Dukungan Dari Radikalis Islam Berbuah Kekalahan Untuk Prabowo

Fokustoday.com- 20 April 2019

Prabowo-Subianto-di-Reuni-212-2018

Langkah Prabowo dengan menggandeng Islam Garis Keras dibayar mahal dengan kekalahan Pilpres 2019

Untuk kampanyenya di Pilpres 2019, Prabowo Subianto telah menarik dukungan kelompok-kelompok Islam garis keras, berharap hal itu akan menarik pemilih Muslim konservatif memilihnya. Walau berhasil memperkecil selisih dari kandidat petahana Joko Widodo, hasil quick count menemukan, ia masih belum berhasil mengalahkan presiden. Apa penyebabnya?

Jika hasil hitung cepat Pilpres 2019 pada Rabu (17/4) benar, itu berarti Presiden Joko Widodo berhasil mengalahkan lawannya, Prabowo Subianto, dengan margin sekitar 10 poin persentase.

Bagi para lembaga survei yang melacak kedua kandidat selama delapan bulan terakhir, hasilnya tidak mengejutkan. Indikator, IndoBarometer, CSIS, Kompas, dan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), telah memprediksi kemenangan Jokowi dan pasangannya, Ma’ruf Amin, meskipun dengan margin kemenangan yang lebih luas.

ADVERTISEMENT

Jokowi

Jika Prabowo dan Sandiaga Uno mampu menutup kesenjangan, mengapa mereka tidak bisa menutup kesenjangan lebih besar, tidak seperti Jokowi pada Pilpres 2014 yang mengalahkan Prabowo dengan 6 poin persentase.

Bagi Prabowo, itu bukan karena ia kurang berusaha. Lembaga survei mengatakan bahwa mantan jenderal itu memenangkan empat provinsi lebih banyak dibandingkan pada tahun 2014, meskipun hasil resmi Pilpres 2019 belum keluar dan mungkin baru akan dirilis pada bulan Mei.

Ke-14 provinsi ini—diperkirakan mencakup Jawa Barat, Banten, dan Sumatra Utara—dikenal sebagai tempat paling konservatif di Indonesia. Sejak Pilpres 2014, para pendukung Prabowo telah menggambarkan Jokowi sebagai musuh Islam, seorang komunis, dan seorang Kristen, meskipun Jokowi adalah seorang Muslim Jawa yang taat. Upaya mereka untuk mendiskreditkan kebijakan Jokowi telah berubah menjadi sentimen anti-China, dan serangan ini mencapai puncaknya pada tahun 2017.

Saat itulah sekutu Jokowi, Basuki Tjahja Purnama, atau Ahok—seorang Kristen Tionghoa—mencalonkan diri sebagai Gubernur Jakarta. Para pendukung Prabowo melakukan serangan, mengklaim bahwa Ahok melakukan penistaan agama, dan bahwa dengan memilih seorang Kristen maka mereka akan masuk neraka.

Kampanye hitam—yang menurut surat kabar Jakarta Post adalah kampanye “yang paling kotor, paling terpolarisasi, dan paling memecah belah yang pernah ada”—membantu membawa kejatuhan Ahok, terlepas dari prestasinya dan peringkat persetujuannya yang tinggi.

Hasilnya sangat menyulut semangat para garis keras, sehingga Habib Rizieq Shihab—pendiri Front Pembela Islam (FPI)—ingin kubu Prabowo menggunakan kembali strategi itu untuk menjatuhkan Jokowi.

Namun Jokowi waspada dan menyadari bahwa ia mungkin akan kalah dalam upayanya untuk masa jabatan kedua, dan memutuskan untuk melindungi dirinya sendiri dengan bekerja sama dengan organisasi Muslim terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama (NU).

Dia memilih Ma’ruf Amin, seorang tokoh senior di NU, sebagai calon wakilnya dan memecah lawan-lawan lslamisnya—misalnya memberikan posisi untuk lebih menerima dia, dan melarang kelompok militan Hizbut Tahrir, saingan NU. Tindakan-tindakan ini memperkuat posisinya di jantung NU di Jawa Tengah dan Timur, dua provinsi terpadat di Indonesia.

Pada saat yang sama, Jokowi mendapat keuntungan dari pertumbuhan ekonomi. Memang dia disalahkan karena ekonomi hanya tumbuh 5 persen—kurang dari 7 persen yang dijanjikannya—dan terlalu mengandalkan perusahaan milik negara untuk proyek infrastrukturnya.

Bahkan Sandiaga, selama lebih dari 1.500 kunjungannya ke pemilih di seluruh Indonesia dan debat antara calon presiden, juga menyerang kebijakan ekonomi Jokowi karena tidak memberi manfaat kepada masyarakat miskin dan mereka yang berjuang dengan meningkatnya biaya hidup.

Jokowi juga mendapat keuntungan dari kelompok-kelompok Islamis yang melebih-lebihkan kekuatan mereka. Para pemilih moderat dan minoritas kecewa ketika Jokowi memilih Ma’ruf—yang berperan penting dalam menjatuhkan Ahok dan pernah melarang umat Islam untuk mengatakan “Selamat Natal” kepada umat Kristen—dan merasa kecewa dengan kurangnya perhatian Jokowi terhadap masalah hak asasi manusia.

Mereka mungkin berpikir untuk golput, tetapi akhirnya memutuskan untuk memberikan suara untuk Jokowi, yang menyebabkan kekhawatiran rendahnya jumlah pemilih atau banyaknya surat suara rusak—yang mungkin akan menguntungkan Prabowo—tidak terwujud.

Dari 192 juta pemilih terdaftar, sekitar 80 persen pergi ke lebih dari 800 ribu tempat pemungutan suara untuk mencoblos surat suara mereka, mungkin khawatir bahwa jika mereka golput, itu akan menghasilkan kemenangan Prabowo dan tindakan keras terhadap hak-hak mereka.

Contoh kasus Meiliana muncul dalam pikiran. Wanita etnis Tionghoa Buddha yang tinggal di Sumatra Utara ini, ditangkap dan dikirim ke penjara selama 18 bulan karena secara pribadi mengeluh kepada tetangganya bahwa azan dari sebuah masjid di dekat tempat tinggalnya terlalu keras. Ini menyebabkan penyerangan, pembakaran, dan perampokan kuil-kuil China setempat, dan pada akhirnya, mereka yang bertanggung jawab hanya mendapat hukuman yang sangat ringan.

Pada akhirnya, latar belakang Prabowo sebagai seorang mantan pemimpin militer yang dicurigai melakukan pelanggaran HAM—sesuatu yang mengacaukan upaya sebelumnya untuk jabatan yang lebih tinggi—tidak terlalu menjadi masalah dibandingkan kemampuan Jokowi untuk mendapatkan dukungan dari orang-orang moderat.

Prabowo berusia 67 tahun, dan ini kemungkinan akan menjadi upaya terakhir baginya. Namun Sandiaga baru berusia 49 tahun dan bisa mencalonkan diri sebagai presiden pada tahun 2024, karena Jokowi tidak akan diizinkan untuk bertarung lagi.

Periode kampanye telah memberikan pengakuan nasional kepada Sandiaga, dan jika Prabowo mundur dari politik, Sandiaga dapat dengan mudah mengambil alih kendali Gerindra—partai Prabowo yang kemungkinan akan menjadi yang terbesar kedua di Parlemen.

Sandiaga mendapat manfaat dari dukungan kaum Islamis, tetapi tidak pernah mengibarkan bendera mereka di tiangnya, memilih untuk menggambarkan dirinya sebagai seorang Muslim yang saleh namun toleran dan moderat. Fokusnya pada ekonomi membuatnya masih akan memiliki daya tarik bagi pemilih, yang membuka pintu ke kontes lain.

Ini sama sekali bukan berarti bahwa kaum Islamis tidak akan lagi menjadi faktor penting pada tahun 2024. Konservatisme agama saat ini sedang tumbuh di Indonesia seiring pertumbuhan bertahun-tahun sekolah-sekolah berorientasi salafi, yang didanai oleh Arab Saudi.

Dan seperti yang diperlihatkan oleh hasil hitung cepat, jika Prabowo-Sandi mendominasi 14 provinsi dengan menggambarkan Jokowi sebagai anti-Islam, maka dalam perlombaan terbuka dan luas pada tahun 2024, para kandidat dapat berusaha merayu para fundamentalis agama untuk mengumpulkan suara.

Namun, kemungkinan kemenangan Jokowi menunjukkan bahwa mereka masih bisa dikalahkan, jika koalisi masyarakat moderat dapat termotivasi untuk bersatu dan meniadakan masalah agama dalam pemilu. Ini adalah pelajaran yang dapat diambil dari Pilpres 2019. (ft/des)

Yohanes Sulaiman adalah Dosen Hubungan Internasional di Sekolah Pemerintahan di Universitas Jenderal Achmad Yani di Cimahi, Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s