Mengulik Riwayat Ahok dan BTP Yang ‘Hijrah’

802889_720

Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. TEMPO/Amston Probel

Fokustoday.com- Jakarta, 24 Januari 2019

Basuki Tjahaja Purnama (BTP) akan bebas setelah menjalani masa dua tahun hukumannya. Kasus penistaan agama yang berdampak luas pada eskalasi politik, bahkan berdampak pada relasi-relasi sosial-keagamaan yang kurang mengenakkan, bahkan mungkin mengukir sejarah baru dalam konteks politik-keagamaan di Indonesia, semestinya sudah tamat.

Ahok menutup lembaran sejarah kelamnya dan mengganti identitas dirinya semula, BTP. Tak ada lagi istilah ‘A Man Called Ahok’ nanti, karena riwayat Ahok sudah tamat, terkubur dengan sejarah konflik kepentingan politik di dalamnya. BTP seolah ‘lahir kembali’ menjadi sosok baru yang siap melenggang dalam percaturan politik nasional.

Saya memandang kasus BTP memang sarat nuansa politik, sekalipun tak dimungkiri memiliki muatan kebencian terhadap suatu kelompok dan agama tertentu. Sulit untuk tidak mengatakan kasus BTP memicu pergerakan politik secara lebih luas, bahkan melahirkan konflik berkepanjangan yang terus terbawa hingga dalam bentuk yang paling jelas di setiap momen kontestasi politik.

Kenyataan Pilpres 2019 yang masih membawa-bawa tradisi politik zaman BTP menjadi Gubernur DKI Jakarta seolah tak mungkin dihindarkan dan mungkin realitas politik ini tetap ‘menyejarah’ dan akan hidup sebagai tradisi fenomenal dalam setiap suksesi politik.

BTP memang harus membuat sejarah baru, setelah konsekuensinya selama dua tahun di Mako Brimob dengan berbagai kejadian yang menimpa dirinya, seolah tidak lagi hoki memakai nama ‘Ahok’. Saya meyakini banyak pengalaman pribadi yang ia peroleh selama di penjara, yang mungkin tak banyak diketahui banyak orang.

Sisi lain kehidupan pribadinya yang gagal mempertahankan biduk rumah tangganya atau soal isu dirinya semakin mantap mempelajari kitab suci selama di penjara, mungkin saja memang memicu kekuatan batinnya untuk hijrah: dari Ahok menjadi tetap BTP.

BTP memang harus membuat sejarah baru, setelah konsekuensinya selama dua tahun di Mako Brimob dengan berbagai kejadian yang menimpa dirinya, seolah tidak lagi hoki memakai nama ‘Ahok’.

Hijrah tentu saja memiliki konotasi ‘perubahan’ dari satu hal ke hal lainnya secara totalitas, meninggalkan sesuatu yang usang di masa lalu, menguburnya dalam-dalam, berganti dengan entitas terbarukan dengan tanpa mengikatkan dirinya dengan sejarah-sejarah kelam di masa lalu.

Saya memang lebih mengenal BTP daripada Ahok, ketika ia masih menjabat anggota legislatif dari Partai Golkar. Dalam situs pribadinya, istilah BTP menyimpan makna konotasi “Bersih, Transparan, Profesional” yang marketable sebagai pembangunan citra politik seorang wakil rakyat. Tak berlebihan kiranya, jika istilah ‘Ahok’ terasa kental nuansa etnisnya dibanding menggunakan nama BTP.

Bagi saya, nama BTP memang lebih ‘nasionalis’—sekalipun saya tidak bermaksud menihilkan istilah etnis tertentu—dan mungkin saja lebih ‘menjual’ secara politik nantinya. BTP seolah ingin mempertegas kembali suatu align politik yang lebih rasional dengan mengedepankan citra ‘bersih’ dalam seluruh rektutmen politik, ‘transparan’ dalam setiap modal politik yang dipergunakan, dan ‘profesional’ dalam bekerja, bukan atas dasar ‘pesanan politik’ partai.

Karier BTP tentu saja masih panjang dan masih memiliki banyak kesempatan untuk aktif kembali terjun ke dunia politik, walaupun memang tidak mudah dan perlu banyak waktu. Dengan menyematkan nama BTP, seolah dirinya lahir kembali ke dunia politik dan memulai kehidupannya dari titik terendah, meniti karier dalam seluruh aspek kehidupannya—termasuk rumah tangga pribadinya—dengan tanpa memikul beban nama ‘Ahok’ di belakangnya.

Rasanya sangat masuk akal ketika Ahok ‘hijrah’ menjadi BTP dan meninggalkan seluruh sejarah kelam masa lalu kepolitikannya dengan menghadirkan suasana terbarukan dalam ruang-ruang publik.

Keinginannya untuk tidak dijemput atau difasilitasi para pendukungnya menunjukkan bahwa ia besok bukan lagi sosok Ahok, tetapi sudah menjadi figur BTP. Saya kira sangat wajar bahwa nama Ahok seperti sejarah masa lalu yang tak perlu diungkit atau dihidupkan kembali—dengan segala kekurangan dan kelebihannya—karena nama itu teramat sensitif ketika dikaitkan dengan konteks politik.

Namun, mungkinkah nama ‘Ahok’ dapat tenggelam dan terkubur dalam ingatan sejarah, sebagaimana yang memang saat ini diharapkan BTP? Mungkin saja iya, sekalipun hal ini butuh proses yang cukup panjang agar masyarakat tak lagi mengingat ‘Ahok’, tetapi akan lebih mengenal Pak BTP sebagai sosok paling fenomenal ketika menjabat Gubernur DKI Jakarta.

Foto Ahok di Balai Kota (Foto: Johanes Hutabarat/kumparan)

Terlepas dari pro-kontra soal Ahok atau BTP, sebagai warga negara Indonesia, ia tentu saja memiliki hak dan kewajiban yang mengikat sebagai warga negara yang ingin berkontribusi positif terhadap seluruh kehidupan pribadi, keluarga, bangsa, dan negaranya. Ahok jelas merupakan masa lalu bagi dirinya karena ia ingin masyarakat menyapanya BTP seusai bebas dari tahanan yang hanya tinggal beberapa jam.

Pembebasan BTP memang menjadi pemberitaan besar media, bahkan banyak beredar isu yang memprediksi dirinya bakal kembali ke dunia politik dengan berganti haluan. Namun yang pasti, menebak langkah politik BTP pasca-bebas dari penjara masih diselubungi kabut misteri karena ia tentu saja akan ‘merehabilitasi’ dirinya terlebih dahulu dengan membangun citra pribadi yang memang benar-benar bernuansa baru.

Dengan menyematkan nama BTP, seolah dirinya lahir kembali ke dunia politik dan memulai kehidupannya dari titik terendah, meniti karier dalam seluruh aspek kehidupannya—termasuk rumah tangganya—dengan tanpa memikul beban nama ‘Ahok’ di belakangnya.

Ke depan, tentu BTP berharap dan semua kita berharap, harus senantiasa berhati-hati untuk menjaga segala ucapan, tindakan, perbuatan, terlebih jika seseorang memang dikenal secara luas oleh publik. Setiap public figure tentu akan menjadi bagian dari pesona sebagian masyarakat, sehingga tak jarang meniru, mengikuti, bahkan menjiplak apapun yang ada dalam setiap sikap pribadi sang public figure-nya.

Terlebih, efek media sosial telah mengubah apapun menjadi semakin ‘digital friendly’, terlebih jika sosok-sosok itu terus dipopulerkan lewat ruang-ruang media sosial. Sekalipun seseorang tak pernah bertatap muka dengan public figure pujaannya, gelinjang media sosial akan mengubah seseorang menjadi pembela paling gigih atau penantang paling garang seorang tokoh publik.

Jadi, diakui ataupun tidak, BTP yang kini telah ‘hijrah’ memang sedang berupaya mengubah segala citra negatif yang dulu disematkan kepadanya dan mulai membangun kembali citra positifnya di tengah gejolak politik berkepanjangan. Di sinilah mungkin berlaku adagium bahwa, “Para politisi itu tak akan pernah mati selamanya”.

Jiwa politisi yang melekat pada diri BTP mungkin sulit untuk tergantikan oleh hal apapun, karena sekalipun ia ‘jatuh’ dan ‘mati’ akan bereinkarnasi dalam bentuk-bentuk lain yang sudah tentu membawakan suasana kepolitikan yang pada akhirnya baru dan berbeda.

Jadi, tak mudah menebak langkah politik BTP ke depan karena yang mungkin hanyalah sekadar membuat asumsi-asumsi atau perkiraan-perkiraan yang bisa jadi benar atau salah ketika menilai sosok BTP saat ini. Selamat BTP, semoga ke depan anda menjadi lebih baik dan menginspirasi banyak orang dalam hal berpikir dan bertindak secara lebih positif. (ft/es)

Syahirul Alim

Penulis Lepas tentang agama, sosial, dan politik. Tinggal di Tangerang Selatan
Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s