Pilpres 2014 Awal Ledakan Kebencian Bermotif Politik. Pilkada DKI Contoh Yang Paling Brutal.

radikal1

Pilgub DKI, yang sering disebut sebagai Pilgub paling brutal dan kotor,

Fokustoday.com- Jakarta, 30 Juli 2018

Ada beberapa hal yang sekali dilepas, dia akan bergerak liar. Ide, kasih sayang, dan kebencian.

Mungkin itu sebabnya bapak-bapak perumus demokrasi modern meletakkan liberte, egalite, dan fraternite; kebebasan, kesamaan derajat, dan persaudaraan; sebagai titik awal perjuangan mereka.

Demokrasi harus dilandasi semangat-semangat ini. Menjamin kebebasan pribadi lepas pribadi, memberi dan memperlakukan semua dengan setara, dan memandang semua sebagai saudara. Idealisme ini tidak memberi ruang pada kebencian, apalagi memprovokasi perbedaan menjadi kebencian demi kepentingan tertentu.

Baca : Direktorat Siber Polri Tangani 95 Kasus Ujaran Kebencian di Medsos Per Januari- Juni 2018

Demokrasi menghargai perbedaan. Itu liberte. Bebas. Silakan berbeda. Di tengah perbedaan, demokrasi tidak membedakan derajat. Itu egalite. Mayoritas, minoritas, kaya, miskin, semua tidak relevan dalam penilaian dalam demokrasi. Nah, di tengah perbedaan dan kebebasan untuk berbeda, tetap dalam pola pikir persaudaraan. Itu fraternite. Kalian boleh beda, kalian bisa jadi cuma segelintir, tapi *kita* tetap bersaudara.

Baca : SBY-Prabowo Ikat Koalisi, Nasib Partai “Allah” jadi Kurcaci.

Tapi semua berubah sejak Negara Api menyerang, eh, sejak 2014.

Pilpres 2014 adalah ledakan awal penggunaan kebencian untuk menggiring dukungan ke pihak tertentu. Sampai sekarang sisa-sisa kebencian ini masih beredar. Menular sampai ke Pilgub DKI, yang sering disebut sebagai Pilgub paling brutal dan kotor, dan masih terdengar sisanya di Pilkada serentak tempo hari di Jawa Barat.

Kebencian itu seperti bom, seperti virus, dia tidak memandang siapa yang jadi korbannya, siapa yang ditularinya, siapa yang ikut meledak bersamanya. Dia tidak punya tomboll on-off sehingga bisa dikendalikan sesuka hati. Sekali dilepas, dia akan menginfeksi orang-orang yang dilewatinya. Dan dia juga tidak peduli siapa yang akan jadi korban ledakannya, orang yang melepaskannya sekalipun.

Baca : Agenda-Agenda Politik PKS yang Mengancam NKRI

Ini sebabnya kebencian, apalagi yang diawali dari fitnah, tidak seharusnya menjadi komoditas politik.

Sekarang, politikus figur publik NW jadi korban kebencian. Seperti yang saya bilang tadi, kebencian tidak memandang siapa korbannya.

Dia tidak peduli pihak mana lawan pihak mana, dia hanya akan menginfeksi, membuat ledakan, dan menular ke orang lain.

Ini sebabnya para cendekiawan, filsuf, rohaniwan/wati, dan banyak guru-guru dunia mengajarkan untuk mengendalikan kebencian, bukan memanfaatkannya untuk kepentingan tertentu. Sekali dia dilepas ke alam liar, dia bukan hanya akan berbalik kepada si pelepas, namun juga akan berkembang biak dan merusak lebih banyak.

Pengen ganti presiden adalah hak. Walaupun masih bingung mau diganti siapa. Tapi ada jalur dan prosedur. Bukan dengan cara absurd seperti nongkrong di depan warung martabak.(ft/opini/es)

Oleh Andi Sugiarta Huang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s