Mengapa Singapura Ikut cawe-cawe Pilpres 2019 Gandeng Prabowo ?

image1

Presiden Jokowi Saat Diterima PM Singapura

Fokustoday.com- Jakarta, 15 Desember 2018

Kemenangan Jokowi pada Pilpres 2014 lalu, hingga kini masih kejutan besar bagi Singapura. Sebelumnya para pejabat tinggi Singapura sama sekali tidak yakin Jokowi berhasil menjadi Presiden Indonesia. Pasalnya Jokowi di kancah politik nasional Indonesia dipandang masih bau kencur alias belum berpengalaman.

Penilaian Singapura itu didasarkan pada kekuatan Jokowi yang hanya didukung oleh PDIP, Nasdem, Hanura dan PKB. Tanpa didukung banyak partai, keluarga Cendana dan dukungan penuh SBY, mustahilah Jokowi menang.

Dalam kalkulasi Singapura, yang menjadi menjadi Presiden RI 2014 adalah Prabowo. Alasannya Prabowo didukung banyak partai, keluarga Cendana dan secara implisit didukung juga oleh SBY. Di banding dengan Jokowi, Prabowo punya modal dan kekuatan besar untuk memenangkan Pilpres di Indonesia.


Dalam strategi dan kebijakan politik luar negeri Singapura, jika Indonesia dipimpin Prabowo, maka Indonesia diprediksi hingga dua puluh tahun ke depan, tidak akan banyak berubah. Dalam analisis para pengambil kebijakan politik negeri Singa itu, Prabowo tidak akan mampu membuat terobosan baru untuk memajukan Indonesia.

Di tangan Prabowo, Indonesia tetap terbelakang dan tidak maju-maju. Hal itu karena orang-orang di sekitar Prabowo dan lebih-lebih para elit pendukungnya adalah orang-orang lama yang terbiasa dengan gaya hidup priyayi dan akrab dengan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

Baca : Singapura Tak Cukup Cerdas Berhadapan Dengan Indonesia (Baca: Jokowi)

Prabowo lebih sibuk membalas budi berbagai ormas berbaju agama, mengamankan kekuasaannya secara otoriter dan mengembalikan modal yang telah dikeluarkannya.
Jika keadaan Indonesia seperti itu, maka Singapura tetap jaya dan posisinya sebagai number one pengendali ekonomi ASEAN tak tergoyahkan dan tanpa takut disaingi oleh Indonesia. Investasi Singapura di Indonesia pun aman dan Singapura menjadi tujuan utama orang Indonesia berobat, berwisata, berbelanja dan menuntut ilmu.

Menjelang Pilpres 2014 lalu, Singapura, negara-negara Eropa dan Amerika, tetap sangat yakin bahwa Prabowolah yang menjadi penguasa Indonesia selanjutnya. Walaupun hasil-hasil survei dalam minggu terakhir, posisi Jokowi Vs Prabowo sudah seimbang, Singapura tetap yakin bahwa Prabowo yang menang.

Baca : Tax Amnesty: Kebijakan Jokowi Yang Tidak Disenangi Singapura. Mengapa ?

Prediksi itu membuat Singapura lebih banyak diam, kurang agresif dan enggan ikut ‘bermain’ di Pilpres 2014 lalu. Namun apa yang terjadi kemudian? Jokowi menang meyakinkan dan langsung membuat gebrakan. Hasilnya dalam beberapa bidang, Indonesia di tangan Jokowi mampu mengalahkan Singapura.

Pertama, setelah Petral dibubarkan Jokowi, Pertamina bisa menghemat pengeluaran sebesar Rp. 250 miliar per hari. Dana sebesar itu tadinya masuk ke kantong para broker minyak, logistic, refinery, perbankan, dan ke kantong Singapura sebagai settlement agent. Kini Singapura kehilangan duit masuk dari Petral.

Kedua, warga Indonesia yang biasanya memarkir duitnya secara total di Singapura, kini berkurang. Sejak UU Tax Amnesty, orang-orang berduit Indonesia sebagian di antaranya menarik duit mereka dan masuk ke Indonesia. Ada juga yang mengalihkannya dari Singapura ke negara lain agar lebih tersembunyi.

Ketiga, Jokowi sukses menyulap bandara Soekarno Hatta lebih besar dan modern. Hasilnya Bandara Soekarno Hatta berhasil mengalahkan bandara Changi di Singapura. Sepanjang tahun 2017, bandara Soekarno-Hatta mencatatkan penumpang sebanyak 63 juta penumpang. Sementara Singapura mencatatkan jumlah penumpang 62,22 juta.
Dari segi luasan, Bandara Changi yang sebelumnya terluas di Asia Tenggara, kini digeser oleh Bandara Soekarno Hatta. Bandara Changi luasnya mencapai 13 kilometer persegi. Sementara, Bandara Soekarno-Hatta tercatat memiliki luasan 18 kilometer persegi.

Keempat, pelabuhan Tanjung Priok di era Jokowi sudah mampu melakukan fungsi transhipment dan bersaing dengan Singapura. Sebelumnya pelabuhan Tanjung Priok hanya mampu bertindak sebagai pelabuhan bongkar (destinantion port). Lima tahun lalu, trafik container di Tanjung Priok hanya sekitar 6-7 juta TEUs. Sekarang di era Jokowi tumbuh dua kali lipat menjadi 11-12 juta TEUs.

Kelima, beberapa perusahaan yang dulu diambil oleh Singapura seperti Danamon, Indosat, meraih keuntungan besar. Namun di era kompetitif yang dilancarkan Jokowi, perusahaan-perusahaan Singapura itu harus berjibaku bersaing di Indonesia. Sebagai contoh, Indosat yang sahamnya dimiliki oleh Singapura, dulu sempat berjaya, kini kalah saing dengan Telkomsel.

Ke depan jika Jokowi menjadi Presiden untuk periode kedua, maka ada beberapa hal sedang dicanangkan oleh Jokowi untuk menyaingi Singapura.

Pertama, Jokowi akan memangkas tarif pajak untuk memperkuat daya saing ekonomi menghadapi Singapura. Undang-undang revisi tentang tarif pajak itu sedang dibuat. Jokowi mengatakan bahwa kalau di Singapura PPh Badan kena 17 persen, kenapa Indonesia harus 25 persen selama ini? Kalau Singapura bisa mengapa Indonesia tidak bisa 17 persen?

Kedua, Jokowi akan membuat satu pulau surga pajak. Di pulau itu nantinya ditetapkan suaka pajak dan insetif pajak menarik dengan pajak nol persen. Wacana untuk membentuk suatu pulau surga pajak (tax haven) di Indonesia telah dilakukan oleh Malaysia. “Kita juga punya pulau banyak, buat satu pulau untuk tax heaven, kenapa tidak, misalnya. Ini juga sedang dalam proses semua,” tegas Jokowi soal Singapura menjadi surga pajak itu.

Ketiga, Indonesia Information Region (FIR) sektor A yang mencakup Batam dan Natuna dipastikan akan diambil alih Indonesia dari Singapura pada akhir 2019 mendatang lebih cepat dari target 2024. Hal itu telah diungkapkan dengan pasti oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Awal Desember 2018 ini.
Pengambil alihan kontrol wilayah udara itu bertujuan untuk mengembalikan harga diri Indonesia karena bisa kembali memegang kendali atas ruang udara terbuka. Selama ini jika Singapura melintas dengan enaknya wilayah kedaulatan Indonesia.
Lucunya pernah ada insiden dimana Singapura menegur Indonesia karena dibilang melanggar wilayah udaranya padahal masih terbang di wilayah sendiri. Kejadian-kejadian ini tidak akan dibiarkan lagi oleh Jokowi jika Indonesia telah mengambil alih kontrol udara tersebut.
Efisiensi ekonomi yang dilakukan Jokowi, membuat Singapura semakin takut tersaingi Indonesia. Itulah mengapa Singapura beberapa kali mengharapkan Jokowi lengser di tengah jalan. Pada tahun 2015 misalnya, Singapura mencoba menggoyang Jokowi lewat dollar yang meroket.
Ekonom ternama Nanyang Business School Singapore, Lee Boon Keng, melempar isu menakutkan dengan mengatakan bahwa bahwa nilai tukar rupiah bisa ambruk hingga Rp 25 ribu/dolar AS jika Federal Reserve mulai melakukan normalisasi kebijakan moneternya.
Pernyataan Lee Boon Keng itu, kemudian menimbulkan kekhawatiran di masyarakat Indonesia. Di bulan Juli-Agustus 2015, masyarakat Indonesia ramai-ramai membeli dollar Amerika. Akibatnya, nilai tukar Rupiah berhadapan dengan dollar pada akhir September 2015 hampir menyentuh angka Rp. 15.000 Rupiah per dollar.
Pada 17 Juni 2015, Business Times, koran milik Strait Times yang dikelola pemerintah Singapura secara terang menurunkan sebuah artikel berjudul ‘Indonesia, Malaysia at risk of repeating 1997-98 meltdown”.
Isinya kurang lebih menegaskan bahwa Indonesia bersama Malaysia akan mengalami krisis parah seperti pada tahun 1998. Jelas isu ini sengaja dilempar dengan motif ekonomi. Karena jika Indonesia terkena krisis, Singapura bisa kembali berpesta-pora menjarah aset-aset vital Indonesia. Namun apa yang diharapkan Singapura itu kemudian gagal di tangan Jokowi.

Menjelang Pilpres 2019, kini Singapura tidak bisa lagi berdiam diri. Mereka melihat jika Jokowi akan memimpin Indonesia lima tahun ke depan, maka Singapura yang kecil itu akan disaingi total oleh Indonesia. Oleh karena itu Singapura mencoba mendukung lawan Jokowi, Prabowo agar ketakutan Singapura tersaingi Indonesia tidak menjadi kenyataan.
Para pejabat elit Singapura pun kini mencoba bermain. PM Singapura Lee Hsien Loong dalam instagramnya dengan bangga menggugah pertemuannya dengan Prabowo. Bahkan Loong tak segan mendoakan Prabowo agar menjadi Presiden RI.

Bersama Arab Saudi, Australia, Inggris, Singapura memang dikenal sebagai proxy Amerika Serikat, sedang berusaha memenangkan Prabowo pada Pilpres 2019 in. Itulah sebabnya saat ada kegiatan 212, Dubes Arab Saudi secara tidak langsung mendukung Prabowo.

Ketika KKB membantai para pekerja jembatan di Papua, Prabowo menolak berkomentar karena kaum separatis Papua itu didukung oleh Partai Hijau Australia. Pun ketika Australia berencana memindahkan dubesnya ke Tel Aviv, Prabowo sama sekali tidak mengecam namun secara tidak langsung mendukung rencana Australia itu.

Jelas jika Jokowi tetap menjadi Presiden Indonesia ke depan, maka dalam waktu lima tahun lagi, akan banyak kemajuan Indonesia yang membuat Singapura semakin tersaingi. Oleh karena itu sebelum impian buruk itu terjadi, Singapura bersama dengan negara proxy lainnya berusaha melengserkan Jokowi lewat Prabowo. (ft/es)

Sumber: fb Rudy Tangkeleng

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s