Pasca Pilkada DKI, Intoleransi Mulai Menyasar Anak-Anak.

9765460_20181201054222Fokustoday.com- Jakarta,4 Maret 2019

Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center, Ken Setiawan menilai, intoleransi di Indonesia sudah masuk stadium akut. Kondisi ini terjadi karena intoleransi bukan hanya menjangkiti pikiran orang dewasa saja, tetapi sudah sampai ke anak anak.

Menurutnya, kasus intoleransi pada mulanya eksis pada dan setelah Pilkada DKI. Pada saat itu sangat terasa, jangankan yang beda agama, sama-sama muslim saja dianggap murtad, bahkan kafir karena beda pandangan politik. Bahkan jenazah saja bila beda pandangan politik pun tidak layak disalatkan.

“Itu adalah preseden buruk demokrasi di Indonesia dan iklim tersebut sampai kini masih terasa. Ini tentunya harus diwaspadai oleh semua pihak,” kata Ken, Senin (4/1) di Jakarta.

Ken menceritakan, dulu ketika kecil biasa main bersama teman-teman yang berbeda agama dan tetap terjalin. Kini, banyak kasus anak-anak tidak mau berteman dengan sahabat yang beragama lain dengan alasan kafir. Kondisi ini diyakininya sangat bahaya bagi persatuan dan kesatuan Indonesia.

Baca : ISNU : Hoaks Bermotif Politis Ideologis Sangat Berbahaya

“Hari ini kita diadu domba, dan tanpa sadar kita sudah teradu domba, ribut antar suku antaragama, bahkan yang seagama juga ribut karena pandangan yang berbeda,” ujarnya mengingatkan.

Di sisi lain, diingatkan Ken, belakangan ini hoax atau kabar bohong juga sudah merajalela dan bahkan sudah menjadi makanan sehari-hati. Namun, lucunya masyarakat sering terjebak dengan menganggap berita hoax itu adalah sebuah berita fakta hanya karena dianggap berita itu mendukung pilihannya.

Baca : Usaha Bupati Tulangbawang Cegah Paham Radikal

Kasus intolerasi menurut Ken akan semakin kuat muncul ke permukaan bila ada kompetisi, termasuk pilkada dan pilpres. Dalam kompetisi, akan ada yang menggunakan segala cara untuk menjatuhkan lawan, salah satunya dengan memunculkan berita hoaxdan intoleransi supaya masyarakat terpecah-belah.

Ken menambahkan, saat ini masyarakat juga kurang selektif terhadap berita yang diterima, dianggap sesuai dengan pilihan dan pandangan mereka maka langsung disebar ke medsos tanpa saring.

Karena itu, menurutnya, masyarakat juga harus membudayakan cek dan ricek serta tabbayun agar tidak menjadi korban hoax dan intoleransi.

Baca : Islamisme Tarbiyah dan Salafi Wahabi Merusak Keberagamaan Kampus

“Boleh kita menganggap pilihan kita benar, tetapi jangan tutupi kebenaran orang lain dengan hoaxdan adu domba serta propaganda yang mengakibatkan perpecahan,” katanya.

Ken juga mencontohkan, 10 tahun yang lalu, kasus LGBT hanya ditemui di layar TV. Namun, hari ini sudah ada di depan mata, begitu juga kasus intoleransi.

‘Bila intoleransi dibiarkan maka kondisi ke depan akan sangat berbahaya seperti halnya kasus ISIS di Suriah yang pada awalnya merupakan kasus hoax dan intoleransi dan ternyata intoleransi itu adalah pintu gerbang radikal dan terorisme. Negara kita bisa saja seperti Suriah,” tutupnya. (ft/es)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s