Narasi Propaganda Radikalisme Di Kalangan Millenial

irfan
Direktur Peace Generation, Irfan Amalee

Fokustoday.com- Bandung, 26 JAnuari 2019

Direktur Peace Generation, Irfan Amalee mengungkapkan hal-hal yang pada umumnya dilakukan oleh sejumlah kelompok ekstrem dan radikal dalam merekrut anggota baru, khususnya anak muda. Hal-hal tersebut mencakup pengembangan narasi propaganda dalam berbagai dimensi yang dibalut dalam media-media bertema dan berdesain kekinian.

Hal itu diungkapkan pada diskusi “Peran Negara dalam Pencegahan Radikalisme dan Terorisme” yang diselenggarakan di Hotel Amaroosa Bandung, Kamis (24/1/2019).

Dalam kesempatan tersebut, Irfan mencontohkan media propaganda milik ISIS yang beredar di sejumlah kalangan milenial. Dia menunjukan media berupa buletin tersebut dikemas dengan foto-foto dan desain kekinian, juga copywriting yang sesuai dengan selera milenial.

“Gaya buletin ini sangat milenial, dengan model memakai hoodie juga kalimat-nya ngena. Ada pula foto prajurit berwajah ramah dan hangat sambil memegang senjata. Pembahasan di sebelah foto itu padahal menyoal good character, akhlakul karimah,” ungkapnya.

Baca : Penyebab Menjadi Teroris dan Bagaimana Mencegahnya

Berdasarkan pengamatan ayobandung.com, terdapat pula halaman-halaman foto yang berupaya mengekspos sisi humanis tentara radikal tersebut, seperti seorang tentara yang tengah memeluk kucing. Irfan mengatakan, bahkan salah satu keluarga eks-pengikut ISIS asal Indonesia yang pernah berada dalam dampingannya, dulu memutuskan untuk bergabung dengan ISIS karena sebuah foto–yang bahkan tidak jelas keasliannya.

“Di foto itu ada sosok dokter menggendong bayi dengan fasilitas rumah sakit yang lengkap. Kebetulan keluarga tersebut memang tengah mengalami masalah terkait layanan kesehatan. Oleh karena itu foto, tersebut jadi motivasi mereka untuk pergi ke Syiria. Padahal setelah sampai, tidak pernah ada fasilitas-fasilitas yang demikian,” tuturnya.

Membangun Narasi Politik hingga Teologi

Hal tersebut, Irfan menjelaskan, masuk ke dalam salah satu dari sejumlah langkah pembangunan narasi yang dilakukan para ektrimis untuk menyusupkan ideologinya kepada orang lain.

Pertama, lewat narasi politik. Hal ini salah satunya dengan membuat seseorang merasa sebagai korban dari ketidakadilan keadaan, dan atau memberi cekokan pandangan bahwa Islam tengah ‘terdzalimi’. Bila diberikan pada orang-orang tepat, dia mengatakan, proses cuci otak radikalisasi bahkan bisa berlangsung dalam hitungan jam.

Baca : ISNU : Hoaks Bermotif Politis Ideologis Sangat Berbahaya

“Hanya dalam dua jam, seseroang bisa menjadi radikal. Ini bukti bahwa radikalisasi bisa terjadi dengan sangat mudah. Hati-hati dengan pemutaran film-film bertema ketidak-adilan, atau hal-hal yang bisa membangun sense of injustice dengan cara yang sangat simpel dan menggeneralisasi,” ungkapnya.

Kedua adalah lewat narasi sejarah. Seringkali para ektrimis mengambil cuplikan-cuplikan kejadian sejarah yang menunjukan bahwa kekerasan bisa menyelesaikan masalah. “Padahal sejarah juga banyak memiliki episode-episode damai. Oleh karena itu, kita harus mampu menguasai pemahaman sejarah (agar tak mudah terdoktrin),” paparnya.

Selanjutnya, pada tahap ketiga, ekstrimis kerap melakukan glorifikasi pada sosok-sosok yang ektrimis lain atau pada pemimpinnya. Hal ini dilakukan guna menyusupkan ideologi pada level sosio-psikologis. Glorifikasi tersebut termasuk membangun ‘cocoklogi’ seperti isu langit yang mendung saat tokoh ektrimis marah, menandakan Tuhan ikut murka, dan sebagainya.

Terakhir adalah narasi instrumental dan teologikal. Salah satunya lewat cuplikan ayat-ayat Al-Qur’an tertentu yang dinilai dapat mendukung tesis mereka tentang kekerasan.

“Mereka mencomot-comot ayat yang bisa mendukung kekerasan. Hal yang jadi tantangan adalah bagaimana orang bisa menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan lebih bijak,” jelasnya.

Meski demikian, hal-hal tersebut sebenarnya tidak dapat dijadikan pemantik utama seseorang terperangkap radikalisme. Irfan mengatakan, perlu ada kecenderungan dari dalam diri seseorang yang mengarah pada radikalisme agar doktrin-doktrin tersebut bisa diterima.

“Seperti membakar rumput kering, artinya tidak serta-merta doktrin tersebut akan bekerja. Bila rumput yang dibakar itu basah, alias orang yang bersangkutan tidak memiliki ketertarikan dan keyakinan ke arah tersebut, akan tetap sulit,” jelasnya (ft/es)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s