Amien Rais Diujung Tanduk!: Menabur Angin, Menuai Badai

Fokustoday.com- Jakarta, 26 Desember 2018

Jika dilihat dalam kacamata dunia perfilman layar lebar, sesungguhnya peran Amien Rais (disingkat AR-red) sangat tidak jelas. Bak artis yang sudah tidak laku, sehingga menerima saja apapun casting yang dipilih sutradara. Dalam panggung politik Indonesia, nama AR memang sangat dikenal.

Ia pernah dikenal sebagai akademisi yang vocal dari UGM, menjadi tokoh reformasi bersama Gus Dus, Megawati dan Sri Sultan HB X, diteruskan menjadi pendiri dan Ketum Partai Amanat Nasional, Ketum PP Muhammadiyah, menguasai kursi MPR sebagai Ketuanya, mendapat promosi sebagai Komisaris PT Freeport.

Namun setelah itu, tidak ada jabatan penting nan strategis lagi yang bisa ia duduki. Ambisinya di dunia politik paska gagal dalam kontestasi pilpres seolah tidak luntur. Selain mengkader anak-anak menjadi anggota dewan (baik pusat maupun daerah), ia pun selama 5 tahun terakhir mendekat-dekat ke kubu oposisi untuk merebut kekuasaan.

Sikapnya yang menganggap bahwa dirinya bisa mengatur organisasi dimana ia pernah berkiprah ternyata salah besar. Di awal, mungkin Muhammadiyah dan PAN masih memandang AR sebagai sesepuh yang patut dihormati. Namun mengikuti kiprahnya yang sehendak hati di luar prosedur organisasi sudah pasti membikin gerah pengurus dan kader.

Baca : Amien Rais Sebut Rezim Pekok di Pengajian Dan Akan Jewer PP Muhammadiyah Soal Pilpres 2019

Perlahan PAN dan Muhammadiyah mulai membangkang dan mencoba “menyingkirkan” peran AR yang selama ini kuat. AR pun mengantisipasi mencari “kendaraan” politik lain, yakni kumpulan ulama, PA 212. Ia pun kini bergelar ulama dan mendapat titel Kyai Haji. AR tengah membangun pengaruh di lingkungan barunya tersebut, bermodal ahli lobbying menjembatani antara HRS dengan PS.

Terdongkelnya AR dari akar rumputnya di Muhammadiyah sebenarnya sudah terlihat sejak ia dengan jemawa akan “menjewer” Haedar Nasir selaku Ketua PP Muhammadiyah jika kadernya dibiarkan untuk netral dan bebas dalam perhelatan pilpres. Begitupun PAN yang semakin kacau, terbelah di bawah (Pengurus PAN Daerah ada yang teranf-terangan deklarasi dukungan ke Jokowi).

Baca : Haedar Nashir Jawab Amien Rais Soal Sikap Muhammadiyah Pada Pilpres 2019

Sebagai partai pendukung koalisi oposisi, cerita ini tentu menurunkan kredibilitas AR di mata Prabowo, dan pastinya memalukan. AR dianggap sudah tidak punya pengaruh. AR tidak punya gerbong dengan massa jutaan yang bisa diarahkan berpihak oposisi. Kondisi diperparah dengan mundurnya Bendum PAN, Nasrullah, karena merasa tidak cocok dengan manajemen DPP PAN.

Baca : Amien Rais Sebut Pilpres 2019 Sebagai Pertarungan Armageddon Terakhir

Diisukan juga ini disebabkan sikap AR yang one man show dan seenak-enaknya mengatur PAN seperti perusahaan miliknya sendiri. Tidak hanya kader dan pengurus, bahkan terakhir Pendiri PAN mulai bersikap menyelamatkan partai dari segala sepak terjang AR. Para Pendiri PAN menyarankan AR mundur dari partai sebagai Ketua Dewan Penasehat.

Saran itu disampaikan melalui surat terbuka tertanggal 26 Desember 2018. Lima nama pendiri dan penggagas PAN, yakni Abdillah Toha, Albert Hasibuan, Goenawan Mohamad, Toeti Heraty, dan Zumrotin, tertera dalam surat tersebut. Goenawan Mohamad membenarkan surat tersebut ditulis dan ditandatangani kelimanya.

Baca : Begini Isi Surat Terbuka Pendiri PAN Desak Amien Rais Mundur

“Iya benar. Yang menulis Pak Abdillah Toha. Kami semua menandatangani,” ujar Goenawan saat dimintai konfirmasi. Dalam surat yang diterima media pada Rabu (26/12/2018) itu, pendiri PAN mengatakan surat dibuat setelah memerhatikan perkembangan kehidupan politik di Indonesia. Khususnya kiprah Amien Rais bersama PAN ataupun secara personal.

“Kami sebagai bagian dari penggagas dan pendiri PAN merasa bertanggung jawab dan berkewajiban membuat pernyataan bersama di bawah ini demi mengingatkan akan komitmen bersama kita pada saat awal pendirian partai,” demikian pengsntar dari surat terbuka tersebut.

Mereka mengingatkan Ketua Dewan Kehormatan PAN itu akan komitmen bersama kala pertama kali mendirikan partai. Bahwa PAN menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan menegakkan demokrasi setelah 32 tahun di bawah kekuasaan absolut Orde Baru yang korup dan otoriter. PAN adalah partai yang berasaskan Pancasila dengan landasan nilai-nilai moral kemanusiaan dan agama. PAN merupakan partai modern yang bersih dari noda-noda Orde Baru dan bertujuan menciptakan kemajuan bagi bangsa.

Kemudian PAN merupakan partai terbuka dan inklusif yang memelihara kemajemukan bangsa dan tidak memosisikan diri sebagai wakil golongan tertentu. PAN adalah partai yang percaya dan mendukung bahwa setiap warga negara berstatus kedudukan yang sama di depan hukum dan mempunyai hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara, tidak mengenal pengertian mayoritas atau minoritas. Menurut kelimanya, Amien Rais telah melenceng dari prinsip-prinsip tersebut.

“Dengan menggunakan kacamata prinsip-prinsip PAN tersebut di atas, kami mendapatkan kesan kuat bahwa Saudara Amien Rais (AR) sejak mengundurkan diri sebagai Ketua Umum PAN sampai sekarang, baik secara pribadi maupun mengatasnamakan PAN, sering kali melakukan kiprah dan manuver politik yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip itu,” tuturnya.

Kelima pendiri dan penggagas partai itu menilai Amien Rais saat ini semakin cenderung eksklusif, tidak menumbuhkan kerukunan bangsa dalam berbagai pernyataan dan sikap politiknya. Amien, sebagai tokoh reformasi, juga dinilai tidak ikut berperan dalam mengakhiri kekuasaan Orde Baru, serta telah bersimpati, mendukung, dan bergabung dengan politikus yang beraspirasi mengembalikan kekuatan Orde Baru ke kancah politik Indonesia.

Mereka bahkan menilai Amien Rais telah menjadikan agama sebagai alat politik untuk mencapai tujuan meraih kekuasaan. Amien sebagai ilmuwan politik juga dinilai telah gagal mencerdaskan bangsa dengan ikut mengeruhkan suasana dalam negeri dalam menyebarkan berita yang jauh dari kebenaran tentang kebangkitan PKI di negeri ini. Bahkan Amien, yang berada di luar struktur utama PAN, dinilai terkesan berat menyerahkan kepemimpinan PAN kepada generasi berikutnya dengan terus-menerus melakukan manuver politik yang destruktif bagi masa depan partai.

“Atas dasar pertimbangan semua itu, kami sebagai bagian dari pendiri PAN yang bersama saudara saat itu meyakini prinsip-prinsip yang akan kita perjuangkan bersama, menyampaikan surat terbuka ini sebagai pengingat dari sesama kawan,” tulis mereka dalam surat terbuka itu.

“Untuk itu barangkali sudah saatnya Saudara mengundurkan diri dari kiprah politik praktis sehari-hari, menyerahkan PAN sepenuhnya ke tangan generasi penerus, dan menempatkan diri Saudara sebagai penjaga moral dan keadaban bangsa serta memberikan arah jangka panjang bagi kesejahteraan dan kemajuan negeri kita,” imbuhnya.

Nasib AR ini tentu saja bukan tidak berdampak bagi kelangsungan Tim pemenangan PS ke depan yang hanya menyisakan 3,5 bulan lagi. Siapa yang dijadikan motor penggerak Muhammadiyah dan PAN jika bukan AR? Masihkah ia dipercaya dan dianggap manfaat bagi kubu PS, PA 212 dan HRS? Di usia senjanya ia berhasil menuai, namun yang dituai adalah badai. Karena selama ini yang ditaburnya hanyalah angin. Bagaimana Pendapat Anda ? (ft/es)

Sumber: copas somewhere

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s