Peta Equal Earth dan Cara Kita Melihat Luas Benua

PBB mendorong penggunaan Equal Earth sebagai alternatif Mercator untuk menampilkan luas benua secara lebih proporsional. Pakar UGM menjelaskan mengapa pilihan proyeksi memengaruhi persepsi geografis.

peta-equal-earth-dan-cara-kita-melihat-luas-benua

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendorong penggunaan proyeksi Equal Earth sebagai alternatif peta dunia, agar perbandingan luas wilayah antarbenua tampil lebih proporsional. Langkah ini menjadi sorotan karena selama berabad-abad proyeksi Mercator banyak digunakan, meski tampilannya dapat membuat sejumlah wilayah tampak lebih besar daripada ukuran relatifnya.

Kepala Laboratorium Kartografi Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Ari Cahyono, menjelaskan bahwa pilihan proyeksi berpengaruh terhadap cara orang memahami bentuk dan luas wilayah. Menurut dia, peta bukan gambaran sempurna permukaan bumi. Setiap proyeksi memiliki distorsi karena permukaan bumi yang melengkung harus dipindahkan ke bidang datar.

Proyeksi peta menentukan tampilan wilayah

Dalam penjelasan Ari, pembuatan peta dunia selalu melibatkan kompromi. Bentuk bumi yang melengkung tidak mungkin dituangkan ke bidang datar dengan mempertahankan seluruh aspek secara bersamaan. Bentuk, luas, jarak, dan sudut tidak bisa semuanya ditampilkan secara benar pada satu peta.

“Dari bentuk yang bidang lengkung ke bidang datar itu pasti akan timbul distorsi. Sehingga peta yang dihasilkan itu tidak mungkin 100 persen semua aspek benar. Tidak mungkin dia bisa mempertahankan bentuk wilayah, luas wilayah, jarak, maupun sudut, semuanya dengan benar,” ujar Ari.

Karena itu, perbedaan ukuran wilayah yang terlihat pada peta tidak serta-merta menunjukkan ukuran sebenarnya di permukaan bumi. Tampilan tersebut berkaitan dengan tujuan dan metode proyeksi yang digunakan. Peta untuk kebutuhan navigasi, misalnya, dapat mengutamakan aspek yang berbeda dari peta yang dipakai untuk membandingkan luas negara atau benua.

Resolusi PBB yang mendorong Equal Earth tidak berarti semua peta harus meninggalkan Mercator. PBB menempatkannya sebagai alternatif, terutama ketika penggambaran luas wilayah menjadi perhatian. Pilihan proyeksi tetap perlu disesuaikan dengan kegunaan peta.

Mercator membantu navigasi, tetapi mengubah kesan luas

Proyeksi Mercator dikembangkan Gerardus Mercator pada abad ke-16 untuk mendukung navigasi laut. Sistem ini mempertahankan arah dan sudut, sehingga membantu pelaut menentukan jalur pelayaran. Karakter tersebut membuat Mercator tetap memiliki fungsi yang relevan untuk keperluan navigasi.

Namun, konsekuensinya terlihat pada gambaran luas wilayah. Distorsi luas meningkat pada daerah yang semakin jauh dari ekuator. Greenland dan Antarktika, misalnya, tampak jauh lebih besar daripada ukuran relatifnya. Amerika Utara dan Eropa juga terlihat lebih luas dibandingkan kondisi sebenarnya, sedangkan wilayah di sekitar ekuator mengalami distorsi luas yang relatif kecil.

Perbedaan ini penting ketika peta digunakan untuk membangun pemahaman tentang geografi dunia. Jika tujuan pembacaan adalah membandingkan luas antarbenua, tampilan Mercator dapat memberi kesan yang kurang seimbang. Sebaliknya, untuk kepentingan pelayaran, kemampuan proyeksi tersebut mempertahankan arah dan sudut menjadi keunggulan.

“Kalau peta gunanya untuk pelayaran, Mercator tetap bagus. Tapi ketika ingin memberikan persepsi orang akan suatu wilayah, yang mana persepsi antarnegara satu dengan negara lain itu punya persepsi yang sama akan kondisi wilayah yang sebenarnya, maka lebih cocok pakai Equal Earth,” kata Ari.

Equal Earth sebagai alternatif untuk membandingkan luas

Equal Earth didorong sebagai pilihan ketika peta hendak menyajikan luas benua secara lebih proporsional. Dalam konteks itu, peta dapat membantu pembaca membandingkan wilayah tanpa mengandalkan kesan ukuran yang dibentuk oleh distorsi Mercator, terutama pada kawasan yang jauh dari ekuator.

Dampaknya bukan sekadar soal tampilan. Peta dunia kerap menjadi rujukan untuk mengenali letak, bentuk, dan perbandingan wilayah. Proyeksi yang berbeda dapat menghasilkan kesan visual berbeda pula. Karena itu, memahami jenis proyeksi membantu pembaca menafsirkan peta secara lebih cermat dan tidak menyamakan ukuran pada gambar dengan ukuran sebenarnya.

Meski demikian, Equal Earth bukan berarti menghapus seluruh distorsi. Prinsip yang dijelaskan Ari berlaku pada semua proyeksi: bidang datar tidak dapat menampilkan seluruh karakter permukaan bumi secara sempurna. Perbedaan utamanya terletak pada aspek yang diprioritaskan dan tujuan penggunaan peta tersebut.

Dorongan PBB membuka ruang bagi penggunaan peta yang lebih sesuai dengan kebutuhan, bukan menetapkan satu proyeksi untuk semua keadaan. Bagi pelajar dan pembaca umum, mengenali alasan di balik pilihan Mercator maupun Equal Earth dapat menjadi langkah sederhana untuk membaca peta dengan lebih kritis—dan memahami bahwa setiap peta membawa kompromi.

Fokustoday