Pasca Bom Sri Lanka, Efek Terorisme 3.0 Tumbuh

Fokustoday.com- Jakarta, 2 April 2019

Teroris-3.0-768x542

Gambar ini—yang dirilis pada tanggal 23 April oleh media ISIS Amaq—diduga menunjukkan orang-orang yang melakukan serangkaian ledakan bunuh diri pada hari Minggu Paskah (21/4) di Sri Lanka. Pria di tengah diyakini sebagai Zahran Hashim, pemimpin NTJ. (Foto: Amaq/Asia Times)

ISIS telah berubah menjadi organisasi berbasis internet yang memicu kelompok-kelompok dan serangan di seluruh dunia. Jaringannya yang tersebar secara global dan sangat fasih menggunakan internet menjadikannya terorisme jenis baru, terorisme 3.0. Sekedar menghancuran kekhalifahannya tidak akan menghentikan mereka.

Sebelumnya, hanya sedikit orang Amerika yang kemungkinan dapat menemukan Sri Lanka di peta, atau bahkan tidak ingat nama kolonial Inggrisnya, Ceylon. Tetapi negara Samudra Hindia itu melintas di layar berita selama akhir pekan Paskah, dengan serangkaian pengeboman yang sangat canggih dan mematikan di seluruh negara kepulauan yang berpenduduk sekitar 20 juta jiwa itu.

Serangan-serangan itu mungkin terinspirasi, didorong, dan bahkan dibantu oleh ISIS, dan—berdasarkan populasinya—merupakan serangan yang mencapai tingkat 9/11 di negara multikultural dan multireligius itu, yang menewaskan lebih dari 320 orang sejauh ini di sembilan lokasi, di mana ratusan lainnya terluka.

Serangan itu dilakukan dengan pelaku bom bunuh diri dan bom rakitan, yang dieksekusi pada tingkat yang tampaknya jauh melampaui kemampuan kelompok Islam radikal Sri Lanka, Nations Thawahid Jaman, yang telah mengklaim bertanggung jawab.

Sebelumnya, kelompok itu mengkhususkan diri dalam perusakan patung Buddha (70 persen orang Sri Lanka beragama Buddha). Gagasan bahwa organisasi ini tiba-tiba dapat merencanakan dan melakukan serangkaian pengeboman berskala nasional yang tepat waktu, tampaknya sangat tidak mungkin. Dengan demikian tumbuh kecurigaan bahwa ISIS terlibat pada tingkat operasional—sebuah modus operandi terkait dengan globalisasi mereka yang meningkat.

Selamat Datang di Terorisme 3.0. Cara untuk berpikir tentang evolusi terorisme global sedikit mirip dengan perilisan perangkat lunak komputer baru—yang meningkat selama beberapa dekade. Terorisme 1.0 di era modern terjadi pada tahun 1980-an—Brigade Merah Italia, geng Baader-Meinhof Jerman, Sendero Luminoso dari Peru, dan Organisasi Pembebasan Palestina, antara lain. Mereka terputus dan fokus secara nasional pada umumnya.

Terorisme 2.0 muncul setelah jatuhnya Tembok Berlin, dan diwujudkan oleh kebangkitan kelompok-kelompok radikal termasuk al-Qaeda, Al-Shabab, Boko Haram—pada dasarnya kelompok-kelompok regional dengan jangkauan internasional sporadis.

Dalam Terorisme 3.0, kita melihat ISIS—sebuah organisasi yang inovatif secara global, sangat mematikan, dan berkemampuan finansial. Walau Barat telah mampu menekan teritori ISIS, dan secara efektif menjatuhkan kekhalifahan geografisnya di Irak dan Suriah, namun ISIS telah berubah menjadi organisasi berbasis internet yang terus melakukan serangan yang sangat canggih dan membangun kelompok-kelompok di seluruh dunia.

Peta global yang menunjukkan serangan yang terinspirasi atau dilakukan oleh ISIS sangat mengejutkan dan jauh melampaui apa pun yang telah dilakukan al-Qaeda. Dan, tidak diragukan, ISIS akan terus melakukan serangan mematikan, berupaya dari waktu ke waktu untuk memperoleh senjata pemusnah massal—kimia, biologi, radiologis, dan dunia maya.

Bahkan ketika AS telah mulai berpaling dari operasi kontraterorisme untuk menghadapi tantangan baru dari China dan Rusia, ISIS tidak memiliki niat untuk menghentikan operasi meskipun kehilangan wilayahnya. Jadi pertanyaannya tetap, bagaimana Amerika dan sekutu-sekutunya mengatasi ancaman yang sedang berlangsung ini, dan mengakui—seperti yang dilakukan Strategi Keamanan Nasional AS terbaru—bahwa lebih banyak sumber daya harus dikhususkan untuk potensi konflik “berkualitas tinggi” dengan pesaing terdekat seperti China dan Rusia.

Agar dapat berurusan secara efektif dengan kelompok yang semakin ambisius ini dan strategi berbasis internet mereka yang baru muncul, kita akan membutuhkan tiga upaya utama. Yang pertama adalah terus menginternasionalkan perjuangan melawan ISIS.

Koalisi melawan ISIS memiliki lebih dari 70 negara dan organisasi internasional yang berpartisipasi pada satu tingkat atau lebih, dan merupakan warisan pemerintahan Obama yang diambil oleh tim Trump. Sayangnya, perancang utamanya—pensiunan Jenderal John Allen dan diplomat Brett McGurk—keduanya telah disingkirkan oleh Trump.

Kita perlu menunjuk para profesional baru untuk memandu upaya ini, dan agar AS menegaskan kembali dirinya sebagai pemimpin. Pesan kepada komunitas internasional di Suriah bukanlah bahwa “misi tercapai,” melainkan menandakan perlunya melipatgandakan upaya kita dalam mengoordinasikan dan berbagi intelijen untuk menanggapi gerakan ISIS.

Kedua, kita akan membutuhkan tingkat kerja sama antar-lembaga yang lebih baik, khususnya dalam intelijen, aksi militer, diplomasi, dan kegiatan pembangunan (USAID dan kelompok pemerintah lainnya). Upaya kami masih sangat tinggi dalam hal kontraterorisme. National Counterterrorism Center adalah kelompok antarlembaga yang baik, tetapi membutuhkan kekuatan operasional yang lebih nyata untuk benar-benar efektif.

Awal yang baik bagi AS adalah mengembangkan strategi nasional untuk melenyapkan ISIS dan organisasi teror global terafiliasi lainnya, yang ditulis dan dieksekusi secara paralel dengan strategi resmi lainnya seperti keamanan tanah air, keamanan siber, dan pertahanan rudal.

Upaya utama ketiga adalah kerja sama swasta-publik. Ini termasuk bekerja—dan berbagi intelijen sampai batas tertentu—dengan organisasi non-pemerintah swasta seperti Interpol, Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, Doctors Without Borders, Operation Hope, dan entitas lain yang mencoba untuk mengatasi kemiskinan dan penyakit yang membantu menciptakan peluang perekrutan untuk organisasi teroris.(ft/des/bloomberg)

Ini juga termasuk bekerja dengan raksasa teknologi—terutama Google, yang telah melakukan pekerjaan sinyal di bidang ini—untuk mencabut akses organisasi teror ini ke jaringan sosial. Sebuah buku baru karya Peter Singer dan Emerson Brooking, Like War: The Weaponization of the Social Networks, menguraikan hal ini dengan baik.

Terorisme 3.0 akan terus menyebar seperti kanker global, yang dipercepat dengan internet. Kita tidak hanya membutuhkan solusi klasik seperti yang kita lihat di Suriah dan Irak, tetapi juga kombinasi alat abad ke-21, jika kita ingin mengendalikan dan akhirnya menaklukkannya.

Penulis James Stavridis adalah kolumnis Bloomberg. Dia adalah pensiunan laksamana Angkatan Laut AS dan mantan komandan sekutu tertinggi NATO, dan dekan emeritus dari Fakultas Hukum dan Diplomasi Fletcher di Universitas Tufts. Dia juga seorang konsultan eksekutif yang beroperasi di Carlyle Group dan mengetuai dewan penasihat di McLarty Associates.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s