Quraish Shihab Tentang Kafir : Jangan Sembarangan Nuduh Orang Lain Kufur

Fokustoday.com- Jakarta, 21 Maret 2019

quraish-720x423

Quraish Shihab

Penyematan label kafir akhir-akhir ini marak digunakan oleh beberapa kalangan tertentu terhadap orang-orang di luar Islam. Bahkan, terhadap Muslim yang berada di luar golongannya pun tanpa ragu mereka berani menyebut kafir.

Namun apakah sebenarnya kafir itu? Mari kita simak penjelasan dari Quraish Shihab, pengarang Kitab Tafsir al-Mishbah, sebuah karya tafsir Alquran. Penjelasan ini dilansir dari sebuah wawancara antara Najwa Shihab dengan Qurasih Shihab pada laman narasi.tv.

Kafir dari Segi Bahasa

Menurut Quraish, dari segi bahasa, kata kafir terambil dari kata “kafara”, yang artinya adalah “menutup”. “Itu sebabnya petani yang mengambil benih, menanam ke tanah, baru menutupnya, itupun dapat – dari segi bahasa – dinamai kafir,” ujar Quraish.

Bahkan ketika Allah SWT menutupi dosa dan membatalkan sanksi terhadap seseorang karena telah melakukan pelanggaran, Allah SWT menyebutnya dengan istilah kafara, yang berarti menutupi dosanya. “Jadi, kafir (atau) kafara itu (artinya) menutupi,” kata Quraish.

Baca : Habib Ali Zainal Abidin : Teguran Pada Orang Yang Merasa Yakin Masuk Surga

Kafir dari Segi Agama

Adapun dari segi agama, Quraish mengatakan bahwa kafir itu artinya bermacam-macam. Pertama, kata yang ditujukan terhadap seseorang yang menutupi kebenaran tentang agama dan keesaan Allah, padahal dia tahu bahwa itu benar. Inilah tingkatan kafir yang paling tinggi.

Kedua, orang yang menutupi kebenaran, namun sesungguhnya itu karena dia tidak memiliki informasi yang cukup.

Ketiga, orang yang percaya kepada Allah dan ajaran agama-Nya, namun dia tidak melaksanakannya. Dengan kata lain, ketika dia menutupi pelaksanaan ajaran agama, dia bisa disebut kafir. Sebagai contoh, orang yang tidak melaksanakan shalat, atau kikir terhadap hartanya, dari segi Alquran, itu pun dapat dikatakan kafir.

Baca :  Tidak Paham Tashrif , Tapi Sudah Bahas Khilafah, Jihad, Kafir dan Negara Islam

Hukum Menuduh Muslim lain Kafir

Namun dari semua itu, menurut Quraish, yang buruk itu ketika seseorang menuduh orang lain kufur, padahal bukti tentang kekufurannya belum terkumpul. Imam Ghazali berkata, jika ada seseorang yang melakukan pelanggaran agama, dan sudah terbukti 99 persen, jangan dulu tuduh dia sebagai kafir, karena itu belum mencapai 100 persen.

Nabi bersabda, “Siapa yang menuduh orang lain kafir (dalam arti keluar dari agama, padahal dia tidak keluar dari agama), maka dialah yang menuduh itu yang dinilai (oleh) Allah (sebagai) kafir.”

Kepada orang menuduh saudaranya kafir, “Allah justru menilai dia kafir. Kenapa kamu ucapkan pada saudaramu kafir? Padahal dia tidak kafir,” kata Quraish.

Baca : Haikal Hasan Jelaskan Lafadz “Kafir” Namun Tidak Faham Ilmu Nahwu

 Non-Muslim itu Kafir dan Wajib Diperangi?

Kemudian ketika ada kelompok yang menuduh non-Muslim kafir, dan mereka wajib diperangi, Quraish berpendapat, “Oh itu salah besar. Kita ambil satu contoh dalam hukum pun ada yang dinamai kafir dzimmi.”

Menurut Quraish, secara penamaan mereka memang kafir, tapi dzimmi, yang artinya adalah non-Muslim yang diberi keamanan. Nabi berkata, “Siapa yang memusuhi (atau) yang menganiaya seorang kafir dzimmi, maka akulah musuhnya.”

Quraish selanjutnya menjelaskan, “Alquran bahkan menyatakan kalau ada seorang musyrik yang datang meminta perlindungan kepada kamu, lindungi dia agar dia bisa mendengar ayat-ayat Allah.” Apabila kemudian orang musyrik tersebut mau masuk Islam, maka dia harus diterima. Apabila dia tidak mau, maka antarkanlah dia ke tempat tujuannya sampai aman.

“Jadi tidak ada istilah kalau kafir lantas bisa dianiaya, bisa ditipu, apalagi disiksa, apalagi dibunuh. Tidak. Allah memberi kesempatan kepada setiap orang untuk menganut apa yang dipercayainya. Allah memberi kebebasan nurani kepada setiap orang,” lanjut Quraish.

Allah SWT berfirman, “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. (QS. Al Mumtahanah: 8)

Menanggapi ayat di atas, Quraish berkomentar, “Mereka itu adalah saudara-saudara kita satu kemanusiaan walaupun tidak seagama.” (ft/des)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s