Jubah dan Aksara Latin : Manakah Budaya Arab dan Islam ?

unnamed
Aksara Pegon , Hasil Akulturasi Jawa dan Arab

Fokustoday.com- Jakarta,3 Februati 2019

Beberapa tahun terakhir ini, apabila saya pulang ke kampung halaman di Madura, saya selalu melewati jalan di pantai utara. Panjangnya sekitar 110 km dari jembatan Suramadu sampai Pasongsongan, kota kecamatan di utara Sumenep.

Sepanjang perjalanan saya melihat kota-kota kecamatan tampak kian ramai dari waktu ke waktu. Pemandangan juga tampak indah. Masjid-masjid bagus berdiri di tiap kota kecamatan, didirikan oleh mereka yang sukses menjadi saudagar kaya di pulau Jawa dan Kalimantan. Sebagian dari rumpah perantau itu tidak kalah bagus dari rumah orang kaya di Pondok Indah, Jakarta.

Tak terasa pemandangan lain cukup menyolok saya saksikan. Munculnya satu dua restoran yang menjual makanan seperti Burger, kebab dan masakan Arab lain.

Suatu ketika hari Jumat. Jam 13.00 siang saya tiba di Tanjungbumi. Jemaah shalat Jumat baru usai menunaikan ibadah. Mereka berpakaian seperti pengikut FPI. Jubah putih ala Arab. Saya berpikir apakah mereka anggota FPI. Saya tanya kepada pemilik restoran. Jawabnya bukan. Mereka adalah anggota NU.

Saya merasa puas dengan jawaban itu. Saya sudah lama tahu bahwa ormas Islam yang memelihara budaya Arab di Madura pada umumnya adalah NU. Barzanji, diba’, mauludan, salawatan dan lain sebagainya adalah budaya-budaya Islam yang dibawa dari Arab.

Budaya-budaya itu sama sekali tidak populer di lingkungan Muhammadiyah. Orang-orang Muhammadiyah lebih akrab dengan musik Barat dan gaya berpakaian seperti orang Belanda.

Nah, kalau diba’ dan mauludan dikatakan budaya Arab, tunggu dulu. Arabnya memang bukan Arab Wahabi, tetapi Arab Sunni Syafii, jadi Arab sebelum munculnya Wahabi.

Catatan kecil ini pnting dibuat supaya kita tidak sembarangan berbicara tentang hubungan Islam dan budaya Arab. Kebudayaan Islam sejatinya tidak identik dengan kebudayaan Arab, Iran, Turki atau Melayu. Tetapi pada saat yang sama ia mengandung unsur Arab (`urubiyah) dan Iran/Persia. Tambah unsur Turki, India, Melayu, dan lain-lain.

Di banyak daerah di Indonesia khususnya di Jawa dan Madura unsur-unsur budaya asli nenek moyang juga masih hadir. Berpadu dengan unsur-unsur India yang dibawa oleh hadirnya agama Hindu dan unsur Arab-Persia yang dibawa oleh Islam. Bahkan ada pula unsur Cina, Portugis, Belanda, dan Amerika. Tidak masalah, karena semua itu diungkapkan kembali dengan cara tersendiri oleh orang Jawa dan Madura.

Di Buton misalnya, pakaian adat orang Buton itu seperti diilhami jubah Arab. Kalau agama Islam tidak tersebar dan dianut penduduk Buton, sebagaimana etnik lain di Nusantara, mana mungkin baju adat mereka kearab-araban?

Di bidang bahasa, pada abad ke-16 dan 17 M kata-kata Arab yang diserap ke dalam bahasa Melayu (asal-usul bahasa Indonesia sekarang) mencapai lebih 3.000 kata. Ini bisa dicek dalam kitab-kitab dan syair karangan Hamzah Fansuri, Bukhari al-Jauhari, Syamsudin Sumatrani, Nuruddin al-Rani, Abdul Rauf Singkili –semua itu penulis Melayu dari Aceh Darussalam.

Sedangkan dalam bahasa Jawa, kata Arab yang telah diserap mungkin sudah mencapai lebih dari 1.000 kata-kata. Lihat teks-teks karangan Yasadipura I dan II, Serat Centini, Serat Menak, suluk-suluk Sunan Bonang, Sununan Gunungjati, Sunan Kalijaga, dan lain-lain. Dari bahasa Melayu dan Jawa kata-kata itu kemudian diserap pula ke dalam bahasa Sunda, Madura, Sasak dan lain-lain.

Nah, seandainya agama Islam tidak diturunkan di Arab, tetapi di Yunani, sudah barang tentu orang Melayu yang memeluk agama Islam sejak abad ke-10 M pun tidak akan menulis kitab dan karangan sastra dalam aksara Arab Melayu atau Jawi. Tetapi akan menulis dengan aksara Yunani.

Dan itu tidak berarti ia keyunani-yunanian. Bukankah orang Indonesia sekarang menggunakan aksara Latin dan tidak dicela sebagai kelatin-latinan?

*Prof DR Abdul Hadi WM, Penyair dan Guru Besar Falsaafah dan Agama Universitas Pamaradina

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s