A.S Laksana : Cara Jitu Hindari Rocky Gerung dan Ustadz Medsos

Fokustoday.com- Jakarta, 11 Februari 2019

IMG-20170119-WA0000

Rocky Gerung

Setiap kali saya membuka Youtube, video-video Indonesia yang paling sering direkomendasikan di halaman depan adalah video-video keributan: Rocky Gerung vs. Nusron Wahid, Rocky Gerung vs. Boni Hargens, Rocky Gerung vs. 200 Cebong, dan sejumlah video lainnya dengan tokoh utama Rocky Gerung. Yang bukan keributan, masih dengan tokoh utama Rocky Gerung, adalah klarifikasi tentang kenapa sampai sekarang ia tidak menikah.

Video-video Zakir Naik juga sering ditawarkan. Saya pernah satu kali mengklik video ceramahnya dan menonton Pak Naik menjawab pertanyaan seseorang dalam gaya membentak-bentak. Ia seorang pendebat; mungkin itu formula untuk membuat orang kebingungan, gelagapan, ruwet, dan akhirnya masuk Islam. Ada banyak petilan video Zakir Naik di Youtube yang memamerkan judul bagaimana ia membuat orang-orang lain masuk Islam.

Baca : Budiman Sudjatmiko : Rocky Gerung itu Limbung Teori dan Busung Nalar

Selain keributan, kategori lain yang kerap direkomendasikan adalah ceramah agama oleh para ustaz media sosial. Terakhir kali saya diminta menonton ceramah agama tentang onani yang dibolehkan dan cara berhubungan biologis saat haid.

Dari rekomendasi-rekomendasi tersebut, saya mendapatkan kesan bahwa kebanyakan dari kita menyukai pertengkaran dan agama. Atau, agar lebih akurat, kita lebih banyak memanfaatkan Youtube untuk mengunggah video-video keributan dan ceramah agama yang disengaja untuk sensasional.

Orang senang berbagi saja apa yang mereka sukai dan apa yang mendekam terus-menerus di dalam pikiran mereka. Dan semua video itu, baik keributan maupun ceramah tentang onani dan sebagainya, adalah bahan terbaik untuk buang-buang waktu dan menipu diri sendiri bahwa kita sudah berada di jalur yang benar: pilihan politik kita, cara kita beragama, atau cara kita meyakini apa saja.

Baca: Inilah Status Rocky Gerung di Universitas Indonesia (UI)

Keributan dan ceramah para ustaz media sosial tidak menarik untuk saya, tidak bermanfaat juga untuk anak-anak saya. Bagi anak-anak, saya pikir mereka bahkan akan membawa dampak korosif—dengan kata lain, merusak akal.

Rekomendasi untuk video-video berbahasa Inggris hanya mengikuti apa yang terakhir kali saya tonton atau topik apa saja yang pernah saya buka. Tentu saja video hewan-hewan sering disarankan sebab saya menyukai video hewan-hewan.

Recommended, kata Youtube tentang beberapa video. Saya klik salah satunya: Kuda laut jantan sedang mengejan dan menyemburkan bayi-bayi kuda laut yang ia kandung; jumlah bayinya lebih dari 1.800 ekor dalam satu kali melahirkan.

Menonton perilaku hewan-hewan menurut saya jauh lebih menggembirakan ketimbang menonton ceramah onani atau mengikuti perdebatan Rocky Gerung melawan 200 cebong. Adegan kuda laut menyemburkan bayi-bayi lebih pantas dikenang ketimbang adegan orang memuntahkan caci-maki.

Youtube sangat menarik sebab ia memberi saya kesempatan, untuk pertama kalinya dalam hidup, mendengarkan ceramah Richard Feynman, mengikuti kuliah satu semester yang membahas detail mikro karya-karya Hemingway, Faulkner, dan F. Scott Fitzgerald, menyimak ceramah Harold Bloom tentang Shakespeare, dan banyak lagi kuliah yang menyenangkan.

Di antara sumber-sumber terpercaya untuk mendapatkan pengetahuan, baik pengetahuan akademis maupun pengetahuan-pengetahuan praktis, Youtube adalah salah satunya. Namun, karena video-video yang tersedia dalam bahasa Indonesia lebih banyak video pertengkaran, mau tidak mau kita harus berpaling ke sumber-sumber dalam bahasa lain. Yang paling umum adalah bahasa Inggris. Mampus kita.

Ada banyak situs bagus untuk belajar, banyak di antaranya gratis, tetapi dalam bahasa Inggris. Itu sama artinya dengan tidak ada sumber sama sekali, atau serupa dengan anda mengatakan: Saya punya pacar paling keren, ia tinggal di Planet Uranus.

Keberlimpahan sumber pengetahuan hanya akan bermanfaat bagi orang-orang yang bisa mencerna bahasa Inggris. Namun, sebagus apa pun penguasaan bahasa Inggris anda, semua sumber pengetahuan itu tetap tidak ada artinya jika anda tidak memiliki niat, meskipun hanya sebesar upil, untuk belajar.

Orang yang bisa membaca tetapi tidak pernah membaca buku-buku bagus tidak memiliki kelebihan apa pun dibandingkan orang yang buta huruf. Pernyataan itu disampaikan pada awal abad keduapuluh oleh seorang pengawas pendidikan umum di AS. Ia mendorong disediakannya buku-buku bacaan bermutu untuk anak-anak.

Sebaliknya, orang yang buta huruf, meskipun memiliki semangat menggebu-gebu untuk mempelajari semua pengetahuan, ketika dihadapkan pada buku resep masakan pun ia akan sama tak berdayanya dengan simpanse memegang Das Kapital.

Jadi, apa boleh buat, untuk mereka yang memiliki gairah belajar tetapi buta huruf di hadapan bahasa Inggris, hal pertama yang perlu mereka miliki adalah kemampuan mencerna bahasa Inggris. Jika anda emoh mempelajarinya dan merasa cukup dengan bahasa Indonesia, dengan tingkat kecakapan seadanya, anda hanya akan mendapatkan luapan pertengkaran di internet.

Selanjutnya, anda perlu belajar bagaimana cara belajar. Penting untuk tahu bagaimana cara belajar. Orang bisa belajar apa saja dan tidak mendapatkan apa-apa jika ia tidak tahu cara belajar.

Beberapa waktu lalu ada sejumlah orang mengikuti pelatihan menulis. Separuh dari mereka tidak tahu kapan “di” harus dipisah dan kapan “di” harus ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kekeliruan mereka dibahas pada pertemuan pertama, termasuk kesalahan-kesalahan umum yang lain, dan mereka tampak serius menyimak. Pada akhir pelatihan, mereka mengumpulkan tulisan dan tetap melakukan semua kekeliruan yang sama seolah-olah mereka tidak pernah mendapatkan apa pun.

Saya pikir lebih baik mereka belajar yang lain. Ada banyak pelatihan di dunia ini yang bisa mereka ikuti: bertanam cabai, menjadi montir, menjinakkan ular, atau kecakapan-kecakapan lain di luar menulis. Lebih baik menjadi pawang kera nomor satu ketimbang menjadi penulis medioker.

Itu saran sungguh-sungguh dan saya punya alasan untuk itu. Persaingan di kalangan medioker terlalu ketat. Populasi di wilayah ini sangat padat dan tingkat sikut-sikutannya akan tinggi sekali—kurang lebih serupa dengan anda berebut di kawasan yang padat dan kumuh untuk mendapatkan sesuatu yang tidak seberapa berharga.

Persaingan di level tinggi tidak akan seketat itu. Wilayah ini hanya dihuni oleh sedikit orang. Anda akan lebih mudah mendapatkan tempat di level permainan tertinggi sebab lahannya masih longgar.

Maka, yang perlu kita pelajari adalah bagaimana mendapatkan kecakapan yang memadai untuk menjadi penghuni level tinggi. Anda perlu menyelidikinya. Setiap bentuk kemahiran, dalam bidang apa pun, selalu merupakan kumpulan dari keterampilan-keterampilan kecil.

Anda perlu menguasai seluruh aspek detail penulisan yang dikuasai oleh Garcia Marquez untuk bisa menulis sebagus tukang sihir dari Kolombia itu. Anda perlu menyelidiki bagaimana ia melatih diri dalam kecakapan membuat kalimat, memilih kata, membuat perumpamaan, menciptakan karakter, menulis dialog, membangun plot, melantur, dan sebagainya.

Di Youtube ada seseorang yang mengajarkan bagaimana cara menguasai keterampilan apa pun dalam waktu 20 jam, entah itu bermain ukulele atau menulis berita atau meningkatkan daya ingat atau menjinakkan anjing atau menjadi pemain gitar yang mampu memukau para penghuni gardu ronda. Tidak peduli apa pun keterampilan yang anda ingin kuasai, kata Josh Kaufman, anda bisa menguasainya dalam waktu 20 jam.

Pertama-tama anda menentukan kecakapan apa yang anda ingin kuasai dan memecahnya menjadi keterampilan-keterampilan kecil. Katakanlah, anda ingin terampil bermain gitar.

Pemain gitar yang hebat bisa melakukan perpindahan chord secara mudah, jari-jarinya selalu menekan senar pada titik yang tepat tanpa harus melihat, bisa memainkan melodi, bisa memainkan bas, tahu kapan berpindah chord, mahir memetik atau mencabik-cabik senar atau menggenjrengnya, dan sebagainya.

Anda mengidentifikasi semua detail terlebih dulu dan kemudian melakukan riset untuk mendapatkan 3-5 buku dan video sebagai pemandu anda dalam berlatih. Selanjutnya anda melakukan latihan-latihan spesifik untuk menguasai masing-masing detail itu.

Latihan-latihan spesifik inilah yang anda kerjakan satu demi satu secara fokus selama 20 jam. Mungkin anda memerlukan tempat sepi untuk berlatih. Anda bisa mengunci diri di kamar dan menjauhi apa saja yang berpotensi mengganggu: ponsel, laptop, dan saluran internet.

Jika di tengah jalan anda terpikir untuk berlatih sulap, tunda dulu. Anda berlatih sulap nanti setelah mampu bermain gitar sambil mengunyah permen karet. Pak Jimi Hendrix selalu tampak mengunyah sesuatu saat bermain gitar di panggung.

Latihan spesifik dalam 20 jam ini akan memberi anda keterampilan rata-rata saja. Tetapi setidaknya anda bisa memainkan lagu-lagu kesukaan dan tahu bagaimana cara belajar untuk menguasai sesuatu. Anda bisa melanjutkannya ke tingkat semahir apa pun jika anda masih ingin lebih mahir lagi.

Dua puluh jam adalah deadline jangka pendek. Anda perlu menetapkan deadline, sebab tidak ada urusan yang bisa anda tuntaskan tanpa deadline.

Saya orang yang tepat untuk membicarakan pentingnya deadline. Saya memiliki pengalaman amat berharga tentang hal itu: Empat belas tahun mengedit novel, sekarang memasuki tahun kelima belas, dan sampai sekarang belum rampung. Karena bosan ditanya orang, akhirnya saya berhasil mengembangkan alasan cemerlang (ini kemahiran terpenting para pemalas) untuk menjawab mereka: “O, novel itu terlalu bagus untuk dibaca orang lain, jadi akan saya baca sendiri saja.”

Anda tidak perlu ikut-ikutan membuat alasan. Lebih baik anda belajar bahasa asing.

Silakan mencoba sendiri apakah dalam 20 jam anda berhasil mencerna informasi dalam bahasa asing yang anda pelajari. Lalu anda belajar bagaimana cara belajar. Lalu anda memanfaatkan berkah internet sebagai sumber pengetahuan yang berlimpah ruah.

Itu cara terbaik untuk menghindari video-video keributan dan pengajian tentang onani yang dibolehkan dan cara berhubungan biologis saat haid. (ft/es/detik)

A.S. Laksana, jurnalis dan sastrawan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s