Derita Pilu Jihadis Eks ISIS. Ceritanya Mengejutkan !

Fokustoday.com- Jakarta,25 Maret 2019

Perlawanan-terhadap-ISIS-di-Indonesia-Identitas-Nasional-Kalahkan-Radikalisme-Agama

Para demonstran memegang bendera ISIS, pada tanggal 18 Juli 2014. (Foto: AFP Photo/Tauseef Mustafa)

Tak sedikit warga Indonesia yang tergiur dengan kehidupan utopis yang ditawarkan ini. Sejak tahun 2014, sudah ada lebih dari 1.000 warga Indonesia yang pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS, banyak dari mereka membawa serta keluarga. Namun, sesampainya mereka di sana, mereka tak menemukan kenyataan seperti yang ada di propaganda ISIS.

Keluarga dipisahkan, para laki-laki dipaksa mengikuti pelatihan untuk mengetahui cara menggunakan senjata, dan para perempuan dan anak-anak ditempatkan di kamp kotor bersama perempuan dan anak-anak lain, di mana sering terjadi perkelahian dan pencurian. Para wanita ini juga dipaksa menikah dengan para pejuang ISIS, yang biasanya hanya menikah untuk satu minggu atau beberapa bulan saja sebelum menikah dengan perempuan lain.

Baca : Akhirnya ISIS Tumbang Total

Beberapa orang yang telah berhasil kabur dari kamp ISIS dan pulang lagi ke Indonesia menyatakan penyesalan mereka telah membuat keputusan untuk bergabung dengan ISIS.

NUR DHANIA

Melalui internet, Nur Dhania menemukan kisah yang dimuat di blog Tumblr tentang kehidupan umat Muslim di bawah kekuasaan ISIS di Suriah. Ia juga melihat video-video pengakuan simpatisan ISIS yang menjamin “surga dunia dan akhirat”, yang akhirnya membuatnya yakin untuk memboyong keluarganya termasuk nenek, keponakan, paman, bibi, dan sepupunya ke Suriah.

Dalam setahun tinggal di kamp ISIS, Nur Dhania mengalami hal-hal buruk yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Nur Dhania sering dikunjungi pejuang ISIS dan dipaksa untuk menikah, namun ia berulang kali menolak. Neneknya meninggal karena sakit, pamannya tewas dalam serangan udara, dan beberapa anggota keluarganya yang lain hilang.

Baca Juga: JAD vs JI. Beda Teroris, Beda Style Jihadnya.

Setelah pulang ke Indonesia, Nur Dhania mengaku sangat menyesal telah tergiur dengan propaganda ISIS. Ia juga masih menyalahkan dirinya karena telah membawa keluarganya ke Suriah. Ayah dan pamannya sekarang harus mendekam di penjara karena telah mengikuti pelatihan paramiliter ISIS dan dianggap telah terlibat terorisme.

DIFANSA RACHMANI

Ibu tiga anak ini memutuskan untuk pergi ke Suriah karena tergiur dengan layanan kesehatan gratis di sana. Dia perlu operasi di bagian leher tapi biayanya sangat mahal di Indonesia. Salah satu anaknya juga mengidap autisme. Difansa berangkat ke Suriah dengan harapan dia dan anak-anaknya mendapat fasilitas kesehatan gratis di bawah kekuasaan ISIS.

Setibanya di Suriah, Difansa tidak menemukan kehidupan seperti yang ada di propaganda ISIS. Dia menyadari semua yang ISIS katakan di internet sangat berlainan dengan kenyataan yang ada di sana. Beberapa bulan setelah ia tinggal di kamp ISIS, dia mencari berbagai cara untuk pulang ke Indonesia.

Sekarang ia dan anak-anaknya telah pulang ke Indonesia. “Oh luar biasa, Mbak, penyesalannya. Tapi kita tidak bisa mengembalikan waktu ya. Kalau bisa dikembalikan waktu,” katanya saat diwawancarai oleh Pusat Media Damai (PMD) Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

HERU KURNIA

ISIS itu sadis, kata Heru Kurnia dalam video yang dibuat oleh unit kontra-terorisme BNPT pemerintah Indonesia.

Heru, yang sekarang menjalani hukuman penjara karena telah mengikuti pelatihan di kamp ISIS, mengatakan bahwa ISIS adalah tempat segala kebusukan, di mana nyawa manusia sangat murah di mata kelompok militan itu.

Ia juga mengatakan bahwa kekerasan sering terjadi di sana. Di kamp pelatihan, teman-temannya pernah dianiaya oleh guru pelatihan dan pejuang ISIS lain, namun ia hanya bisa menyaksikan karena takut untuk membela teman-temannya itu.

Keadaan di kamp ISIS sangat membuatnya tertekan. Ia mengaku sangat menyesali keputusannya untuk bergabung dengan ISIS. Setelah tiba di Indonesia dan diadili, hakim mempercayai ketulusan dalam penyesalannya, namun Heru tetap harus mengikuti proses hukum dan menjalani hukuman karena telah belajar ajaran ISIS dan mengikuti pelatihannya.

IMAN SANTOSO

Mei 2018, setelah ia berhasil pulang ke Indonesia, Iman diadili dan divonis penjara empat tahun. Ia didakwa karena terbukti bersalah telah melakukan tindak pidana terorisme dengan menjadi simpatisan ISIS di Suriah.

Baca Juga: Quraish Shihab Tentang Kafir : Jangan Sembarangan Nuduh Orang Lain Kufur

Hukuman yang diterima Iman ini lebih rendah dari tuntutan jaksa yaitu tujuh tahun penjara. Hal ini dikarenakan hakim menilai bahwa Iman Santoso masih berkomitmen terhadap NKRI, dan ia juga sempat dianiaya di kamp ISIS karena berupaya mencegah perekrutan ISIS.

DWI JOKO

Dalam video Indonesia

Dwi Joko berangkat ke Suriah setelah mendengar ceramah Iman Santoso. Iman dilaporkan rutin menyampaikan ceramah mengenai kewajiban berjihad bagi Muslim. Setelah ia dan keluarganya tiba di Suriah, ia mengaku sangat kesal setelah tertipu oleh janji sekolah gratis dari ISIS untuk anak-anaknya. Malah, anak gadisnya rutin ditawar untuk dinikahi para pejuang ISIS.

Di kamp ISIS, Dwi Joko sempat dianiaya oleh sesama tahanan karena menjelaskan kehidupan di bawah kekuasaan ISIS yang sangat berbeda dengan propaganda yang ada di internet.

Kini Dwi Joko sedang menjalani hukuman empat tahun penjara karena dua dakwaan: membuat ancaman teror dengan sengaja mengikuti pelatihan paramiliter di Raqqa, Suriah; dan membantu dan mendanai kelompok terorisme.

MUHAMMAD RAIHAN

Pemuda ini pergi ke Suriah bersama dengan keluarganya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di bawah naungan ISIS. Namun, tak berbeda dengan warga Indonesia lain yang tertipu oleh propaganda ISIS, ia mengaku bahwa kedamaian hanyalah angan-angan setibanya ia di tanah ISIS. Selama hidup di kamp ISIS, Raihan telah menjadi saksi kedustaan kelompok teroris biadab itu.

Namun, bagai keluar dari mulut harimau masuk ke mulut buaya, setelah ia dan keluarganya pulang ke Indonesia, kehidupannya berbeda dengan kehidupan yang ia miliki sebelum pergi ke Suriah. Ia sekarang hidup kekurangan, dan orang-orang yang ia kenal sebelumnya sekarang menaruh curiga kepadanya karena ia pernah bergabung dengan ISIS.

Ia mengaku telah menyesal telah pergi ke Suriah dan bergabung dengan ISIS. Ia berharap orang lain bisa mempercayai penyesalannya dan tidak berprasangka buruk kepadanya lagi. “Kenalan dulu lah, aku itu orangnya kayak gimana, jangan menilai dari bekasnya ISIS. Banyak orang nilai jangan melihat orang dari luarnya tapi nyatanya masih banyak orang yang begitu,” katanya saat ditanyai di program acara Rosi, KompasTV.

LASMIATI

Dari awal, dia pergi ke Suriah hanya berniat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik untuk keluarganya. Di sana ia dan keluarganya hanya ingin menjadi warga sipil dan tidak ikut bertempur bersama pejuang ISIS. “Saya menyesal,” jelasnya saat diwawancarai PMD BNPT.

Tak berbeda dengan Raihan, ia juga menerima perlakuan yang sama dari masyarakat setelah ia pulang dari Suriah. Padahal, ia hanya tertipu oleh janji palsu ISIS.

“Mereka (masyarakat) boleh curiga dengan kami, tapi alangkah baiknya kecurigaan itu dihilangkan saja. Kami insya Allah akan menjadi warga negara yang baik. Kami tidak akan mau lagi hal itu terulang kepada kami lagi,” katanya saat berada di program acara Rosi, KompasTV, bersama Raihan dan Nur Dhania.(ft/des/matapolitik)

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s