Begini Agar Kita Mudah Memahami Apa Itu Islam Nusantara

Fokustoday.com – , 2 Juli 2018.

Sebelumnya beredar pro kontra mengenai tersebarnya istilah Islam Nusantara yang menjadi heboh di masyarakat.

Islam Nusantara.jpg

Islam Nusantara

Sebagian orang tidak mempermasalahkan istilah tersebut akan tetapi ada sebagian kelompok yang menjadikan masalah atas istilah tersebut. Kelompok yang anti terhadap Islam Nusantara berusaha menggoreng dan menjadikan polemik besar tanpa mau memahami apa dan bagaimana sebenarnya Islam Nusantara itu sendiri.

Islam Nusantara itu tidak rumit kok. Ini barang yang sudah lama sekali ada, sejak Islam masuk ke Nusantara. Hanya saja, memang belum pernah disebut namanya (meskipun sudah berabad-abad dihirup aromanya dan dikunyah barangnya)

Islam Nusantara itu hanya bungkus, sedangkan isinya ya Islam itu, gak ada yang beda.

Kok Nusantara? Iya, bungkusnya Islam di kawasan Nusantara inilah yang menjadi beda dengan Islam di kawasan lain.

Kok bisa? Bisa donk, coba saja perhatikan. Hanya di Nusantara inilah ada acessories ke-Islaman yang namanya sarung dan songkok. Hanya di Nusantara ini ada bedug dan penthongan. Hanya di Nusantara ini musholla disebut dengan langgar. Hanya di Nusantara ini orang shalat disebut sembahyang.

Hanya di Nusantara ini orang Islam ber-halal bihalal ketika lebaran. Hanya di Nusantara ini orang mengenal lontong, kupat, lepet sebagai bagian dari syiar Islam.

Hanya di Nusantara ini orang mengenal Islam melalui muludan, tahlilan, muharroman, megengan, tumpengan sebagai bagian dari seremonial keislaman. Hanya di Nusantara ini pula ada penyematan kata habaib untuk penghormatan bagi para dzurriyah Rasulullah.

Jadi, Islam Nusantara hanya kemasan budaya yang dijadikan alat untuk membungkus ajaran Islam yang dijalankan. Kok pakai dibungkus-bungkus, emangnya martabak?

Iya, itulah kelihaian para wali penyebar Islam Nusantara. Karena itu pulalah Islam menjadi 90% (sembilan puluh persen) di Nusantara.

Dengan cara itulah para ulama menerapkan konsep tasamuh (toleran), tawazun (moderat), tawassuth (seimbang), tetapi tetap tegak berkepribadian Islam (i’tidal).

ada yang lagi getol ingin menghilangkan keberadaan ulama-ulama Nusantara (kiai-kiai pesantren) dengan memanfaatkan isu Islam Nusantara sebagai alat menyerang mereka. Juga dengan isu-isu Liberalisme dan Politik Internasional.

Dan, dengan membenturkan para Kiai “Ulama Nusantara” dengan kalangan Habaib. Tapi, kenapa  kok baru sekarang muncul istilah Islam Nusantara?

Jawabnya: ketika mulai banyak gerakan-gerakan dari kelompok yang baru datang hendak menghapus sejarah keberadaan para Wali 9 (Walisongo) di Indonesia dengan segala ajarannya tentang toleransi  dan lain-lainnya itu.

Karena itulah  kita mulai perlu memberi identitas keislaman kita yang bersanding dengan kultur ke-Nusantara-an kita. (DI/FT/am)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s