[Terbukti!] Sebelum Surabaya Diteror Bom,Umar Patek Pernah Kirim Info Penting ke Densus 88.

umar patek

Fokustoday.com- Jakarta, 21 Mei 2018

Beberapa waktu belakangan terjadi rentetan aksi teror melibatkan satu keluarga di Surabaya dan Sidoarjo.

Adanya berbagai peristiwa teror itu membuat Jamaah Ansharud Daulah (JAD) diduga jadi pihak di balik serangan bom.

“Apa yang terjadi di Mako Brimob, di Surabaya dan Riau hingga penangkapan di Sumatera hingga Banten itu bisa saya langsung menunjuk kelompok JAD,” imbuh Kapolri Tito Karnavian di acara Mata Najwa, Rabu malam (16/5/2018).

Baca : Jihad Islam: Kami Akan Bombardir Tel Aviv jika agresi Israel di Gaza Berlanjut

Dilansir dari video YouTube Channel Najwa Shihab, narapidana terorisme Bom Bali I Umar Patek angkat bicara terkait maraknya aksi teror melibatkan anak.

Ia menyatakan, saat ini jaringan teroris menerapkan pemahaman Takfiri.

Artinya, pemahaman ini mengkafirkan orang lain yang tidak sepaham dengan kelompoknya.

Maraknya aksi terorisme bermula dari peristiwa nahas di tiga gereja Surabaya, Minggu (13/5/2018) lalu.

Baca : ISIS di Suriah Melemah, Di Indonesia Malah Eksis

Ialah Dita Oepriarto yang mengajak anggota keluarganya untuk melakukan aksi bom bunuh diri.

Aksi tersebut dilakukan Dita dengan istri dan empat anaknya.

Mereka adalah Puji Kuswati (43) selaku istri Dita, dan empat anak mereka yakni YF (18), FH (16), FS (12), serta FR (9).

Tiga gereja yang menjadi sasaran antara lain gereja di Jl Ngagel Madya, gereja Jl Diponegoro, dan gereja Jl Arjuno, Surabaya.

Menjadi awal pelaku aksi terorisme di Surabaya, siapa sangka, jenazah Dita rupanya masih berada di RS Bhayangkara Polda Jatim, Surabaya.

Baca : Bercanda Bawa Bom, Dua Anggota DPRD Diamankan, Melanggar Pasal 344

Hingga Selasa (22/5/2018), ada tiga jenazah yang masih berada di rumah sakit tersebut.

Kapolda Jatim, Irjen Pol Machfud Atifin menjelaskan, ketiga jenazah itu masih butuh penanganan identifikasi dan tes DNA.

“Kemungkinan baru besok, Rabu (23/5/2018). Hari ini (Selasa, 22/5/2018) katanya akan diselesaikan,” jelas Machfud saat ditemui di RS Bhayangkara, Selasa (22/5/2018), dikutip dari Surya.

Tiga jenazah pelaku bom bunuh diri yang masih di RS Bhayangkara, yakni Dita Oepriarto, pelaku yang tewas di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jl Arjuno.

Kemudian dua anaknya, yakni YF (18) dan FH (16) yang bunuh diri di Gereja Santa Maria Tak Bercela Jl Ngagel.

Ketiga jenazah itu saat berada di lokasi tewas dan sulit dikenali.

Baca : Militer Suriah Umumkan Kuasai Damaskus Sepenuhnya dari ISIS

Jasad Dita hangus dan tak utuh lantaran dirinya meledakkan bom di dalam mobil di GPPS Jl Arjuno.

Sedangkan tubuh YF dan FH yang meledakan bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela, hancur.

Machfud menuturkan, hingga Selasa (22/5/2018), tidak ada keluarga yang mengakui dan datang ke RS Bhayangkara.

“Kalau tak ada keluarga yang datang dan mengakui, ya segera dimakamkan saja,” ucap pria kelahiran Surabaya ini.

“Kalau saya secara pribadi tidak masalah, tapi sebenarnya Dita itu punya makam keluarga di Jalan Arjuno,” kata Zubairi (51), warga RW1 Tembok Dukuh, Selasa (15/5/2018).

Baca : Teman Dekat Dita Ungkap Proses Dita (Pelaku Bom Gereja) Menjadi Teroris

Makam yang dimaksud adalah komplek makam Pesarean Agung Kesambongan di Jalan Arjuno, Surabaya.

Zubairi mengatakan, dia mengenal Dita sangat baik saat tinggal di Tembok Gede, bahkan tidak percaya jika Dita melakukan aksi terorisme tersebut.

“Dulu waktu tinggal di sini, Dita dan keluarganya sering ziarah ke makam keluarganya di Jalan Arjuno sana, karena mbah-mbahnya dimakamkan di sana. jadi seharusnya dia dimakamkan di sana, ikut pendahulunya,” ujarnya.

Zubairi mengatakan Dita adalah orang yang baik, suka bergaul dengan warga sekitar, dan asyik diajak ngobrol saat tinggal di Tembok Dukuh.

Baca : ISIS Klaim Bertanggung Jawab atas Serangan Terhadap Gereja Ortodoks Chechnya

Umar Patek bongkar Fakta Penting

Beberapa waktu belakangan terjadi rentetan aksi teror melibatkan satu keluarga.

Diketahui, Pada hari Minggu (13/5), satu keluarga beserta empat anaknya melakukan aksi bom di 3 gereja yang berbeda yakni Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya, Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Jalan Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Pusat di Jalan Arjuna.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menuturkan pelaku di Gereja Pantekosta Pusat di Jalan Arjuna adalah sang ayah yang bernama Dita Oepriarto.

Sang ayah sebelumnya sempat mengantarkan istri dan dua anak perempuannya ke Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Jalan Diponegoro.

Istrinya yakni Puji Kuswanti dan dua anak perempuannya yakni Fadilasari (12 tahun) dan Pamela Rizkita (9 tahun) meledakkan diri di sana.

Sementara di lokasi ketiga yakni di Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya, pelaku berjumlah dua orang.

Baca : 2.500 Akun Radikal Diblokir Termasuk Al Fatihin, 9.500 Dalam Proses Diverifikasi

Mereka diduga adalah anak laki-laki dari Dika yakni Yusuf (18 tahun) dan Lukman (12 tahun).

Tak berhenti sampai disitu, keesokan harinya bom bunuh diri kembali terjadi di Polrestabes Surabaya yang diduga dilakukan oleh orangtua dan anaknya.

Bom bunuh diri melibatkan lima orang yang menggunakan dua sepeda motor itu terjadi sekira pukul 08.50 WIB, di pintu gerbang masuk Polrestabes Surabaya.

Bom meledak saat dua sepeda motor itu tengah diperiksa oleh para polisi.

Sebanyak empat orang pelaku tewas di tempat, sedangkan seorang anak kecil yang duduk di bagian depan sepeda motor masih menjalani perawatan di rumah sakit.

“Jadi ada empat pelaku dan satu anak kecil. Empat pelaku tewas di lokasi sedang si anak selamat, sekarang dalam perawatan,” jelas Kapolri Jenderal Tito Karnavian di Polda Jatim, Surabaya, Senin.

Menurutnya saat itu para pelaku berusaha masuk ke Polrestabes Surabaya. Di pintu gerbang, mereka diberhentikan petugas untuk menjalani pemeriksaan.

Baca : Memposting Rekayasa Kasus Bom 3 Gereja Surabaya, Dosen USU Ditangkap Polda Sumut

“Nah saat diperiksa ini terjadilah ledakan,” ujar Kapolri.

Pelaku bom bunuh diri itu diidentifikasi bernama Tri Murtiono (50), bersama istrinya Tri Ernawati (43), warga Surabaya.

Pasangan suami istri itu mengajak dua anak laki-laki dan seorang anak perempuan bernama Ais.

Adanya berbagai peristiwa teror itu membuat Jamaah Ansharud Daulah (JAD) diduga jadi pihak di balik serangan bom.

“Apa yang terjadi di Mako Brimob, di Surabaya dan Riau hingga penangkapan di Sumatera hingga Banten itu bisa saya langsung menunjuk kelompok JAD,” imbuh Kapolri Tito Karnavian di acara Mata Najwa, Rabu malam (16/5/2018).

Dilansir dari video YouTube Channel Najwa Shihab, Narapidana terorisme Bom Bali I Umar Patek angkat bicara terkait maraknya aksi teror melibatkan anak.

Ia menyatakan, saat ini jaringan teroris menerapkan pemahaman Takfiri.

Artinya, pemahaman ini mengkafirkan orang lain yang tidak sepaham dengan kelompoknya.

“Pemahaman Takfiri ini dibawa oleh ISIS, mereka memutardkan siapapun yang tidak sepaham atau tidak mau masuk ke kelompok mereka. Ketika vonis kafir dijatuhkan maka siapapun boleh dibunuh. Ini sangat bertentangan dengan apa kami anut,” paparnya.

Baca : Kapolri Minta Percepat Revisi UU Antiterorisme

Saat ditanya Najwa Shihab selaku Host Mata Najwa, apakah Umar Patek pandai merekrut?

“Saya tidak pandai untuk merekrut,” katanya.

Selain itu, sebelum ada aksi teror bom di Surabaya, Umar Patek mengaku pernah menyampaikan sebuah informasi ke Densus 88.

Saat itu dia masih berada di Mako Brimob, atau sebelum dia dipindahkan ke Lapas Porong tempatnya saat ini.

“Saya sampaikan kepada bapak-bapak Densus, bahwa keluarga memegang peran penting dalam menjadikan seorang napi teroris menjadi tidak radikal. Maka cobalah dipilah-pilah mana-mana keluarga yang mendukung pemikiran napiter itu, dan mana-mana keluarga yang tidak mendukung pemikiran napi tersebut,”ucapnya.

Baca: Buya Syafii mentahkan pendapat Amien Rais soal Politisasi Masjid

Diketahui, Umar Patek ikut membantu Mukhlas Cs meracik dan merakit Bom Bali 2002, di sebuah kontrakan di Jalan Menjangan, Bali.

Ia mengaku datang ke Bali atas perintah Mukhlas, ingin melakukan pembalasan untuk umat muslim di Palestina.

Saat itu, dirinya tak sepaham adanya aksi tersebut namun ia harus mengikuti kata senior, Dulmatin.

Hingga dirinya memutuskan berangkat dan tiba di Bali, 2 Oktober 2012.

Berikut ini adalah video pengakuan Umar Patek.

 

Di Bali, ia mendapatkan tugas untuk meramu bahan peledak.

Atas aksinya itu, Ia mendapatkan hukuman 20 tahun penjara.

Kini dirinya mendekam di Lapas Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. (ft/nas/es)

 

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s