Habis Sandiwara Uno, Kini Terbitlah Sandiwara SBY.

Fokustoday.com- Jakarta, 20 Desember 2018

Ibu Ani dan para kader Demokrat katanya menangis melihat baliho partainya dirusak dan diturunkan. Menurut wartawan, Pak SBY sempat menahan tangis dan tak bisa melanjutkan penjelasannya saat ditanya apa yang sedang terjadi? Sehingga terjadi perusakan terhadap atribut Demokrat.

Yang cukup ajaib dari kejadian ini adalah pelaku perusakan langsung ditangkap oleh kader Demokrat sendiri. Malam-malam. Lengkap dengan video aksi perusakan. Hahaha lihatlah betapa sebuah aksi perusakan baliho bisa terjadi begitu terencana dengan baik. Ada perusak, ada penangkap, dan ada juga yang merekam.

Baca :

Seorang perusak yang tertangkap kemudian diadili. Ditanyai dan diinterogasi dengan pertanyaan yang aneh. “Orang PDI nyuruh kau?” dan si pelaku hanya menjawab “iya bang.” Kenapa tidak ditanya siapa yang menyuruh? Kenapa malah langsung bertanya dengan konten menuduh PDI?

Melihat kejadian seperti ini, entah kenapa saya jadi teringat sandiwara uno di pasar. Yang disambut dengan tulisan “pulanglah uno.” Kemudian dengan cengengesan Uno menyapa pemasang tulisan tersebut. Tidak masalah dengan semua itu. Pilihan politik boleh berbeda, tapi tetap bersaudara, itu pesannya. Tapi di dalamnya ada tuduhan serius, bahwa pemasangan tulisan pengusiran terhadap uno itu dibayar.

Hampir saja kita percaya bahwa ada orang yang membayar tulisan “pulanglah uno” itu. Tapi alam berkata lain. Ada orang netral yang tak sengaja merekam kejadian sebelum uno sampai di kertas bertuliskan “pulanglah uno.” Seorang pengamanan melarang orang untuk melepas kertas tersebut dan menjaganya sampai uno tiba di lokasi. Haha

Cerita baliho Demokrat dirusak oleh suruhan PDIP adalah sebuah cerita yang terlalu sempurna. Seperti halnya sandiwara uno. Mirip seperti cerita FTV, pemulung perempuan cantik yang tinggal di kolong jembatan, tak sengaja ditabrak oleh mobil mewah anak konglomerat. Anda bisa tebak cerita selanjutnya si perempuan pemulung tidak mati dan tidak cidera. Tapi cerita jadi fokus pada kecantikannya yang membuat anak konglomerat jatuh cinta. Terlalu sempurna. Karena di kehidupan nyata hal ini mustahil terjadi.

Yang namanya pemulung tidak ada yang cantik dan bedakan. Tidak ada pula cerita orang ketabrak mobil, hasilnya cuma pingsan. Hahaa

Begitu juga dengan perusakan baliho. Ada banyak baliho dirusak. Dari berbagai partai. Tapi yang berhasil ditangkap, divideokan aksinya, hanya dari Demokrat. Kenapa tidak sekalian saja kalian bikin FTV juga? lumayan belum ada FTV cerita partai politik. Judulnya “Partaiku gagal move on.”

Tapi ya sudah. Akhirnya kita harus maklum jika sandiwara politik, main drama demi meraih simpati, pura-pura nangis agar dikasihani, adalah sebuah langkah politik yang logis. Karena suka tidak suka, masyarkat kita masih suka melihat drama, sekalipun tidak masuk akal. Buktinya film FTV yang menceritakan pemulung perempuan cantik dan sejenisnya masih terus tayang dan diproduksi. Penontonnya masih banyak. Iklan yang tertarik dengan film FTV juga masih ada.

Nampaknya SBY paham betul soal psikologi (sebagian) masyarakat Indonesia. Yang masih mau disuguhi drama. Yang masih dapat dibohongi oleh cerita fiktif. Karena jangankan masyarakat awam yang lugu, bahkan elite-elite partai dari Gerindra, PAN, PKS dan Demokrat pun percaya bahwa telah terjadi penganiayaan, pemukulan terhadap seorang nenek-nenek bernama Ratna Sarumpaet. Andai waktu itu intelijen berhasil dikelabuhi, CCTV tak terekam lama hingga lebih dari seminggu (seperti pada umumnya). Hanya butuh satu orang yang mau mengaku bahwa dia telah memukul Ratna Sarumpaet bersama 35 orang temannya, maka masyarakat Indonesia harus percaya bahwa itu fakta dan bukan sekedar drama politik.

Beruntung intelijen kita sangat detail dalam bekerja. Sehingga skenario Surampaet digagalkan oleh beragam catatan dan rekaman CCTV yang terpaksa dipublikasikan demi memenangkan opini publik, melawan pernyataan capres, cawapres dan seluruh pimpinan koalisi partai kampret.

Saya pikir, menjelang hari H pencoblosan, jelang April 2019, akan ada lagi drama politik yang menyerang pemerintahan Jokowi dengan narasi otoriter dan dzolim. Untuk itu, saya ingin sedikit memberi masukan begini: memang benar FTV masih laku di pasaran. Tapi ini tahun 2019. Sekalipun ada efek yang berhasil dimanfaatkan, saya yakin tak akan mampu mengulang drama pemilu 2009, dimana Demokrat berhasil mendapat kenaikan 300% suara.

Untuk semua masyarakat yang muak dengan drama, bersabarlah. Karena selama SBY masih mengeluh, sandiwara politik akan terus tumbuh. Dari uno hingga yudhoyono. Dari jenderal kardus hingga baper. Bersatu dalam keyakinan sama, bahwa masyarakat mudah dipermainkan. Begitulah kura-kura. #JokowiLagi (ft/seword/es)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s