Arab Saudi Masuk Dalam Ambisi Bin Salman dan Perangkap Politik Israel

saud.jpgFokustoday.com- Riyadh, 29 Mei 2018

Kebijakan dan tindakan pemerintah Arab Saudi, khususnya dalam penurunan hubungan dengan negara-negara Muslim dan kedekatan dengan rezim Israel, menunjukkan bahwa negara itu telah terjebak dalam sebuah krisis identitas.

Surat kabar al-Sharq Qatar menulis, Arab Saudi setelah menghentikan ekspornya ke Qatar, telah mengirim beberapa komoditas termasuk produk susu ke pasar Israel.

Setelah Mohammed bin Salman berkuasa, Saudi menyaksikan penurunan dalam hubungannya dengan negara-negara Muslim dan “percepatan” dalam berhubungan dengan rezim Zionis.

Baca : Muhammad bin Salman Terluka Dalam Insiden Bulan Lalu di Dekat Istana

Koran Haaretz Israel dalam sebuah laporan tentang kebijakan regional Arab Saudi dalam tiga tahun terakhir menulis, “Israel tidak memiliki sekutu yang lebih baik daripada Saudi, karena Israel bermusuhan dengan Hizbullah, terlibat konflik dengan Iran, dan mengobarkan perang Yaman.”

Ketegangan Saudi dengan Qatar telah membuat Israel bersuka cita, karena meskipun Doha juga memiliki hubungan rahasia dengan Tel Aviv, tetapi negara tersebut juga menerima kehadiran Ikhwanul Muslimin dan menjalin hubungan baik dengan Republik Islam Iran.

Setelah pecahnya konflik antara Riyadh dan Doha, rezim Zionis secara terbuka berdiri di samping Riyadh dan mendukung Al Saud untuk melawan Al Thani. Kebijakan Tel Aviv ini dengan sendirinya telah mendorong Saudi untuk mempererat hubungannya dengan Israel, karena bagi Putra Mahkota Saudi, Riyadh membutuhkan “penolong regional” untuk menghadapi rival-rivalnya seperti, Iran, Qatar, dan Turki.

Baca : [Lewat UU] Israel Larang Rekam dan Ambil Gambar Kekerasan di Gaza

Sebenarnya, salah satu strategi terpenting Israel adalah mengobarkan permusuhan di antara negara-negara Timur Tengah. Meskipun sudah ada potensi konflik antara Saudi dan Iran, serta antara Saudi dan Qatar, namun salah satu alasan memburuknya ketegangan ini dan menggeser level hubungan dari rivalitas ke permusuhan, adalah strategi Israel itu sendiri, karena “pemenang” atas konflik di Dunia Islam dan negara-negara Muslim adalah rezim Zionis.

Baca : Iran Menekan UE : Jika Tidak Kami akan Menerusan Program Nuklir Kami

Konflik antara Riyadh dan Doha telah menyebabkan kerugian ekonomi bagi sejumlah perusahaan Saudi, dan Israel memanfaatkan peluang ini untuk meningkatkan hubungan ekonomi dengan Saudi dengan menyediakan kemudahan impor barang-barang Saudi.

Surat kabar al-Sharq melaporkan bahwa perusahaan Almarai, produsen susu dari Arab Saudi, mengekspor 450 ton produk susu setiap hari ke Qatar sebelum krisis pecah. Sekarang mereka menderita kerugian besar dan angka produksi hariannya turun hingga 60 persen. Oleh karena itu, Almarai telah mengirim produknya ke pasar Israel.

Baca: Ketika Eropa Mengulur Waktu, Iran Hentikan Perundingan

Meskipun beberapa perusahaan Saudi dan Kerajaan, dalam jangka pendek akan memperoleh manfaat dari strategi Israel ini, namun tidak diragukan lagi bahwa keuntungan besar dari situasi ini justru akan dinikmati oleh rezim Zionis.

Menurut teori hubungan internasional, kerjasama ekonomi akan mendorong penguatan hubungan politik. Rezim Zionis sekarang berusaha untuk meningkatkan interaksi ekonomi dan secara perlahan juga memperkuat hubungan politik.

Arab Saudi telah terjebak dalam ambisi Mohammed bin Salman dan perangkap politik Israel. Al Saud sedang mengalami krisis identitas, karena lebih memilih memperkuat hubungan dengan musuh pertama umat Islam ketimbang merapatkan barisan dengan negara-negara Muslim dan Dunia Islam. (ft/int/es)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s