Ustadz Alumni 212 ini bingung bedakan Politisasi Masjid dengan Politik di Masjid.

politisasi masjid.jpgFokustoday.com- Jakarta, 26 April

Ustadz Alumni 212 Hilmi Firdausi terus ngoceh menanggapi larangan politisasi masjid. Ocehannya semakin menunjukkan kalau dia gagal paham politisasi Masjid.

Hal ini tanpak sejumlah ungkapannya yang berputar-putar pada masalah politik Islam. Sebaliknya, dia juga tidak melihat kenyataan di lapangan kalau masjid seringkali dijadikan alat kepentingan politik.

”Dalam setiap ceramah saya, paling hanya 1 % saya selipkan untuk memilih pemimpin yang adil, sisanya materi yang lain. Karena memang banyak yang harus dibahas. Tapi, salah besar jika para da’i tidak menyerukan memilih politisi hanif. Ini bukan politisasi masjid, tapi mengajak ummat untuk peduli pada bangsanya,” tulis Ustadz Alumni 212 ini di akun Twitternya, Selasa (23/04/2018).

“Yang teriak-teriak anti politisasi Masjid, kalau dia non muslim, abaikan! Kalau dia muslim, izinkan saya bertanya, sudahkah kalian meramaikan sholat berjamaah 5 waktu di Masjid ? seringkah kalian hadir di acara kajian-kajian, lalu menyimpulkan bahwa masjid dipolitisasi? Jangan cuma katanya,” katanya lagi.

Tak ada yang salah dari ungkapan Ustad Hilmi yang pertama. Memilih pemimpin yang adil memang harus dikabarkan kepada masyarakat. Dia juga benar bahwa ini bukan politisasi.

Namun, menjadi masalah ketika berbicara politik di masjid dengan menyebut calon A baik dan menjelekkan calon B atau calon lain. Di sini baru akan tanpak jika ada unsur politisasi dan akan memicu perpecahan karena pandangan politik yang berbeda.

Inilah yang sebenarnya diantisipasi oleh pemerintah. Yakni, umat tidak terpecah belah hanya karena beda pandangan politik. Apalagi politisasi itu dilakukan di masjid sebagai tempat ibadah dan suci.

Jadi perlu dibedakan antara politik di masjid dan politisisasi masjid. Menyampaikan kriteria pemimpin yang adil sebagaimana diungkapkan Ustad Hilmi tidak masalah karena memang Islam juga berbicara tentang pemimpin yang adil. Dan akan bermasalah ketika keadilan disandingkan dengan calon tertentu untuk menggiring suara dengan menjelekkan calon yang lain. Inilah yang tidak dipahami oleh almukarrom Ustad Hilm Firdausi.

Ungkapan Ustadz Hilmi yang kedua menunjukkan ia tak paham kondisi yang terjadi di lapangan soal politisasi masjid. Dia terlihat tidak tahu (atau pura-pura tidak tahu) kalau selama ini masjid memang sering dijadikan alat politik.

Publik tentu masih ingat pada Pilkada DKI Jakarta. Masjid telah dijadikan alat politik untuk menggagalkan salah satu calon.

Juga ungkapan Amin Rais soal Partai Allah dan Partai Setan dengan menyebut nama-nama Partai Politik ketika cemarah di masjid. PDI Perjuangan dan Nasdem adalah Partai Setan. Sedangkan PKS, Gerindra dan PAN adalah Partai Allah. Ungkapan ini jelas politisasi agama dan politisasi masjid dan sangat berbahaya karena akan menimbulkan perpecahan di tengah-tengah masyarakat. Terutama yang berbeda pandangan politiknya.

Catatan penting untuk Ustad Hilmi Firdausi ialah harus dibedakan antara politik di masjid dan politisasi masjid. Paham ya Tad? (ft/nas/es)




Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s