belum mengumumkan hasil penyelidikannya. Pengumuman posisi Dewan NATO dan dukungannya kepada langkah AS sebagai pemimpin organisasi ini menunjukkan bahwa NATO telah berubah menjadi alat bagi Washington untuk memajukan tujuan-tujuan regional dan internasionalnya. Padahal NATO dibentuk untuk mencapai tujuan-tujuan resmi seperti membela Eropa dan AS dalam menghadapi ancaman militer. Dengan demikian, tidak ada harapan lagi kepada NATO untuk bisa melayani perdamaian dan keamanan internasional.

Presiden Rusia, Vladimir Putin menilai NATO sebagai alat kebijakan luar negeri AS. Menurutnya, di dalam NATO tidak ada negara-negara sekutu, namun organisasi militer ini terdiri dari negara-negara yang bergantung pada AS.

Langkah dan posisi NATO termasuk berpartisipasi dalam apa yang disebut sebagai koalisi internasional anti-Daesh (ISIS) atas permintaan AS menunjukan bahwa Washington mampu mendikte kebijakan NATO dan negara-negara anggotanya. Peningkatan konfrontrasi NATO terhadap Rusia di Eropa Timur, di mana langkah ini dalam kerangka kebijakan dan kepentingan luar negeri AS untuk mengendalikan Rusia merupakan contoh lain bahwa NATO adalah alat kepentingan AS.

Kini, NATO yang memberikan dukungan penuh kepada agresi militer AS dan sekutunya ke Suriah menunjukkan kembali bahwa organisasi ini mengekor kebijakan Gedung Putih di kawasan. Dalam beberapa tahun terakhir, NATO yang berada di bawah pengaruh AS sebagai kekuatan dominan telah melakukan intervensi militer di luar lingkup geografis organisasi militer ini. Langkah ini secara praktis merupakan upaya untuk menunjukkan bahwa NATO adalah sebuah organisasi militer dunia dan memiliki tugas internasional.

Kinerja NATO di periode pasca Perang Dingin alih-alih memperkuat keamanan dan stabilitas, namun justru menciptakan ketegangan yang mendorong kepada ketidakamanan. Serangan NATO ke Libya pada tahun 2011 telah menyebabkan instabilitas dan kekacauan di negara Afrika Utara ini.(ft/int/es)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s