Majelis Umum PBB Kompak Tolak Resolusi AS Untuk Menekan HAMAS

trump

Donald Trump

Fokustoday.com- New York, 13 Desember 2018

PBB menolak rancangan resolusi yang disponsori Amerika Serikat untuk mengecam Hamas. Resolusi ini adalah tindakan terakhir yang dilakukan oleh Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley sebelum ia mengundurkan diri pada akhir tahun. Penolakan ini dianggap signifikan, karena jika disetujui, dianggap sebagai upaya untuk mempersenjatai PBB untuk menyerang  hak rakyat Palestina.

Majelis Umum PBB telah menolak resolusi yang disponsori Amerika Serikat (AS) yang berupaya untuk mengecam Hamas, kelompok Palestina yang memerintah Jalur Gaza.

Resolusi tersebut, yang sangat didukung oleh Israel, membutuhkan dua pertiga suara mayoritas untuk lolos pada hari Kamis (6/12) setelah pemungutan suara sebelumnya di majelis tersebut.

Proposal itu gagal melewati ambang batas kelolosan, dengan 87 negara memberikan suara setuju dan 57 suara menolak, sementara 33 negara lain abstain.

Pemungutan suara sebelumnya tersebut dilakukan untuk memenuhi mayoritas dua pertiga, yang mengikuti langkah prosedural yang diminta oleh Kuwait, dengan selisih yang jauh lebih dekat: 75-72, dengan 26 abstain.

HAMAS BERTERIMA KASIH KEPADA NEGARA-NEGARA ANGGOTA PBB

Resolusi itu adalah salah satu tindakan terakhir yang dilakukan duta besar AS untuk PBB, Nikki Haley, di badan internasional tersebut sebelum ia meninggalkan jabatannya pada akhir tahun.

Utusan AS yang akan mengundurkan diri tersebut, seorang pembela Israel yang gigih, telah menulis surat kepada negara-negara anggota pada hari Senin (3/12), mendesak mereka untuk menyetujui naskah yang dirancang AS itu, memperingatkan mereka: “Amerika Serikat sangat menganggap serius hasil dari pemungutan suara ini.”

“Sebelum Majelis Umum dapat secara kredibel mendukung kompromi dan rekonsiliasi antara Palestina dan Israel, Majelis Umum PBB harus tercatat, secara jelas dan tanpa syarat, bahwa pihaknya mengecam terorisme Hamas,” kata Haley kepada sebelum pemungutan suara.

Reporter Al Jazeera, James Bays, melaporkan dari PBB bahwa pertemuan itu berlangsung tegang karena Majelis Umum harus memutuskan bagaimana resolusi itu akan dipilih.

“Majelis Umum melangsungkan pemungutan suara awal untuk melihat apakah resolusi itu akan mendapat persetujuan dari mayoritas sederhana atau mayoritas dua pertiga. Selisih dari hasil itu sangat sempit, menempatkan batasan yang jauh lebih tinggi untuk resolusi Duta Besar Haley.

“Ketika akhirnya terpilih, dia mendapat suara mayoritas tetapi dia tidak mendapatkan mayoritas dua pertiga—sebuah pukulan bagi duta besar AS tersebut,” kata Bays.

87 negara memberikan suara persetujuan, 57 menolak dan 33 negara abstain pada pemungutan suara untuk resolusi (Foto: Al Jazeera)

Dalam sebuah pernyataan resmi, Hamas berterima kasih kepada negara-negara anggota PBB “yang membela perlawanan rakyat kami dan perjuangan mereka untuk keadilan” dan menyerang Haley yang, katanya, “dikenal karena ekstremisme dan posisinya yang mendukung terorisme Zionis di Palestina”.

Juru bicara Hamas Sami Abu Zahri menyebut hasil pemungutan suara itu sebagai “tamparan” bagi pemerintahan Presiden Donald Trump yang telah mengambil sikap pro-Israel yang tegas dalam menangani proses perdamaian Timur Tengah.

“Kegagalan usaha Amerika di PBB merupakan tamparan bagi pemerintah AS dan konfirmasi legitimasi dari perlawanan,” tulis Zahri di Twitter.

Mahmoud Abbas, presiden Otoritas Palestina di Tepi Barat, juga menyambut baik penolakan resolusi itu dengan mengatakan: “Kepresidenan Palestina tidak akan membiarkan kecaman atas perjuangan bangsa Palestina.”

Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon mengatakan bahwa negara-negara yang menolak rancangan resolusi itu seharusnya merasa malu. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji mereka yang memberikan suara persetujuan.

Ali Abunimah, salah seorang pendiri Intifada Elektronik, sebuah publikasi berita online independen, mengatakan penolakan proposal itu signifikan.

“Resolusi ini benar-benar hanya upaya untuk mempersenjatai PBB dalam melawan rakyat Palestina, melawan hak mereka yang sah,” katanya kepada Al Jazeera.

“Resolusi itu sendiri hanya poin-poin transparan Israel—tidak menyebutkan pendudukan militer, pengepungan Gaza, serangan harian Israel terhadap warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat. Saya pikir dunia melihat itu dan mereka memilih pilihan yang tepat dengan menolaknya.”

MELUMPUHKAN BLOKADE

Jalur Gaza, rumah bagi dua juta orang Palestina, telah berada di bawah blokade Israel yang melumpuhkan selama lebih dari satu dekade.

Pada tahun 2006, Hamas mengalahkan Fatah dalam pemilihan parlemen di Jalur Gaza dan, setahun kemudian, pertempuran antara faksi-faksi yang bermusuhan meletus.

Ketika Hamas akhirnya mengambil alih, Israel menanggapi dengan menegakkan blokade darat, laut dan udara di Gaza dan melarang penduduknya bekerja di Israel.

Mesir juga turut secara efektif menyegel Jalur Gaza—yang sering digambarkan sebagai penjara terbesar di dunia—dari dunia luar.

Isolasi Gaza secara terus-menerus ini telah menghancurkan ekonominya, memiskinkan penduduknya dan menyebabkan 60 persen warganya tidak memiliki pekerjaan, listrik dan layanan kesehatan yang memadai. (ft/es/aljazeera)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s