Muharram 1440 H: Hijrah, Hijriyah dan Ingatan Momentum Perjuangan Bangsa

muharram.jpgFokustoday.com- Banyumas, 11 September 2018

September 622 M. Setelah kurang lebih berdakwah selama 13 tahun di Makkah, Nabi Muhammad memutuskan untuk berhijrah setelah menerima perintah langsung dari Tuhan. Selama tinggal di kota kelahirannya itu, ia berkali-kali menerima tekanan baik fisik maupun mental dari kaumnya, Quraisy. Tekanan yang sama dirasakan oleh para sahabatnya yang memutuskan menerima ajakan beliau untuk bertauhid. Beberapa di antaranya bahkan harus merelakan nyawanya seperti kedua orangtua Ammar bin Yassir, Sumayyah dan Yasir.

Beratnya tekanan demi tekanan itu dicatat di dalam Alquran QS Al-Anfal (8):30. “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.”


Dan, pada puncaknya adalah upaya pembunuhan kepada beliau pada bulan itu. Nabi Muhammad sebelumnya sudah memerintahkan para sahabat berhijrah terlebih dahulu. Di Makkah hanya tersisa beliau, sahabat Abu Bakar dan saudara sepupunya Ali bin Abi Thalib. Tempat yang ditujunya terletak di sebelah utara kota Makkah, berjarak sekitar 600 km. Kota itu dulunya dikenal sebagai sebuah oasis di tengah padang pasir yang lebih akrab disebut dengan nama Yatsrib. Yang kemudian diganti namanya menjadi Madinatun Nabi, kotanya Nabi. Lebih populer dengan sebutan Kota Madinah.

Terdapat kisah bahwa para tetua suku di Makkah berkumpul merencanakan pembunuhan itu. Karena adat tuntut-balas yang berlaku, maka setiap suku memutuskan untuk mengirimkan pemuda terbaiknya sebagai algojo. Dengan begitu jika keluarga Nabi hendak menuntut balas atas darah yang tertumpah maka mereka harus berhadapan dengan semua suku. Yang tentu saja hal itu sulit dilakukan.

Mereka merencanakan tapi Tuhan sebaik-baiknya pembuat rencana. Tuhan menyelamatkan Nabi dari upaya pembunuhan itu. Bersama dengan Abu Bakar, sahabatnya yang paling jujur dan setia dan kelak selalu menjadi wakilnya hingga menggantikannya sebagai khalifah pertama umat Islam, mereka berjalan kaki menembus gelapnya malam. Pengejaran pun dilakukan oleh para eksekutor itu. Namun, keduanya selamat sampai ke Madinah dan disambut meriah oleh para sahabat yang lebih dulu berhijrah dan juga penduduk Madinah yang telah berikrar menjadi pelindung dan pendukung Nabi.

Bertahun-tahun kemudian. Nabi telah wafat meninggalkan kegemilangan sejarah Islam. Khalifah Abu Bakar pun telah wafat dan digantikan oleh sahabat utama yang lain, Umar bin Khattab. Khalifah kedua dalam sejarah Islam dari 4 khalifah yang termasuk khulafa-ul-rasyidin itu dikenal sebagai pemimpin yang meletakkan fondasi administrasi modern. Salah satunya adalah pembuatan kalender Islam atau yang saat ini dikenal dengan kalender hijriyah.

Suatu kali Khalifah Umar bin Khattab mengirimkan surat kepada Abu Musa Al-As’ari, gubernur Basrah, bawahannya. Sang gubernur mengeluh kepada Umar karena surat-surat itu tidak bertanggal. “Telah sampai kepada kami surat-surat dari Anda, tanpa tanggal.” Abu Musa kebingungan karena tanpa adanya penanggalan ia kesulitan mengadministrasi surat-surat itu sekaligus memverifikasi waktunya.

Mendengar hal itu Umar bin Khattab segera mengumpulkan para sahabat Nabi yang masih hidup dan meminta saran. Berbagai usul mengemuka. Paling tidak dicatat ada 4, yaitu penanggalan dimulai sejak kelahiran atau kematian Nabi, pengangkatan kenabian yaitu ketika Nabi berusia 40 tahun, menggunakan kalender yang saat itu sudah ada yaitu kalender Romawi, atau berpatokan pada hijrah Nabi. Akhirnya, musyawarah itu menghasilkan kesepakatan bahwa awal mula kalender Islam dimulai sejak Nabi hijrah dan awal tahun ditetapkan setiap 1 Muharram.

1 Muharram Tahun 1 H bertepatan dengan 16 Juli 622 M. Peristiwa penetapan kalender hijriyah ini terjadi pada tahun 638 M atau tahun ke 17 H.

***

Ada yang menarik pada 1 Muharram 1440 H tahun ini. Tanggal 1 bertepatan dengan bulan September. Bulan yang sama ketika Nabi berhijrah. Sebagaimana diketahui, 1 Muharram tahun 1 H bertepatan dengan 16 Juli 662 M, atau maju sekitar 2 bulan di kalender masehi karena Nabi berhijrah di bulan September 662 M. Maka menyelami apa yang terjadi pada bulan September pun menjadi hal menarik lainnya. Terutama peristiwa-peristiwa yang terjadi pada umat Islam.

Tapi, sebelum itu mari kita tengok dulu sejarah bulan September itu sendiri. September adalah bulan ketujuh dalam penanggalan Romawi awal. Namun, karena terjadi perubahan awal tahun dari bulan Maret ke Januari maka September menjadi bulan kesembilan meskipun arti dari September itu sendiri adalah ketujuh.

Beberapa peristiwa menarik yang menghiasi ingatan umat di bulan September di antaranya adalah Peristiwa G 30 S/1965 dan pemboman menara kembar WTC pada 11 September 2001 yang dampaknya mengubah peta politik dunia Islam hingga hari ini.

Kembali ke masa saya sekolah dasar di medio 90-an. Saya mendapati doktrin sejarah bahwa G 30 S adalah pengkhianatan. Masa itu Soeharto masih menjadi presiden. Narasi yang dijejalkan ke ingatan publik dapat dinikmati setiap 30 September dengan adanya kewajiban pemutaran film Pengkhianatan Gerakan G30S/PKI di televisi. Ingatan publik diindoktrinasi bahwa Soeharto adalah pahlawan yang menumpas para pengkhianat. Film yang diproduksi pada 1984 dan disutradari Arifin C. Noer itu adalah satu-satunya narasi yang ada saat itu, hingga muncul narasi lain saat Soeharto memutuskan berhenti dari jabatannya sebagai presiden setelah berkuasa selama 32 tahun, pada 1998.

Saya juga mendapati di pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) yang diajarkan di madrasah-madrasah saat itu bahwa komunisme adalah musuh Islam. Salah satu kehebatan umat Islam Indonesia, sebagaimana dinyatakan dalam pelajaran SKI, adalah kemampuan menumpas gerakan komunisme. Kita tidak diajari berpikir kritis bagaimana membaca peristiwa sejarah. Tentang korban-korban yang kemudian berjatuhan di banyak tempat sebagai akibat dari propaganda pengkhianatan “G30S/PKI” yang dilancarkan pemerintah saat itu. Tentang peran pemuda-pemuda Islam yang dijadikan senjata menumpas saudaranya sesama anak bangsa karena perbedaan ideologi yang itu diulang dan terus diulang menjadi kebenaran yang sulit dibantah.

Saat itu tidak pernah ada narasi-narasi lain yang berani menyelisihi versi resmi pemerintah Orde Baru bikinan Soeharto. Tidak pernah misalnya saya mendapati cerita tentang seorang ajudan Sukarno yang ditangkap, dipenjarakan tanpa proses pengadilan yang layak, dan berbagai kisah serupa. Yang kemudian setelah dibebaskan ia bertrafnsformasi menjadi tokoh pendidikan yang sangat berkontribusi bagi sekolah-sekolah Islam. Bahwa banyak hal yang dulunya dicap hitam-putih ternyata tidak sepenuhnya benar karena ternyata masih ada warna-warna lain yang bisa digunakan untuk mengisi lembar kehidupan seseorang.

Atau, tentang peristiwa 11 September 2001. Peristiwa yang kemudian dijadikan alasan bagi proyek “Perang Melawan Teror” yang ternyata dimaksudkan untuk melegitimasi kebijakan Amerika Serikat untuk menyerang negara-negara berpenduduk Islam seperti Irak dan Afghanistan. Sampai saat ini bahkan kita tidak pernah yakin bahwa senjata pemusnah massal yang dituduhkan kepada Irak benar-benar ada. Yang tersisa kemudian adalah kehancuran total wilayah itu yang kemudian konfliknya menyebar ke negara di sekitarnya seperti Libia, Mesir, Syria, dan lain-lain. Iran dan Turki bahkan saat ini sedang mengalami gejolak ekonomi yang luar biasa. Tentunya semua itu tidak bisa dilepaskan dari peristiwa 11 September 2001 sebagai pemicunya.

***

Hijrah sejatinya adalah berpindah dari satu keadaan ke keadaan yang lain. Bisa diartikan tempat atau perilaku, atau keyakinan. Hijrah sangat bergantung kepada niat atau tujuan di baliknya. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad menjelaskan tentang hubungan antara amal dan hijrah. Bahwa setiap amal perbuatan ditentukan dari niatnya. Barangsiapa berhijrah secara ikhlas karena Allah maka baginya pahala. Sebaliknya, jika hijrahnya karena tujuan dunia maka ia akan mendapatkan apa yang diinginkannya di dunia sedangkan di akhirat tidak akan mendapatkan apapun.

Belakangan ini kata hijrah mengalami penyempitan makna. Hijrah kini diasosiasikan dengan perubahan penampilan. Para artis yang semula hidup glamor dan membuka aurat tiba-tiba mengubah gaya hidupnya menjadi lebih islami dan menutup auratnya. Mereka mengaku telah berhijrah. Hijrah direduksi menjadi tampilan jasadiyah semata. Tentu saja ini bukan hal buruk. Hijrah maknawiyah seringkali didahului oleh perubahan-perubahan fisik. Tentu perlu waktu bagi seseorang yang mengaku berhijrah agar bisa sampai ke tahapan hijrah maknawiyah.

Yang selanjutnya perlu dilakukan adalah istiqamah atau konsisten di atas nilai-nilai hijrah sebagaimana diperjuangkan oleh Nabi saat memutuskan menetap di Madinah 14 abad yang lalu. Niat hijrah hanyalah mengharap keridaan Tuhan semata, bukan karena dipicu oleh kepentingan duniawi.

Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1440 H.

Hilmi Amin Sobari esais, alumni Ponpes MWI Kebarongan, Banyumas, Jawa Tengah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s