Masyarakat Anti Fitnah: Awal 2018, Hoax tentang Politik dan Isu SARA Jadi Dagangan Publik.

antifitnah.jpgFokustoday.com-Jakarta, 12 Mei 2018

Organisasi nirlaba yang bergerak di bidang literasi digital, Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) menilai pada kuartal pertama 2018 ini, hoax mengenai politik dan kesehatan menjadi yang terbanyak berdasarkan jangkauan mereka.

“Awal 2018 ini, hoax tentang politik dan isu SARA. Kesehatan juga banyak dan mengganggu,” kata Ketua Mafindo Septiaji Eko Nugroho saat jumpa pers peluncuran CekFakta.com, situs pengecek fakta, di Jakarta, Sabtu.

Tanpa merinci jumlah hoax yang berkaitan dengan politik, SARA dan kesehatan, Mafindo menyebutkan hoax yang dapat mereka kumpulkan belum tentu menjangkau daerah-daerah di luar kota besar.

Sementara itu, mereka menilai dampak hoax meresahkan karena juga berakibat di dunia nyata, misalnya isu penganiayaan terhadap ulama oleh pengidap gangguan jiwa yang berujung pada beberapa orang dengan gangguan mendapat perlakuan kekerasan.

Pada kesempatan terpisah di acara yang sama, Mafindo menyatakan hoax tersebar karena literasi digital masyarakat yang rendah. Masyarakat saat ini berada dalam zaman post-truth, hidup dalam kelompok-kelompok sehingga mudah menaruh curiga pada orang yang berada di luar kelompoknya.

Untuk itu, agar jangkauan untuk memerangi hoax meluas, Mafindo bekerja sama dengan 22 media yang tergabung dalam Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) untuk membuat situs pengecek fakta, CekFakta.com untuk melakukan verifikasi dan klasifikasi terhadap hoax yang beredar.

Menggunakan model sharing newsroom, redaksi bersama, hoax yang dikumpulkan oleh Mafindo di database akan diverifikasi oleh lebih dari dua media. Setelah mendapatkan kejelasan, media tersebut akan memuat informasi yang sudah diverifikasi di media masing-masing dan situs CekFakta.com.

Hoax

Ini alasan hoaks mudah menyebar

Mengkonsumsi informasi di dunia maya sekarang ini perlu waspada agar tidak mudah terpengaruh hoaks atau berita palsu.

Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika, R Niken Widiastuti, saat Trusted Media Summit 2018 di Jakarta mengilustrasikan bagaimana konten dibuat di dunia maya dan penyebarannya di Indonesia.

Menurut dia 10 persen pengguna internet membuat konten, sisanya atau 90 persen menyebarkan konten. Sebanyak 90 persen warganet tersebut belum seluruhnya memiliki literasi yang memadai sehingga rawan terpapar hoaks di jagat maya.

“Makanya kita perlu membuat yang 10 persen itu berisi hal-hal positif,” kata dia. Dari 10 orang pengguna internet, 4 orang termasuk aktif menggunakan media sosial. Rata-rata mereka menggunakan internet selama 8 hingga 11 jam per hari.

Diperkirakan mereka hanya mampu bertahan tanpa ponsel selama 7 menit. “Orang Indonesia cerewet di media sosial, tapi, minat baca rendah. Akhirnya banyak informasi yang tidak diverifikasi langsung disebar,” kata dia.

Konsumsi internet dan media sosial, dalam paparan tersebut, tidak diimbangi dengan minat baca yang tinggi. Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara tentang minat baca, menurut data UNESCO tahun lalu.

 Dalam setahun, rata-rata orang Indonesia membaca 27 halaman buku, sementara minat membaca koran rata-rata 12 hingga 15 menit per hari. (ft/int/es)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s