Islam Konservatif Die Hard di Pilpres 2019

aksi damai rame - copy

Intoleransi agama mengintai, seiring negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia itu akan melaksanakan Pilpres 2019. Pengaruh dari kekonservatisan Islam Indonesia baru-baru ini tidak hanya telah menjalar ke ranah politik, tapi juga industri. Beberapa badan pemerintah juga telah berupaya untuk bergerak menyesuaikan diri dengan kebangkitan baru ini.

Fokustoday.com- Jakarta, 9 Januari 2019

Intoleransi beragama semakin meningkat di Indonesia, seiring umat Islam konservatif mendapatkan kembali pengaruh politik menjelang pemilihan umum yang dijadwalkan pada bulan April mendatang—sebuah tanda bahwa negara tersebut sedang memeriksa kembali dasar-dasar Islamnya.

Kampanye pemasaran besar-besaran perusahaan retail Singapura Shopee untuk masuk ke pasar Indonesia menjadi bumerang, karena iklan televisi yang menampilkan penyanyi grup perempuan Korea Selatan Blackpink, dijatuhi larangan dari badan pengawas lokal karena konten “tidak senonoh”.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengatakan pada tanggal 11 Desember, bahwa pihaknya mengeluarkan “peringatan keras” kepada 11 stasiun TV lokal untuk menghentikan penayangan iklan tersebut, di mana empat anggota Blackpink mengenakan rok mini dan gaun pendek. Iklan itu seharusnya bertepatan dengan Hari Belanja Online Nasional pada tanggal 12 Desember.

“Iklan tersebut menampilkan beberapa wanita berpakaian minim bernyanyi dan menari,” kata komisi itu dalam sebuah pernyataan. “Iklan Shopee berpotensi melanggar norma kesusilaan yang dipatuhi oleh masyarakat umum Indonesia.”

Komisi itu telah bertindak cepat dalam menanggapi petisi online yang diajukan terhadap iklan tersebut, yang ditandatangani oleh lebih dari 120 ribu orang hanya seminggu setelah diunggah pada awal Desember. Shopee telah tunduk pada tekanan tersebut dan mengganti iklannya.

Baca : Kampanye Hiperbolik Prabowo- Sandi Turunkan Kualitas Demokrasi

Kontroversi ini adalah contoh terbaru dari pengaruh konservatif yang berkembang di Indonesia—negara sekuler yang menjadi rumah bagi populasi Muslim terbesar di dunia. Tertindas selama tiga dekade rezim otoriter Orde Baru, komunitas konservatif kecil Indonesia telah mampu mengekspresikan diri mereka lebih bebas setelah jatuhnya rezim tersebut pada tahun 1998.

Tetapi walau ajaran mereka sebagian besar terbatas pada masjid dan pertemuan komunitas kecil, tapi dalam beberapa tahun terakhir mereka telah menyebar melalui media sosial ke mayoritas Muslim yang relatif moderat, memungkinkan kaum konservatif yang blak-blakan untuk sering mendominasi wacana publik.

Konservatif hampir berhasil memaksa Mahkamah Konstitusi dan Dewan Perwakilan Rakyat untuk melarang seks gay dan seks di luar nikah. Mereka juga telah memulai gerakan anti-vaksin berdasarkan klaim bahwa obat-obatan tertentu mengandung bahan-bahan berbasis babi, yang menyebabkan masalah bagi program vaksinasi Kementerian Kesehatan.

Pengaruh mereka sekarang sedemikian rupa, sehingga banyak lembaga publik menyusun kebijakan untuk lebih aktif mempromosikan Islam, yang terbaru adalah peluncuran aplikasi smartphone oleh kantor kejaksaan Jakarta—yang dijuluki “aplikasi pengawas aliran sesat”—yang memungkinkan masyarakat untuk melaporkan kegiatan keagamaan yang menyimpang.

Baca : Dari 212 Hingga 812: ‘Copy Paste’ Preferensi Rasial Bukan Hanya Di Jakarta

Tidak seperti ekstremis radikal seperti ISIS, Muslim konservatif Indonesia telah lama mengecam terorisme. Tetapi khotbah-khotbah mereka menjadi semakin keras, dipenuhi dengan ketakutan dan disinformasi, untuk menggambarkan bahwa Indonesia sedang dikepung oleh konspirasi anti-Islam. Intoleransi yang terus tumbuh ini memicu ketegangan sektarian di negara demokrasi terbesar ketiga di dunia ini.

“Saya dulu penggemar fanatik pengkhotbah ini,” kata seorang pegawai negeri di Jakarta, merujuk pada seorang ulama Muslim di lingkungannya. “Tapi dia sekarang sering menyampaikan khotbah yang meradang, mengatakan bahwa darah Syiah itu halal. Sangat tidak nyaman.” Syiah—cabang utama Islam—adalah minoritas di Indonesia yang didominasi Sunni. Seperti minoritas lainnya, mereka telah menjadi sasaran serangan verbal.

Gerakan konservatif Indonesia tidak homogen, seperti yang ditekankan Bastiaan Scherpen, pakar politik dan Islam di Belanda. Kelompok-kelompok itu berkisar dari Front Pembela Islam (FPI) yang kerap main hakim sendiri, dan Hizbut Tahrir Indonesia yang radikal—yang dilarang tahun lalu karena tujuannya untuk mendirikan kekhalifahan Islam—hingga Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang lebih moderat, yang memiliki anggota di parlemen.

Kelompok-kelompok itu tidak setuju atas banyak hal. Tetapi selama Pemilihan Presiden 2014 yang diperebutkan dan memecah belah, mereka mulai bergabung di sekitar kubu oposisi yang dipimpin oleh mantan jenderal Angkatan Darat Prabowo Subianto, yang kalah dari Presiden Joko Widodo pada tahun 2014, dan akan berhadapan kembali dengannya pada bulan April.

Aliansi mereka muncul ketika kelompok-kelompok itu bersama-sama mengorganisasi demonstrasi besar pada akhir tahun 2016 melawan Gubernur Jakarta saat itu, Basuki Tjahaja “Ahok” Purnama, sekutu Kristen China Jokowi. Kelompok-kelompok itu menuduh gubernur populer tersebut atas penistaan agama, yang menyebabkan kejatuhannya dan kemudian penahanannya. Kandidat yang didukung oposisi, mantan Menteri Pendidikan Anies Baswedan, kemudian memenangkan jabatan gubernur.

Kampanye serupa yang menyebar melalui media sosial dan dalam pidato, memperingatkan invasi pekerja China dan kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang telah dibubarkan, sementara pemerintahan Jokowi dituduh mengintimidasi para ulama negara itu, dalam upaya untuk merusak kredibilitas Muslim presiden tersebut.

Aliansi ini mengadakan pertemuan besar—disebut sebagai “reuni”—di Monumen Nasional (Monas) di Jakarta pada tanggal 2 Desember. Meskipun diadakan dengan dalih solidaritas Islam, namun acara tersebut dihadiri oleh para pemimpin oposisi, termasuk Prabowo. Meskipun dia tidak menyampaikan pidato politik di sana—mengklaim acara itu bukan kampanye pemilu, yang tidak diizinkan sampai bulan Maret—namun panitia penyelenggara memainkan rekaman pidato oleh seorang Pemimpin FPI yang diasingkan di Arab Saudi, yang berulang kali menyatakan bahwa “dilarang untuk memilih kandidat presiden dan legislatif yang didukung oleh partai-partai yang mendukung penista agama.”

Baca : Politisasi Garis Keturunan Ala Jokowi dan Prabowo. Fitnah atau Fakta ?

Selain Ahok, pernyataan itu kemungkinan juga merujuk pada Grace Natalie, pemimpin Kristen China dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang baru didirikan. Grace—yang telah menyatakan dukungannya untuk Jokowi—dilaporkan ke polisi bulan lalu atas tuduhan penistaan, setelah dia menyatakan penentangan terhadap peraturan yang diilhami oleh Syariah dan Alkitab.

“Kami tidak tahu pengaturan seperti apa yang dibuat di balik pintu tertutup, tetapi para penantang jelas tahu bagaimana menggunakan sentimen Islam konservatif untuk keuntungan mereka,” kata Scherpen kepada Nikkei Asian Review.

Namun, dia tidak percaya bahwa Prabowo dan pasangannya Sandiaga Uno—seorang pengusaha dan mantan Wakil Gubernur Jakarta—benar-benar condong pada konservatisme Islam. Mereka sebagian besar dilihat sebagai sekuler oleh orang-orang yang telah lama mengenal mereka.

Scherpen menunjukkan bagaimana Anies-Sandiaga menggunakan argumen agama yang sama untuk mengalahkan Ahok dalam Pilgub Jakarta 2017. “Ini awalnya menyebabkan gelombang kejut, tetapi sejak itu, ada lebih banyak kesinambungan daripada perubahan dalam cara kota ini diperintah.”

Dia menambahkan bahwa kemenangan untuk Prabowo pada Pilpres 2019 kemungkinan akan disajikan dan dirasakan oleh banyak orang sebagai kemenangan bagi Islam konservatif. “Tetapi walau nada yang berbeda akan terasa di istana presiden, namun saya tidak akan mengharapkan perubahan signifikan dalam kebijakan yang terkait dengan agama atau hak.”

Pilihan Jokowi untuk ulama senior Ma’ruf Amin—ketua Majelis Ulama Indonesia yang mengeluarkan dekrit agama terhadap Ahok—telah banyak membantu presiden itu menangkis upaya untuk menyingkirkannya dengan cara yang sama seperti bagaimana Ahok diusir, para pengamat menekankan. Namun pilihannya terhadap ulama tidak akan mengubah cara berpikir pemilih Muslim yang cenderung konservatif, yang telah dibanjiri dengan tuduhan pandangan anti-Islam presiden itu.

Baca juga: Terkait Debat Pilpres, Kubu Jokowi Minta Agar KPU Ungkap Kesepakatan Rapat

Bersamaan dengan meningkatnya ketegangan agama, terdapat ekonomi yang tidak nyaman, yang mengkhawatirkan publik. Beberapa jajak pendapat menunjukkan bahwa Sandiaga yang berusia 49 tahun memberi Prabowo dorongan, karena ia sering bertemu dengan para pendukung untuk membahas depresiasi rupiah, kesenjangan pendapatan, dan pengangguran.

Sementara itu, Amin yang berusia 75 tahun tampaknya tidak membantu Jokowi di bidang ekonomi. Jajak pendapat baru-baru ini menunjukkan bahwa walau Jokowi masih mempertahankan keunggulan atas Prabowo—jajak pendapat sekitar 50 persen berbanding 30 persen—namun kesenjangannya semakin menyempit.(ft/es/NAR)

Oleh: Erwida Maulia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s