Pelaku Teror : Dari Deradikalisasi ke Humanisasi

ba'asyir

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir

Fokustoday.com- Jakarta, 1 Februari 2019

Pengamat teroris Al Chaidar mengusulkan kepada pemerintah untuk menggantikan program deradikalisasi narapidana teroris dengan program humanisasi. Sebab program deradikalisasi selama ini ternyata gagal total gara-gara banyak narapidana teroris malahan makin radikal.

Salah satu program humanisasi itu, menurut Al Chaidar, ialah dengan pendidikan humaniora, secara formal maupun informal, agar teroris mengenal manusia lain dan menghormati perbedaan.

Para narapidana teroris harus dikenalkan pada komunitas plural yang beragam kultur dan bahasa agar mereka saling mengenal dan menghargai nilai kemanusiaan. Sebab mereka selama ini hidup dalam komunitas yang monolitik dan eksklusif, bahkan ada yang asosial atau anti-sosial.

Baca : Narasi Propaganda Radikalisme Di Kalangan Millenial

Manusia yang berniat untuk membunuh, menghilangkan, atau melakukan genosida terhadap manusia lain, menurutnya, harus dikeluarkan dari komunitas moral manusia. “Humanisasi adalah upaya melawan kekerasan, penindasan, dan dehumanisasi beserta efeknya; mengakui martabat yang melekat pada diri manusia dan hak-hak asasi semua anggota keluarga manusia,” ujarnya.

Al Chaidar juga berpendapat, humanisasi adalah kesediaan mengakui kemanusiaan lawan. Melihat musuh sebagai pihak di luar komunitas manusia dapat mendorong agresi dan melegitimasi kekerasan. Bagaimana pun, mengenali karakteristik manusia yang satu dengan yang lain dapat membantu untuk membatasi eskalasi konflik dan kekerasan.

Humanisasi, katanya, juga dapat membuka jalan bagi relasi timbal-balik pihak-pihak yang bermusuhan seraya membangun keyakinan dengan melakukan kesetaraan sesama manusia, menciptakan norma-norma bersama guna membatasi konflik.

Baca : [Gawat!] Butuh 20 Menit Membius Mahasiswa Jadi Radikal

“Sebaiknya, narapidana kasus terorisme, juga harus diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok, yaitu narapidana ideolog, narapidana radikal, dan narapidana simpatisan,” katanya.

Narapidana terorisme ideolog, misalnya, harus ditempatkan dalam sel terpisah dan pengawasan yang maksimal. Para tahanan pengikut radikal atau militan ditempatkan di sel khusus untuk pembinaan. Narapidana kategori simpatisan bisa ditempatkan di sel yang sama dengan tahanan umum.

“Dengan cara ini, diharapkan, setelah mereka bebas dari penjara, terpidana teroris tidak lagi kembali ke perilaku lama dan hubungan yang menjerumuskan mereka ke dalam lingkungan kekerasan dunia teror,” kata Al Chaidar. (ft/es)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s