Makar Berkedok Tauhid : Isu Pembakaran Bendera HTI Hingga Pembusukan NU dari Dalam

bendera4

Bendera ( Ilustrasi Youtube)

Fokustoday.com- Jakarta, 24 Oktober 2018

Sejak kemarin, pendukung Prabowo ramai bahas pembakaran bendera HTI di Garut, yangg dilakukan kader Banser. Anehnya, pendukung Prabowo mengatakan bendera itu bendera tauhid, padahal terang benderang itu bendera HTI, organisasi terlarang di Indonesia.

Pendukung Prabowo sekuat tenaga mengatakan bahwa bendera yg dibakar bukanlah bendera HTI, melainkan bendera Tauhid, simbol perjuangan Rasulullah. Sudahlah, ini bukti HTI pas melakukan aksi demonstrasi pakai bendera yg sama. Masih mau ngelak?

Pertanyaannya, dari semalam penggiat HTI mengapa serentak hembuskan isu #BubarkanBanser? Bahkan pagi ini, di kota Bogor, Banten, Solo sudah ada aksi demonstrasi. Apakah ini terjadi secara spontan tanpa komando? Mustahil.

Baca :

Mari kita amati lebih jauh, mengapa aksi itu harus digelar di Solo yang berjarak= ratusan km dari Garut? Sederhana saja, Solo adalah salah satu embung tempat sel-sel teroris ISIS bernaung. Iya, ISIS yangg aksi kejinya di Suriah didukung oleh HTI.
Sebelum bahas skenario mereka, perlu diluruskan bahwa klaim bendera HTI sebagai bendera Tauhid atau Panji Rasululullah adalah pembodohan publik. Faktanya, hadis yang mereka kampanyekan tentang bendera Tauhid itu Hadist Dhaif (palsu).
Perlu diketahui, di Islam ada Kutubus-Sittah,yaitu 6 hadis yang dapat dipercaya, yaitu: H.R. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, An Nasa’i, Abu Dawud, dan Ibnu Majah. Sanad hadis di luar itu sangat lemah,bahkan cenderung palsu. Dan hadis bendera tauhid itu Ibnu Abbas.
Bahkan Hadits Thabrani yang didengungkan pendukung Prabowo dan HTI, bahwa bendera Rasulullah hitam dan putih, dinilai para ulama sebagai hadits palsu. Ahmad bin Risydin, salah satu perawi H.R. Thabrani dianggap Imam Dzahabi (ahli sejarah Islam dari Turkmenistan) sebagai pemalsu hadits.
Terlalu banyak versi panji Rasulullah menurut berbagai kitab. Ada yang mengatakan bendera saat itu bukan hitam putih, melainkan kuning, merah, hijau. Pun ada yang katakan bendera panji Rasulullah saat itu hanya polosan saja, tidak ada tulisannya.
Jika para penggerak HTI katakan benderanya adalah Panji Rasulullah, itupun sangat janggal, karena jika memperhatikan manuskrip Quran Kuno era saat itu (khulafa’ur rasyidin) hurufnya masih kaku dan polos, tanpa titik dan syakal seperti bendera yang HTI sebut Tauhid itu
Namun yang jelas dan pasti, bendera yang serupa bendera HTI itu digunakan pemberontak di Suriah, juga digunakan Al-Qaeda. Mereka membunuh org tak berdosa dan berlindung dibalik bendera yang mereka klaim tauhid, untuk membenarkan tindakan keji mereka.
Dan kalau konteks saat itu Rasulullah mengibarkan bendera dalam saat perang, lantas mengapa HTI dan pendukung Prabowo terus mengibarkan bendera itu di Indonesia? Apakah mau situasi Indonesia yang sudah damai ini menjadi medan perang seperti zaman Nabi?
Kembali ke kejadian di Garut. Pertanyaan pentingnya, kenapa ada bendera HTI yg berkibar di beberapa tempat di Jawa Barat saat perayaan hari santri? Ingat, pengibaran bendera di sela-sela acara besar NU itu juga terjadi di Bandung Barat dan Tasikmalaya.
Jelas saja, karena memang sedari awal HTI dan pendukung Prabowo tak ingin adanya hari santri. Saat Pilpres 2014, @Fahrihamzah timses Prabowo-Hatta menyebut hari santri sinting. Jangan lupa, Fahri Hamzah juga salah satu yang terdepan membela HTI saat dibubarkan.
Sebenarnya, gerombolan HTI dan perongrong bangsa dengan kedok agama sudah lama mengincar momen yang tepat untuk meruntuhkan wibawa @NU. Agar tujuan mereka menegakkan khilafah berhasil, mereka mau runtuhkan terlebih dulu benteng Islam pembela NKRI, dan organisasi itu adalah NU.
Mengapa cara itu harus dilakukan? Karena ketika nama NU sudah hancur di masyarakat, kelompok radikal, eks HTI yang kini berada di gerbong @prabowo akan mudah menyebarkan paham tunggal yang mudah mengkafir-kafirkan orang, seperti yang mereka lakukan selama ini.
Selama ini, usaha gerombolan HTI menyebar paham radikal dalam menerjemahkan Islam terbentur oleh NU, yaitu Islam rahmatan lil alamin, Islam yang mengajarkan kedamain, persatuan, toleransi, dan menjunjung NKRI.
NU juga terdepan melawan dakwah ustad radikal yang menyebar perpecahan, bahkan gerombolan yang ingin ganti Pancasila dengan khilafah. Karena NU adalah organisasi Islam terbesar dan berperan penting pada proses kemerdekaan, Masyarakat pun lebih percaya NU dibanding HTI dan gerombolannya.
Setelah HTI dibubarkan, para pendukungnya sadar, jalan satu-satunya untuk mengembalikan tujuannya, yaitu mendirikan khilafah hanya bisa dilakukan jika NU sudah tidak lagi dipercaya publik. Memancing NU melakukan hal yang tidak patut pun mereka terus lakukan.
Sebelum Garut, provokasi HTI sudah dilakukan,salah satunya saat Habib Lutfi bin Yahya, cucu Rasulullah yang juga tokoh muslim berpengaruh di dunia mengadakan pengajian di Tangerang. Saat itu bendera HTI berkibar, dan Habib Lutfi segera minta bendera itu diturunkan.
 

Upaya provokasi barisan HTI dan gerombolan untuk hancurkan NU di mata masyarakat tak kunjung berhasil, mereka pun konsisten melakukan itu. Di hari santri ia melakukan cara yang sama, mengibarkan bendera HTI yang sudah dilarang di tengah acara kader NU. Provokasi yang sistematis.
Kali ini, provokasi mereka (barisan HTI dan kubu Prabowo) berhasil di Garut. Kader muda NU yang masih berapi-api ingin melawan khilafah terbawa emosi membakar bendera HTI. Momen yang ditunggu-tunggu barisan HTI dan kubu Prabowo akhirnya datang. Mereka tidak mau menyia-nyiakannya.
Sejak semalam isu bubarkan Banser mereka hembuskan, bersama sekutu politiknya yang sama-sama radikal @FPI. Dilanjutkan oleh aksi yang dilakukan para eks kader HTI di beberapa kota. Mereka mencoba menggiring opini, bahwa NU menghina Al-Qur’an, Rasulullah, dan Islam
Usaha menggiring opini tidak hanya via medsos,tapi dibantu @Tvone, yang memberitakan dengan provokatif. Sejak siang pukul 12.00, hingga 18.00 judul berita mereka “Pembakaran Bendera Tauhid”, bukan pembakaran bendera HTI. Padahal, jelas hadits bendera tauhid itu palsu!
Kenap TV one terlibat begitu dalam? Tentu saja, karena media itu dimiliki Bakrie Group, pendukung utama Prabowo di 2014, dan sejak Jokowi memimpin kartel mereka banyak yg tersendat. Mereka risih dengan Jokowi yang tidk berpihak kepada konglomerat seperti mereka.

Di NU Islam lebih banyak tampil dalam wajah kultural: maulidan, haul, pembacaan Barzanji, halal bihalal, slametan, sunatan, akikah, tahlilan, serta ibadah dan moralitas sehari-hari. Ia membumi dalam keseharian budaya dan harmoni masyarakat. Kalimat tauhid lebih sering berkibar di hati dan bibir tulus jamaah ketimbang jadi jargon politis kelompok. Kalau pun harus ada kain bertuliskan kalimat tauhid, cukuplah itu menempel di kain penutup keranda jenazah, kendaraan terakhir manusia yang entah benar-benar membawa tauhid di hatinya atau tidak. Wallahu a’lam. (ft/opini/es)

Sumber : Joxzinjoga dan Nu.or.id,

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s