Kisah Seorang Gadis Tertipu Bujuk Rayu ISIS: Mereka Membajak Islam

Nurshadrina Khaira Dhania

Nurshadrina Khaira Dhania

Fokustoday.com- Jakarta, 5 Juni 2018

Nurshadrina Khaira Dhania saat berusia 16 tahun bertekad hidup dalam naungan ISIS, lalu membujuk keluarganya untuk pergi ke Suriah pada 2015 lalu.

Namun di Suriah, mereka menemukan kenyataan yang jauh dari harapan dan bayangan tentang ideal suatu masyarakat Islam.

Ternyata, katanya, “beda banget dan benar-benar ketipu,” kata gadis yang dipanggil Nur itu. “Mereka telah membajak Islam. Kecintaan saya terhadap Islam itu luar biasa, dan mereka merusak begitu saja,” tegasnya.

Baca :

Dalam kekecewaaan itu, katanya, mereka memutuskan pulang ke Indonesia, melalui jalan yang berliku.

Setelah kembali ke Indonesia pada 2017 lalu, Nur dan keluarganya mengikuti program deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Sementara ayah dan pamannya diadili karena bergabung dengan ISIS.

Kini Nur seringkali diundang berbicara pengalamannya selama di Suriah untuk memberi gambaran tentang kenyataan yang dialaminya sendiri, kepada anak-anak muda, khususnya yang mulai terpengaruh kalangan radikal dan terkena bujukan terduga kelompok teroris.

Mengenal ISIS melalui medsos

Nur mengaku pertama kali mengenal ISIS yang telah mendeklarasikan kekhalifahan di Suriah, pada awal 2015 melalui pamannya Iman Santoso.

Sebagai remaja dia berupaya mencari tahu lebih jauh mengenai ISIS melalui internet dan media sosial. Melalui Facebook, Nur mendapatkan informasi tentang apa yang dianggapnya pengalaman indah sejumlah orang yang hidup di bawah kekhalifahan ISIS.

“Seru banget, bagus semuanya kayak kekhalifahan kayak zaman nabi gitu. Mulai dari kesejahteraan dan keadilan, semua di bawah naungan Islam dan Sunnah, semuanya akan dijamin kehidupan di dunia dan akhirat juga dapat,” ungkap Nur dalam acara Reintegrasi Sosial eks-Aktivis NII, Gafara dan Deportan/ Returni ISIS yang digelar Indonesia Muslim Crisis Center IMCC pada Februari lalu.

Nurshadrina Khaira DhaniaHak atas fotoINDONESIA MUSLIM CRISIS CENTER IMCC

Nur juga mendapatkan bahan-bahan lain soal ISIS dari Tumblr, dan kanal Diary of Muhajirah (Catatan Harian Kaum Perempuan yang Berhijrah) berisi pengalaman orang-orang ‘yang berhijrah’ ke Suriah. Dia pun mulai berkomunikasi dengan pendukung ISIS di Suriah.

“Mereka menjanjikan akan dijamin semuanya: listrik, air rumah, gratis. Dan (mnereka akan) membayar utang-utang. Paman saya waktu itu punya utang dan mereka janji akan menutupi utang itu,” kata dia.

Nur juga mulai yakin dengan propaganda ISIS yang menyebutkan untuk menjadi muslim yang sebenarnya harus hijrah ke Suriah. Nur yang saat itu duduk di kelas 2 SMA mengaku ingin berubah dan menjalankan hidup sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Bersama adiknya, Nur pun sering menonton video propaganda ISIS dari Suriah.

“Lama kelamaan saya kayak terhipnotis apa yang mereka share itu saya anggap pasti bener, walaupun orang di luar sana bilang kelompok ini begini begitu, tidak saya dengar. Bagi saya itu kayak fitnah saja,” kata Nur.

WNI ISISHak atas fotoDELIL SOULEIMAN/AFP/GETTY IMAGES
Image captionSejumlah pengungsi yang tiba di Kamp Ain Nissa, 50 km dari Raqqa.

Dia pun kemudian aktif melakukan propaganda mengenai ISIS dan kehidupan di Suriah di bawah ISIS kepada keluarganya. Awalnya, kata Nur, ia sering berbeda pendapat dengan ayahnya.

“Ayah saya kan PNS. Saya lihat dia sibuk dan agamanya kurang. Ayah suka menyampaikan pendapat yang beda, aku selalu lawan dengan dalil yang aku dapat dari kelompok ini di internet,” ujar Nur.

Tekad untuk hijrah ke Suriah pun semakin besar ketika Nur membaca kesaksian dari remaja seusianya di Eropa yang pergi ke daerah kekuasaan ISIS, antara lain tiga gadis dari Inggris.

“Tapi Allah menakdirkan lain: aku harus pergi dengan keluarga, karena aku pengen juga belajar Islam bareng mereka, hidup di bawah khilafah. Walaupun awalnya ada yang ragu tapi akhirnya kita saling menguatkan,” kata dia.

Rombongan besar ke Suriah

Nur berhasil berpropaganda ke lingkup luas di keluarganya. Ia bergabung dalam rombongan berjumlah 26 orang, termasuk dirinya sendiri, untuk berangkat ke Suriah melalui Turki: dia, ayah dan ibunya, dan sejumlah orang lain.

Salah satunya, Dwi Joko sempat menimbulkan kehebohan, karena ia adalah seorang pejabat daerah :Direktur Pelayanan Satu Pintu PTSP di Badan Pengusahaan untuk Kawasan Batam. Ia mengambil cuti pada Agustus 2015, namun tak pernah kembali lagi.

Untuk membiayai perjalanan ke Suriah, Dwi Joko menjual rumahnya. Kakak iparnya Iman Santosa alias Abu Umar, yang diduga paling mempengaruhi keluarga tersebut untuk migrasi ke Suriah, melakukan kontak dengan ISIS dan merencanakan perjalanan tersebut.

Agustus 2015, keluarga tersebut pergi ke Suriah melalui Istanbul Turki, di sana bertemu dengan penghubung yang kemudian membantu mereka menyebrang ke Suriah dan terhubung dengan militan ISIS.

Sampai di perbatasan, keluarga ini dibagi dalam beberapa rombongan agar tidak terlalu mencolok. Namun hanya 19 orang yang berhasil menyebrang ke perbatasan Suriah, selebihnya ditangkap pemerintah Turki kemudian di deportasi ke Indonesia, termasuk Iman Santosa.

“Ketika masuk aku bener-bener seneng banget, pas di perbatasan, langsung sujud syukur, karena sampai di negeri yang diberkahi. Kan sebutannya bless land tuh,” ungkap Nur.

WNI di kamp Ain IssaHak atas fotoKANTOR BERITA ANHA
Image captionKeluarga Nur tiba di kamp Ain Issa setelah meninggalkan Raqqa.

Di perbatasan mereka dijemput oleh anggota militan ISIS, dan berjalan kaki di daerah kekuasaan ISIS. Esok harinya paspor dan identitas mereka diperiksa termasuk telepon seluler dan diambil oleh ISIS.

Anggota keluarga laki-laki dan perempuan dipisahkan. Anggota keluarga laki-laki dibawa ke sebuah tempat untuk menjalani ‘pelatihan’.

“Yang perempuan itu dibawa ke sebuah asrama, sebagai tempat penampungan bagi wanita yang menunggu mahromnya sedang sekolah,” jelas Nur.

Namun begitu sampai di asrama, Nur merasa situasinya tak seperti yang digambarkan di internet.

“Sudah mulai muncul perasaan kecewa, kok beda seperti yang disampaikan di internet, mereka cerita di asrama semuanya bersih, semua akhwat saling tolong menolong dan ramah. Tapi sampai di sana kotor, banyak orangnya dan tidak tertata rapih, dan kita lihat sering ada perkelahian,” ungkap Nur.

Di sana, Nur dan kakak perempuannya beberapa kali diajak menikah oleh ‘petempur ISIS’, namun dia menolaknya.

“Waktu itu saya masih 17 tahun, kaget dan syok dan nggak mau. Tapi alhamdulillah ternyata bisa nolak,” kata Nur.

Selama empat bulan Nur dan keluarganya tinggal di asrama, kemudian diberi rumah gratis. Saudaranya yang sakit sempat juga diberikan pengobatan gratis.

Namun, janji ISIS untuk mengganti uang perjalanan dan memberikan pekerjaan tanpa harus mengikuti wajib militer tidak dipenuhi.

“Beberapa waktu kemudian yang laki-laki pulang ke rumah, dan berbeda dengan yang mereka janjikan di internet yang katanya tidak ada wajib militer: ternyata ada wajib militer,” jelas Nur.

Berupaya keluar Suriah

Beberapa bulan setelah sampai di Suriah, Nur semakin banyak menemukan gambaran kehidupan di Suriah dalam propaganda ISIS sangat berbeda dengan kenyataan.

“Dari segi keduniaan tidak ada (kesesuaian) – walaupun ada sedikit. Tapi janji -janji yang mereka omongkan di awal itu enggak ada sama sekali yang ditepati.”

“Dari segi agama banyak sekali yang bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri,” kata Nur.

Di sisi lain, ISIS mulai kehilangan wilayah kekuasaannya, terdesak oleh milisi yang dibantu pasukan koalisi pimpinan AS, dan milisi dan pasukan militer pemerintah Suriah yang dibantu Rusia.

Dia pun mulai mencari jalan untuk keluar dari Suriah. Namun keluar dari wilayah ISIS ternyata jauh lebih sulit dibandingkan ketika masuk ke sana.

WNI di kamp Ain IssaHak atas fotoAFP
Image captionPara WNI ditampung di kamp Ain Issa sebelum dipulangkan ke Indonesia.

Setelah gagal meminta bantuan KBRI, Nur dan saudaranya meminta bantuan penyelundup dengan kemampuan bahasa Arabnya yang terbatas.

“Harus diam-diam kabur dari wilayah itu. Dulu saya yang semangat mengajak keluarga untuk berangkat, jadi merasa bertanggung jawab untuk membawa mereka keluar. Saya banyak keliling bagaimana kita mencari jalan untuk keluar,” ujar Nur.

Rombongan kemudian kehilangan dua anggotanya yang disebutnya meninggal karena sakit: seorang kerabatnya, serta neneknya yang berusia 78 tahun.

Akhirnya setelah beberapa kali gagal dan juga ditipu oleh penyelundup, keluarga tersebut berhasil melarikan diri dari wilayah ISIS.

“Situasi lagi genting, jadi harus memanjat jembatan yang sudah dibom,” kata dia.

Akhirnya mereka keluar dari Raqqa melalui Irak, dan ditempatkan di lokasi pengungsian, sementara yang laki-laki sempat diinterogasi dan ditahan. Di lokasi pengungsian, Nur sempat meminta bantuan media. saat itu, BBC News Indonesia pun sempat mewawancarainya melalui telepon.

Deportan ISISHak atas fotoBBC INDONESIA
Image captionSalah satu terdakwa kasus terorisme karena pergi ke Suriah, bersama dengan keluarganya di PN Jakarta Barat.

Ayah dan paman diadili

Setelah kembali ke Indonesia, keluarga tersebut mengikuti program deradikalisasi oleh BNPT. Meski begitu, ayah Nur, Dwi Joko dan dua pamannya Iman Santosa dan Heru Kurnia harus menjalani proses hukum.

Pada Selasa 22 Mei 2018, Iman Santoso divonis empat tahun penjara karena terbukti bersalah melakukan tindak pidana terorisme dengan menjadi simpatisan ISIS di Suriah serta pendanaan terorisme. Hukuman ini lebih rendah dari tuntutan jaksa yaitu tujuh tahun penjara.

Hakim menilai Iman Santoso masih berkomitmen terhadap NKRI dan, disebutkan sempat dianiayaoleh tahanan lain karena berupaya mencegah perekrutan oleh ISIS.

Dwi Joko disebutkan sempat pula dianiaya sesama tahanan karena menjelaskan mengenai kehidupan di bawah ISIS yang berbeda dengan propaganda di media sosial. Dwi Joko dan Heru Kurnia masih diadili di PN Jakarta Barat.

Jaksa menyebutkan Dwi Joko menghadapi dua dakwaan: dengan sengaja membuat ancaman teror dengan mengikuti pelatihan paramiliter di Raqqa Suriah dan membantu dan mendanai terorisme. Dia menghadapi ancaman hukuman seumur hidup.

Menurut jaksa, Dwi Joko berangkat ke Suriah setelah mendengar ceramah Iman, yang dilaporkan dalam pengajian keluarga secara rutin, membrikan ceramah mengenai kewajiban berjihad bagi Muslim. Iman memiliki peranan mengatur perjalanan dan melakukan kontak dengan pemandu lokal. (ft/nas/es)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s