Kapitra Ampera: ” Ijtima’ Ulama itu Settingan Parpol”. Parpol Oportunis ?

ijtima-ulama-dan-tokoh-nasional-di-jakarta_665_374

Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional di Jakarta.

Fokustoday.com-  Jakarta, 30 Juli 2018

Calon Anggota Legislatif PDIP Kapitra Ampera menilai hasil keputusan ijtima Ulama yang merekomendasikan Prabowo Subianto berpasangan dengan Salim Segaf Al-Jufri atau Ustaz Abdul Somad sebagai capres dan cawapres 2019 hanya settingan. Menurutnya, keputusan itu sudah direncanakan sebelumnya.

Untuk pemilihan Ustaz Abdul Somad sebagai cawapres Prabowo, ia menilai hal tersebut hanya kamuflase dan hanya ingin mendongkrak nama Prabowo.

“Prabowo dan UAS (Ustaz Abdul Somad) hanya kamuflase untuk mendongkrak. UAS sendiri telah menolak,” kata Kapitra di kawasan Jakarta Selatan, Minggu, 29 Juli 2018.

Baca : Gerindra Ternyata Memang Tidak Fokus Pada Partai PBB

Sementara untuk pasangan Prabowo-Salim Segaf, kata Kapitra, hanya settingan dan dibungkus seolah-olah hal tersebut adalah putusan ulama.

“Mereka setting. Jadi menjustifikasi seolah-olah putusan ulama. Jadi koalisi umat harus ikut karena ulama telah memutuskan. Ini trik dan bukan pure (murni) pilihan. Pasti sudah ada pembicaraan dan dibawa kesana. Itu tidam mewakili kita. Itu sudah keinginan mereka deal partai bukan keputusan ulama,” katanya.

Ia pun mempertanyakan alasan munculnya nama Salim Segaf menjadi cawapres. Apalagi hasil keputusan ada lima nama rekomendasi capres dan cawapres yaitu Habib Rizieq, Zulkifli Hasan, TGB, Yusril Ihza Mahendra dan Prabowo Subianto.

Baca : Kapitra: Ini Seolah-olah Aksi Bela Islam itu Dukung Ketua Parpol Untuk Jadi Presiden

“Kenapa Habib Salim. Kenapa tidak yang lain,” katanya.

Lebih lanjut, Kapitra yang mengklaim masih menjadi kuasa hukum Habib Rizieq menyebut Salim Segaf memang seorang ulama. Namun, Salim merupakan orang partai politik yang berorientasi kepada kepentingan politik.

“Dia orang partai. Ulama tapi masuk parpol dan memperjuangkan partainya. Kita di jalanan kena gas air mata dan kriminalisasi. Memang Salim Segaf melakukan apa? Kita tidak meminta itu dan kita inginkan HRS atau paling tidak dari dalam ulama aktivis bela Islam (jadi capres atau cawapres). Kan banyak yang lain,” katanya. (ft/nas/es).

Baca : Gerindra Akan Pelajari Dulu Cawapres Rekomendasi Ijtimak Ulama

Sikap mereka ini juga sudah bertolak belakang dengan keputusan MUI. Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang digelar di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 7 hingga 10 Mei 2018 memutuskan sejumlah perkara. Salah satunya, tidak dibenarkannya praktik politik dengan memanipulasi agama. Islam tidak membenarkan praktik politik yang menjadikan agama hanya sekadar dijadikan sebagai alat propaganda atau hanya untuk memengaruhi massa.

Pertemuan itu di fasilitasi oleh GNPF, Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF Ulama). Yang hadir mantan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, lalu Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto. Disusul pula Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Sandiaga Uno. Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra juga datang. Disusul Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan dan. Nampak pula Sekjen Partai Berkarya Priyo Budi Santoso. Emang siapa mereka. Apalagi dalam acara itu pidato pertama kali adalah Anies Baswedan. Emang dia ulama? Kapan dia belajar agama ? (ft/nas/es)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s