Aksi Bela Islam dan Tantangan Demokrasi Politik Indonesia

Fokustoday.com- Jakarta, 25 April 2019

Malam-Munajat-Twitter-Fadli-Zon-2-768x542

Suasana Malam Munajat 212 di lapangan silang Monas, Jakarta, 21 Februari 2019. (Foto: Twitter/Fadli Zon @fadlizon)

Indonesia telah lama dijadikan sebagai percontohan bagaimana pluralisme bisa hidup berdampingan dengan kesalehan Muslim. Namun hal ini sepertinya telah berubah. Sebagian besar karena Arab Saudi dan uang mereka.

Negara-negara Muslim seringkali dihadapkan pada ancaman ganda: ekstremisme dan otoritarianisme. Tapi Indonesia telah lama menentang gagasan tersebut. Indonesia adalah negara di mana kesalehan Muslim, pluralisme, dan demokrasi telah hidup berdampingan selama bertahun-tahun.

Tapi tampaknya saat ini ada perubahan yang terjadi di Indonesia: terdapat peningkatan pengaruh Islam garis keras dan yang dipolitisasi, sebagian karena Arab Saudi dan uang mereka.

Hal ini berdampak pada Pilpres 2019, di mana petahana Joko Widodo menghadapi tantangan yang sulit. Sebagai seorang moderat pada Pilpres 2014, Jokowi kerap disamakan dengan Presiden Obama, sebagai tokoh dari luar elit politik yang memberikan harapan.

Tapi Jokowi bukan satu-satunya target.

Tidak ada saat-saat yang lebih fenomenal daripada unjuk rasa terbesar dalam sejarah Indonesia: Aksi Bela Islam 212. Unjuk rasa ini menuntut pemenjaraan Ahok setelah Ahok dituduh telah menistakan Alquran. Unjuk rasa ini mengumpulkan lebih dari 700.000 orang yang membanjiri jalan-jalan di Jakarta.

Beberapa penceramah bahkan diketahui menyelipkan isu Ahok dalam ceramah mereka, dengan mengatakan bahwa siapa pun yang mendukung Ahok tidak akan masuk surga.

Sebuah laporan oleh Institute for Policy Analysis of Conflict menunjukkan bagaimana berbagai jaringan kelompok Islamis menggalang para pengikut mereka untuk ikut unjuk rasa penahanan Ahok. Ahok setelahnya kalah pada Pilgub 2017 dan dijatuhi hukuman dua tahun penjara.

Itu adalah saat-saat yang mengejutkan, di mana negara bertentangan dengan prinsip-prinsip demokratisnya, yang diduga didorong oleh meningkatnya intoleransi beragama.

Siapa sebenarnya yang berada di balik fenomena ini?

Salah satu tokohnya adalah Bachtiar Nassir, seorang aktivis yang dididik di Arab Saudi, yang memiliki lebih dari satu juta pengikut di Instagram. Dia mewakili pengawal Islam yang lebih konservatif di Indonesia. Dia dan para sekutunya mempromosikan Islam dengan versi yang lebih puritan, yang disebut juga sebagai Salafisme, yang telah tersebar di negara-negara Islam, dengan bantuan uang Saudi.

Melalui sekolah dan media, tujuannya adalah untuk mengubah masyarakat Indonesia dari generasi ke generasi.

Tak peduli bagaimana hasil Pilpres 2019, unjuk rasa Aksi Bela Islam telah mengubah politik di Indonesia. Tahun lalu, Jokowi memilih ulama senior Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presidennya, untuk mencegah serangan terhadap kredibilitas Islamnya.

Aksi Bela Islam juga telah mengubah masyarakat. Sebelum pergolakan itu (pada tahun 2016), 42 persen masyarakat Muslim Indonesia percaya bahwa hanya orang Muslim yang boleh menjabat dalam jabatan politik. Itu sudah cukup buruk. Tapi tahun lalu, angka itu meningkat menjadi lebih dari 54 persen.

Semua ini menunjukkan bahwa agama telah menjadi penanda politik identitas baru di Indonesia, menurut Peter Mumford dari Eurasia Group.

Indonesia telah lama menjadi model negara moderat di dunia Muslim yang dipenuhi dengan pemerintahan yang otoriter dan kacau. Tren yang terjadi di Indonesia saat ini, bisa menjadi ancaman yang lebih besar bagi dunia. (ft/des)

Oleh: Fareed Zakaria (CNN)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s