Prabowo Kena Tipu Kaum 212. Berikut Analisisnya ?

Calon presiden Prabowo Subianto menghadiri acara peringatan Hari Disabilitas Internasional di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu, 5 November 2018. TEMPO/Budiarti Utami Putri.

Fokustoday.com- Jakarta, 8 Desember 2018

Prabowo sempat ragu untuk menghadiri reuni akbar alumni 212. Mengapa? Karena Prabowo ingin konsisten menjaga jarak dengan kaum ekstrimis kanan, kaum pemuja agama berlebihan. Kaum ekstrimis kiri adalah mereka yang cuek terhadap agama, kaum atheis, tidak bertuhan. Sedangkan kaum tengah adalah mereka yang nasionalis yang masih punya sense of religion.

Sebelumnya Prabowo berani menolak 9 cawapres PKS. Lalu berani juga menolak cawapres hasil ijtima ulama. Prabowo tidak tunduk pada tekanan PKS. Pun pada rekomendasi Ijtima ulama. Prabowo lebih memilih Sandiaga Uno yang diklaim sebagai the new santri dan the new ulama. Dalam hal ini Prabowo patut dipuji. Ia tidak tunduk pada kaum puritan, kaum ekstrimis kanan.

Prabowo ingin dikenang sebagai nasioanalis, Pancasilais. Ia pernah mengeluh atas tuduhan bahwa dirinya mendukung HTI. Ia menegaskan bahwa dirinya adalah sosok yang nasionalis, sosok tengah yang kental dengan ke-Indonesiaan. Ia sama sekali tidak mendukung HTI.

Beberapa hari menjelang reuni akbar 2 Desember 2018 itu, Prabowo yang tadinya ragu untuk ikut, akhirnya memutuskan hadir. Keputusan Prabowo itu mengagetkan saya. Ternyata Prabowo rela plin-plan dan gampang terpengaruh oleh orang-orang di sekitarnya.

Keputusan Prabowo untuk ikut reuni akbar alumni 212 itu dimbil karena ditipu oleh kelompok alumni 212 itu sendiri. Dimana letak tipuannya?

Pertama, Prabowo silau oleh jumlah peserta yang diprediksi datang ke Monas. Panitia membisikkan ke telinga Prabowo bahwa yang datang ke Monas berjumlah 8 juta orang. Menurut panitia, jumlah ini merupakan yang terbesar dalam sejarah Indonesia dan bahkan dalam sejarah dunia.

Jelas Prabowo terkesima jumlah itu. Prabowo langsung membayangkan 8 juta manusia memenuhi Monas. Jumlah sebanyak itu akan meneriakkan namanya: Prabowo. Ya Prabowo presiden. 8 juta manusia akan menjadikan Prabowo sebagai bintang.

Faktanya jumlah peserta 8 juta itu hanya sebagai klaim semata. Data perkiraan pihak yang netral kurang lebih 150 ribu orang. Estimasi Polisi malah hanya 40 ribu orang. Pun kalkulasi para ahli kartografi, berdasarkan luasnya area, maka yang hadir tidak lebih dari 300 ribu orang. Itupun sudah sangat dipadatkan.

Dengan fakta jumlah yang datang dan klaim yang tidak benar, maka bisa dikatakan bahwa Prabowo sudah kena tipu. Gara-gara asumsi peserta 8-10 juta peserta, Prabowo rela meninggalkan nasionalismenya dan mendekatkan diri kepada kaum puritan, kaum ekstrimis kanan. Bahkan ia rela merendahkan dirinya sebagai bagian dari alumni 212.

Kedua, Prabowo masuk dalam perangkap PKS dan HTI. Para pembisik di sekitar Prabowo memasok Prabowo informasi bahwa yang datang ke reuni akbar itu adalah kaum nasionalis religius, pembela Pancasila, UUD 1945 dan NKRI. Para pesertanya adalah dari berbagai agama, suku, tokoh-tokoh netral, para purnawirawan TNI-Polri, artis akan hadir dalam reuni tersebut.

Faktanya dari sumber-sumber intelijen mengatakan bahwa mayoritas peserta reuni 212 itu berasal dari PKS dan HTI. Mereka datang dari berbagai wilayah dalam dan dari luar daerah Jabotabek dengan kelompok-kelompok kecil yang teratur.

Menurut laporan intelijen, PKS dan HTI sangat berkepentingan atas keikutsertaan Prabowo di reuni akbar itu. Kelak jika Prabowo menang dan menjadi Presiden, maka PKS dan HTI kembali berjaya. Namun jika Prabowo kalah, PKS dan HTI tetap membutuhkan Prabowo sebagai pelindung mereka. Jadi dengan datang pada acara reuni itu, Prabowo kena tipu dan masuk barisan PKS dan HTI.

Peserta alumni itu adalah orang-orang PKS dan HTI yang jumlahnya begitu-begitu saja. Jadi sama sekali tidak menyumbang penambahan suara apapun untuk Prabowo. Celakanya Prabowo sudah dicap dekat dengan PKS dan HTI. Otomatis kaum moderat atau swing voters akan meninggalkan Prabowo.

Ketiga, Prabowo diinformasikan bahwa di reuni akbar 212 itu, tidak akan ada bendera-bendera partai, bendera ormas dan kampanye berbau politik. Pada reuni itu semunya bebas dari politik dan hanya aksi damai untuk Indonesia. Prabowo pun setuju dan mengatakan bahwa ia sendiri tidak akan berkampanye.

Faktanya reuni akbar 212 itu adalah reuni politik, reuni bela Prabowo. Di sana bendera-bendera HTI yang berkamuflase dengan bendera Tauhid berkibar dimana-mana. Ternyata pada saat reuni itu nama Prabowo diteriakkan sebagai presiden, tagar ganti presiden dikumandangkan. Pun di sana diperdengarkan lagu-lagu anti Jokowi dan tuduhan bahwa Jokowi pembohong untuk menutupi blunder Prabowo bohong soal kasus bohong Ratna Sarumpaet.

Reuni 212 itu ternyata bukan semata-mata aksi damai, atau hanya aksi politik untuk membela Prabowo tetapi ternyata aksi untuk menjegal, mengejek dan memfitnah Jokowi.

Sebagai bukti, di sana diperdengarkan seruan provokatif Rizieq Shihab bahwa haram memilih capres, cawapres yang didukung oleh partai pendukung penista agama.

Dalam reuni 212 itu, kata ‘haram’ sudah digunakan secara membabi-buta, illogical, ngawur, kacau , sembrono dan sinting. Kata ‘haram’ diperjual-belikan demi menjegal Jokowi dan menumbangkannya. Ajang yang tadinya dipakai untuk mengumandangkan aksi damai, malah dipakai untuk gampangan mengharamkan sesama manusia. Jelas Prabowo kena tipu oleh kelompok 212 itu. Ia diseret dalam kampanye SARA.

Dalam reuni 212 itu, terlihat jelas bahwa api telah disulut. Pendukung Prabowo sudah menggunakan SARA untuk menjegal Jokowi. Kata haram memilih capres yang didukung partai penista agama adalah contohnya.

Oleh karena itu, para pendukung Jokowi dengan bahasa yang sama, karena hanya itu yang dimengerti oleh kubu Prabowo, harus juga menggunakan kata ‘haram’ yang dipakai Rizieq tersebut.

Kata haram bisa dipakai untuk mengharamkan capres Prabowo. Haram memilih capres penculik, capres pembunuh, capres hoax, capres pembohong. Haram memilih capres yang didukung ulama cabul penggemar chatting pornografi. Haram memilih capres yang kabur dari proses hukum, penista Pancasila, penghina agama orang lain.

Haram memilih capres yang mertuanya guru korupsi, guru KKN. Haram memilih capres yang tidak mendukung UU pembubaran ormas HTI, anti Pancasila. Haram memilih capres yang pesimis Indonesia bubar 2030. Haram memilih capres penghina warga Boyolali, tukang ojek, wartawan.

Haram memilih capres yang tidak mendengar ijtima ulama. Haram memilih capres yang didukung oleh Bin Bahar penghina keji Presiden RI. Haram memilih capres yang isterinya diceraikan. Haram memilih capres yang didukung oleh partai pendukung caleg korupsi. Haram memilih capres yang didukung oleh Amin Rais, pengkhianat menurut Tri Sutrisno. Begitulah kura-kura. (ft/es)

Salam Seword,

Asaaro Lahagu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s