Diragukan Pembelaan Saudi atas Palestina, Raja Salman Angkat Bicara.

Raja Salman dan Presiden Trump

Raja Salman dan Presiden Trump

Fokustoday.com – Jakarta, 30 Juli 2018.
Kedekatan Saudi Arabia terhadap Amerika Serikat dan Israel sudah diketahui umum. Bahkan dalam urusan Palestina dan Yerusalem Timur pun, saudi lewat Muhammad bin Salman mendukung keinginan Trump. Disamping hubungan politik, ekonomi dan jalinan lainnya masyarakat Arab dan dunia Islam banyak menyayangkan kedekatan-kedekatan itu, termasuk presiden Palestina. Untuk menepis itu tersebut Raja Salman mengatakan bahwa dialah yang menentukan bukan Putra Mahkota (Muhammad bin Salman), walaupun sudah banyak diketahui banyak hal Muhammad bin Salman yang memegang kendali kerajaan Saudi Arabia sekarang ini.
Baca juga : Saudi Setuju Yerusalem Timur Ibu Kota Israel

Arab Saudi menegaskan posisi untuk tidak mendukung rencana perdamaian Timur Tengah, tanpa pembahasan soal status Yerusalem Timur atau hak pengungsi Palestina kembali ke tanah airnya yang diduduki Israel. Penegasan sikap tersebut disampaikan di tengah kekhawatiran atas sikap Putra Mahkota Mohammed bin Salman, yang diduga mendukung usulan Amerika Serikat untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina.

Dilansir kantor berita, Raja Salman secara pribadi meyakinkan Presiden Palestina Mahmoud Abbas soal dukungan Kerajaan Arab Saudi bagi perjuangan kemerdekaan Palestina.

Baca : Demi Dukungan AS dan Israel Hadapi Iran, Saudi Jual Yerusalem

Desember lalu, pejabat Palestina mengungkapkan bahwa Pangeran Mohammed, atau yang dikenal dengan julukan ‘MBS’ telah menekan Abbas untuk menerima usulan perdamaian AS setelah Donald Trump menyatakan pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

Di dalam rencana perdamaian AS, Palestina ditawari pemerintahan terbatas di Tepi Barat, tanpa hak untuk kembali bagi pengungsi Palestina yang terpaksa meninggalkan kampung halamannya di masa Perang Arab-Israel 1948 dan 1967.

“Di Arab Saudi, pengambil keputusan adalah Raja, bukan Putra Mahkota,” kata seorang diplomat senior Arab Saudi dilansir Reuters. “Kesalahan AS adalah mereka pikir satu negara bisa menekan negara lain untuk menyerah. Tidak ada pemimpin Arab yang menyerah, soal Yerusalem atau Palestina.”

Muhammad bin Salman dan Presiden Trump.jpg

Muhammad bin Salman dan Trump

Rencana perdamaian yang diusulkan Amerika Serikat menyimpang dari Inisiatif Perdamaian Arab pada 2002. Di mana negara Arab menawarkan normalisasi hubungan dengan Israel, jika negara itu bersepakat dengan Palestina dan menarik penuh pasukannya dari wilayah yang disepakati pada 1967.

Para pejabat Arab Saudi membantah adanya perbedaan antara Raja Salman, yang terang-terangan mendukung Insiatif Perdamaian Arab, dengan Pangeran Mohammed yang dalam sebuah wawancara dengan sebuah majalah AS menyebut Israel berhak hidup damai di anah mereka sendiri.

Duta Besar Palestina untuk Arab Saudi, Basem Al-Agha menyatakan Raja Salman telah menyatakan dukungan kepada Palestina dalam pertemuan terakhir dengan Abbas. “Kami tidak akan meninggalkan Anda. Kami akan menerima apa yang Anda terima dan menolak apa yang Anda tolak,” kata Al-Agha menirukan apa yang disampaikan Raja Salman kepada Abbas.

Dia menyatakan Raja Salman bahkan menyebut Konferensi Liga Arab 2018 sebagai “Pertemuan Puncak Yerusalem” dan mengumumkan bantuan sebesar US$200 juta bagi rakyat Palestina sebagai pesan bahwa Yerusalem dan pengungsi kembali dibahas. (Ft/Int/CNN/SA).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s