Begini Makna Gestur Tubuh Paslon Saat Debat Capres Menurut Pakar Bahasa Tubuh

Fokustoday.com – Jakarta, 19 Januari 2019.

Pakar bahasa tubuh berbasis sains yang mendapat lisensi dari Paul Ekman, Monica Kumalasari, mengupas bahasa tubuh dua paslon capres-cawapres saat aksi debat capres .untuk Pilpres 2019 yang diikuti pasangan nomor urut 01 Jokowi – Ma’ruf  dan nomor urut 02 Prabowo – Sandi di Jakarta, Kamis malam, 17 Januari 2019.

Prabowo-Sandi.jpg

Cawapres Sandiaga Uno memijit capres Prabowo Subianto saat debat capres

Ada perubahan gaya dari Jokowi dan Prabowo dalam debat capres. Jokowi yang biasanya santai jadi lebih tegas, sementara itu Prabowo jadi lebih kalem.

Menurut Monica, kedua pasangan calon punya cara yang berbeda dalam menegaskan suatu argumen. Prabowo cenderung mengekspresikannya lewat gerak tangan menunjuk-nunjuk. Sedangkan Jokowi menandakannya dengan mengulang-ngulang kata. “Juga bicaranya pakai tone suara perut,” imbuh Monica mengenai Jokowi.

Baca Juga (Prabowo Mengatakan Jawa Tengah Lebih Luas dari Malaysia, Benarkah?)

Dari gaya verbal, Jokowi diamati banyak menyajikan data saat berargumen. Pesaingnya, Prabowo – Sandi dinilai lebih banyak mengutarakan soal persepsi ketimbang data. Monica mencontohkan pernyataan “….Yang kita ketemukan ada perasaan di masyarakat, bahwa kadang-kadang aparat itu berat sebelah,” yang diutarakan Prabowo.

Monica mengatakan “Raut wajah, mata itu jendela jiwa.

Dari sisi Jokowi terlihat alisnya bergerak turun naik ketika dia mau mengatakan penegasan”.

Sedangkan Prabowo, kata Monica, yang terlihat adalah peningkatan kedipan mata yang lebih cepat dari biasanya. Penyebabnya bisa jadi dua hal yang berbeda. “Bisa stres, bisa juga udaranya dingin sekali jadi (berkedip) untuk membasahi mata,” kata Monica.

Ketika bicara, pasangan nomor urut 02 juga sering memakai kata “kami” atau “Prabowo Sandi” bukan “saya”. Tapi ada juga gaya verbal Prabowo yang menekankan kata “saya”, ketika bercerita tentang pembentukan pasukan antiteror pertama yang dilakukannya bertahun-tahun silam.

Gaya itu, kata Monica, menyiratkan dirinya merasa superior dibanding yang lain. Ini, lanjut Monica, dipertegas dengan gestur menunjuk-nunjuk saat menekankan sesuatu, serupa seperti gaya memberikan instruksi.

Pada umumnya, Sandiaga Uno terlihat tenang di atas panggung. Tapi ada satu kalimat yang menyiratkan tingkat kepercayaan diri yang mungkin rendah di persaingan ini. Hal ini diperlihatkan ketika bicara soal kepastian hukum. Sandi, kata Monica, bertanya pada Jokowi mengenai apa yang akan dia lakukan seandainya terpilih lagi jadi presiden selama lima tahun ke depan.

Menurut Monica, Sandi terlihat grogi ketika tanpa sadar omongan itu spontan keluar dari mulutnya, yang berasal dari alam bawah sadar yang selama ini ditekan. Di sisi lain, Sandi terlihat paling ramah. Gayanya santai dan tidak terlalu “menyerang”. Gestur dan kontrol emosinya bagus. Dia bisa menjalin hubungan interpersonal yang bagus, siapa pun pasangannya. Ketika berbicara, Sandi banyak memakai kata “kami” atau menyebut “Prabowo – Sandi”. “Lebih humble,” kata Monica.

Kesantunan Sandiaga terlihat juga dari caranya memberi salam pada Ma’ruf Amin, dengan mencium tangan beberapa kali.

Adegan ketika Prabowo joget, Sandi pijat bahu. Dibandingkan Jokowi – Ma’ruf, pasangan Prabowo – Sandi ini memang terlihat lebih “mesra” karena mereka lebih lama menjalin chemistry.

Tapi, Prabowo terlihat kehilangan kesabaran saat Jokowi bertanya menyebut data ICW mengenai mantan koruptor yang jadi calon legislatif dari partai Prabowo.

Sebelum waktunya dimulai, Prabowo tak sabar ingin menjawab. Ucapan “tidak boleh” yang tegas dari moderator Ira Koesno membuat seisi ruangan tertawa. Pada saat itu, Prabowo dianggap “lupa” untuk menahan diri sehingga “watak aslinya keluar”.

“Karena sepertinya dia memang ditahan oleh (tim sukses) untuk ‘jangan kelihatan meledak-ledak’ tetapi ‘bocor’ juga”. Monica melanjutkan, Prabowo kemudian mengalihkannya berjoget, sementara Sandi memijat-mijat punggung Prabowo seakan memintanya untuk tenang.

Pengalihan ini juga terjadi ketika Prabowo menjawab soal perempuan dalam struktur Partai Gerindra, lalu Sandi diberi kesempatan untuk menambahkan argumen, tetapi ditolak karena dirinya bukan lagi bagian dari partai besutan Prabowo.

“Saya bukan Gerindra lagi pak, enggak bisa jawab, pak,” ujar Sandi yang ditimpali Prabowo dengan permintaan maaf. Ekspresi malu dialihkan dengan senda gurau Prabowo – Sandi hingga akhirnya bel penanda waktu berbunyi.

Mengenai Ratna Sarumpaet. Monica menganalisa ekspresi subtil campur aduk antara geram dan malu sekilas nampak di wajah Prabowo saat Jokowi menyebut soal juru kampanyenya yang mengaku babak belur dianiaya. Padahal lebam-lebamnya itu bekas operasi plastik. Jokowi bicara soal kasus kebohongan Ratna Sarumpaet pada akhir 2018.

Ketika kebohongan Ratna terkuak, Prabowo pun minta maaf karena menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya. Ekspresi subtil ini muncul kemungkinan karena Prabowo ingat dirinya pernah dibohongi, serta malu karena tak menyangka hal tersebut tiba-tiba diungkit.

Irit bicara Ma’ruf Amin, menurut Monica, bisa dibilang paling pendiam selama debat perdana karena panggung lebih didominasi oleh Joko Widodo. Pada awal debat, dia sempat diberi kesempatan untuk menambahkan argumen Jokowi, tapi memilih untuk diam. “Saya tidak menambah, saya mendukung pernyataan Pak Jokowi,” ujar Ma’ruf.

Monica melihat situasi itu memang sudah ditentukan sejak awal, di mana Ma’ruf memang berkontribusi pada tema-tema tertentu yang dia kuasai. Ketika menolak untuk menambahkan pernyataan Jokowi, Ma’ruf terlihat masih grogi karena panggungnya berbeda dari aktivitas ceramah. Namun belakangan kegugupannya mereda dan dia menambahkan sedikit komentar di sana-sini.

“Jokowi mendominasi, tapi Ma’ruf tetap dikasih kesempatan untuk bicara.” Dibandingkan Prabowo – Sandi, interaksinya dengan Jokowi lebih terbatas. Monica berpendapat ini karena Jokowi bersikap hormat terhadap Ma’ruf sebagai seorang figur besar.

Meski dinilai sebagai kandidat yang paling gugup, Ma’ruf dianggap banyak memperlihatkan senyum tulus selama debat berlangsung. “Ada senyum tulus, ada senyum sosial. Banyak senyum tulus yang terlihat dari Ma’ruf,” katanya. (FT/tempo/am)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s