Jurus Paradoks Prabowo Menggoyang Jokowi Disambar Kubu Petahana

paradoks

Tulisan Prabowo Tentang Isu-Isu Ekonomi Indonesia

Fokustoday.com- Jakarta, 22 November 2018

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sejak tahun 1949 hingga kini disebut Prabowo 3,4 juta persen.

Di depan warga Kampung Sukaraja, Desa Jatisari, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, calon presiden Prabowo Subianto, seperti di tempat lain dalam kampanye Pilpres 2019 ini, menyampaikan pidato secara berapi-api. Prabowo kembali menyinggung-nyinggung kondisi negara yang menurutnya cukup ironis.

Indonesia, ujarnya, adalah negara kaya raya. Namun kekayaan itu tidak tinggal di Tanah Air, melainkan mengalir dan disimpan di luar negeri. Orang Indonesia yang menikmati kekayaan itu pun hanya segelintir, hanya 1 persen. Sedangkan 99 persen lainnya hidup dalam kondisi yang pas-pasan.

“Kekayaan bangsa Indonesia tidak tinggal di Indonesia. Kekayaan bangsa Indonesia mengalir ke luar. Karena itu, tidak mungkin Indonesia sejahtera. Tidak mungkin Indonesia kuat, karena yang nikmati kekayaan hanya segelintir orang. Kurang dari 1 persen, dan itu bukan Prabowo Subianto yang bicara, itu adalah Bank Dunia dan itu saya tuangkan dalam buku saya, ‘Paradoks Indonesia’,” kata Prabowo.

Buku ‘Paradoks Indonesia’ dalam versi Braille
Foto: Samsudhuha Wildansyah/detikcom

 

Kemudian, hingga sekarang ini, menurut Ketua Umum Partai Gerindra tersebut, kebijakan impor terus diambil oleh pemerintah. Padahal, contohnya beras, Indonesia seharusnya bisa swasembada karena negara ini merupakan negara agraris. “Saya merasakan negara kita berada dalam arah yang tidak baik, dalam arah yang keliru,” ucap Prabowo dalam kampanye yang digelar pada Sabtu, 17 November 2018, itu.

Pemilih baru akan berpaling bila menganggap petahana atau Jokowi gagal atau jeblok kinerjanya.”

Bekas Danjen Kopassus itu mengaku berbicara berdasarkan data yang dihimpunnya selama bertahun-tahun. Temuan itu, dan fakta-fakta lainnya tentang Indonesia, telah dia uraikan dalam buku berjudul ‘Paradoks Indonesia’. Ia berharap warga Garut mau membaca buku karyanya tersebut.

Baca : Pengemudi Ojek: Mirislah Dengan Yang Suka Memeras Rakyat, Terkait Pidato Prabowo

Diluncurkan dalam acara deklarasi dukungan koalisi buruh kepada cagub-cawagub DKI, Anies Baswedan-Sandiaga Uno, 1 April 2017, buku setebal 138 halaman itu kini tampaknya menjadi andalan Prabowo dalam kampanye pilpres. Bukan hanya di Garut, sebelumnya buku itu selalu diedarkan Prabowo dalam berbagai kesempatan.

Pada 11 Oktober 2018, buku itu dibagi-bagikan ketika Prabowo hadir dalam rapat kerja nasional Lembaga Dakwah Islam Indonesia. Sebulan kemudian, Prabowo juga menenteng 1.500 eksemplar buku itu saat bersilaturahmi ke Masjid Al-I’tisham, Tanah Abangm Jakarta.

Bahkan, untuk menjangkau pemilih potensial yang lebih luas, buku itu diterbitkan dalam versi Braille pada 16 November 2018. Adik Prabowo, Hashim Djojohadikusumo, menyerahkan langsung buku itu secara simbolis kepada Persatuan Tunanetra Indonesia.

 

Wakil Sekjen DPP Gerindra Andre Rosiade
Foto: Zhacky/detikcom

Hampir seluruh pidato Prabowo menyitir isi buku bersampul penambang belerang di Gunung Ijen itu. Fakta angka-angka yang disajikan dalam buku itu terbilang cukup membuat terenyak. Namun tidak jarang pula yang kemudian menjadi kontroversi dan ‘disambar’ oleh kubu petahana Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Baca : Agenda Keji Wahabi Dibelakang Prabowo. Umat Harus Tahu !

Menilik buku “Paradoks Indonesia”, uraian tentang kekayaan itu sebetulnya adalah 1 persen orang terkaya di Indonesia menguasai 49 persen kekayaan di RI. Di situ, bukan data Bank Dunia yang terkutip Prabowo, melainkan data dari lembaga keuangan Credit Suisse tahun 2016, yang menyebutkan gini ratio Indonesia mencapai 0,49. Gini ratio adalah indikator utama kesenjangan kekayaan di suatu negara.

“Jika populasi di Indonesia ada 250 juta jiwa, artinya hampir 50 persen kekayaan orang Indonesia dimiliki oleh 2,5 juta orang saja. Sisanya dibagi antara 247,5 juta jiwa,” kata Prabowo.

Kemudian, di sektor keuangan, Prabowo menulis, utang Indonesia, yang terdiri atas pemerintah dan swasta, pada 2016 lebih dari Rp 4.000 triliun berdasarkan data Kementerian Keuangan. Angka ini kemudian tampaknya dimutakhirkan Prabowo ketika berpidato pada Juni 2018. Ia menyebut gabungan utang Indonesia mencapai Rp 9.000 triliun.

Sedangkan pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, Prabowo bilang, terjadi 3,4 juta persen bila dibandingkan dengan pelemahan rupiah pada tahun 1949. Tahun 2015, nilai tukar rupiah Rp 13 ribu per dolar AS. Sedangkan pada saat Indonesia berada di zaman revolusi, rupiah amat gagah, Rp 1 setara dengan 3,8 dolar AS.

 

Mengenai pendidikan, kata Prabowo dari sumber data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2016, dua dari tiga ruang kelas rusak. Hal itu tentu menghambat pendidikan. Kemampuan membaca, matematika, dan sains anak-anak Indonesia di urutan ke-65 dari 73 negara yang disurvei oleh lembaga Programme for International Student Assessment pada 2015.

Soal perut dan gizi anak Indonesia, Prabowo bilang, satu dari tiga anak Indonesia mengalami stunting karena persoalan gizi buruk. Angka di Nusa Tenggara Timur lebih parah, yakni dua dari tiga anak mengalami stunting. Angka itu diambil dari data Bank Dunia pada 2016.

 

Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun
Foto: dok. detikcom

 

Bicara korupsi, mengutip data Sekretariat Negara tahun 2016, 51 bupati/wali kota, 17 gubernur, dan 25 menteri berada di penjara. Sedangkan untuk ‘membeli’ pengaruh atau jabatan di Indonesia, mulai lurah hingga presiden, setidaknya butuh Rp 11,8 triliun. “Angka di atas adalah taksiran penulis,” kata Prabowo.

Baca : Kejaksaan Agung Akan Kejar Aset Yayasan Supersemar Sampai ke Luar Negeri

Wakil Sekretaris Jenderal DPP Gerindra Andre Rosiade mengatakan buku itu sengaja diedarkan Prabowo untuk menyadarkan masyarakat tentang kondisi Indonesia yang sebetulnya. “Itu semua gambaran pemikiran Pak Prabowo tentang cita-cita Indonesia mau dibawa ke mana,” kata Andre kepada detikX, Rabu, 21 November 2018.

Menurut Andre, sementara Prabowo berbicara secara makro dalam kampanye, Sandiaga, cawapres Prabowo, melengkapi dengan gambaran mikro. “Bang Sandi tetap gunakan data, tapi memang tidak semasif Pak Prabowo. Nanti program dan data lebih detail akan kita keluarkan pada Januari, pas debat,” tuturnya.

Gencarnya Prabowo mengumbar data-data ironisnya Indonesia itu, menurut Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun, bertujuan untuk meyakinkan masyarakat bahwa pemerintahan Jokowi telah gagal. Selama data-data yang digunakan Prabowo itu akurat dan tersebar secara massif, hal itu dapat menggoyahkan elektabilitas petahana.

“Bahkan jika petahana, dalam hal ini Jokowi, kinerjanya biasa-biasa saja, karakter publik umumnya masih akan memilihnya kembali. Pemilih baru akan berpaling bila menganggap petahana atau Jokowi gagal atau jeblok kinerjanya,” kata Rico kepada detikX.

Rico menyarankan tema kinerja pemerintahan Jokowi ini lebih baik dipilih Prabowo dibanding memainkan politik identitas. Hanya, ia mengingatkan, apabila data-data itu tidak kredibel, bisa berbalik ke Prabowo sendiri. “Sebaiknya Prabowo dan tim berpikir dan recheck 100 kali sebelum mengeluarkan data dan argumen negatif tentang pemerintah,” katanya.

 

Presiden Joko Widodo
Foto: Ray Jordan/detikcom

 

Pemerintah Jokowi tidak tinggal diam atas kritik Prabowo tersebut. Badan Pusat Statistik (BPS), misalnya, menjawab, angka kemiskinan di Indonesia untuk pertama kalinya turun di bawah 2 digit alias 10 persen pada 4 tahun pemerintahan Jokowi, yaitu 9,82 persen. Adapun Kemenkeu menyebut utang Indonesia hingga saat ini Rp 8.500 triliun, bukan Rp 9.000 triliun.

Jokowi sendiri ikut berkomentar mengenai serangan Prabowo, terutama terkait kemiskinan itu. Jokowi mengatakan, setiap tahun jumlah mobil yang terjual 1,1 juta unit. Sedangkan sepeda motor sebanyak 6,5 juta.

“Pakai apa beli sepeda motor sama mobil? Ya pakai uang, kan. Hal seperti ini harus dijelaskan. Kalau tidak dijelaskan, nanti dipikir kita berada pada posisi semakin miskin, ekonomi semakin tidak baik. Penjelasan seperti inilah yang diperlukan dalam rangka kita Pileg dan Pilpres 2019,” ujar Jokowi, Sabtu, 10 November. (ft/detik/com)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s