Strategi Singapura Mengoptimalkan Ledakan AI

Singapura ingin memanfaatkan lonjakan permintaan AI untuk memperkuat industri semikonduktor dan membuka pekerjaan yang lebih baik, sembari menyiapkan pekerja menghadapi perubahan.

strategi-singapura-mengoptimalkan-ledakan-ai

Singapura berupaya memanfaatkan ledakan kecerdasan buatan (AI) untuk memperkuat industri dan menciptakan pekerjaan dengan keterampilan lebih tinggi. Perdana Menteri Lawrence Wong mengatakan pemerintah ingin menangkap peluang yang terbuka saat permintaan terkait AI masih kuat, sebelum pertumbuhan itu melambat atau terkoreksi.

Dalam perbincangan di Forbes Global CEO Conference di Shangri-La Singapura, Wong menyebut permintaan yang didorong AI telah menopang industri semikonduktor dan memberi manfaat bagi sektor lain. Menurut dia, pemerintah perlu menggunakan momentum tersebut untuk membangun kemampuan baru dan membuka peluang kerja yang lebih baik bagi warga.

Singapura memanfaatkan momentum industri AI

Wong mengingatkan bahwa lonjakan permintaan tidak akan berlangsung selamanya. Kapan koreksi terjadi dan siapa yang paling terdampak, katanya, masih belum dapat dipastikan. Ketidakpastian itu menjadi alasan bagi Singapura untuk memanfaatkan peluang yang tersedia sekarang.

“Tidak ada booming bertahan selamanya. Pada titik tertentu, akan terjadi koreksi. Dan kita tidak tahu kapan itu akan terjadi, atau bagaimana terjadinya, kita juga tidak tahu siapa yang akan menjadi korban ketika hal itu terjadi.”

Ia mengatakan pendekatan pemerintah adalah mengkapitalisasi permintaan eksternal, membangun kemampuan baru, dan menciptakan pekerjaan yang lebih baik. Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum bisnis yang mempertemukan para CEO global itu, seperti dikutip Channel News Asia.

Singapura memiliki posisi penting dalam rantai pasok semikonduktor. Berdasarkan data Economic Development Board yang dikutip dalam laporan, negara tersebut menyumbang sekitar 10 persen dari total produksi semikonduktor dunia. Industri ini menjadi salah satu penerima manfaat langsung dari meningkatnya kebutuhan chip untuk teknologi berbasis AI.

Perusahaan pembuat chip asal Amerika Serikat, GlobalFoundries dan Micron Technology, telah menginvestasikan miliaran dolar untuk memperluas operasi di Singapura. Ekspansi tersebut diarahkan untuk memenuhi permintaan yang meningkat atas chip memori dan chip khusus yang digunakan dalam teknologi AI.

Dampak AI meluas ke sektor lain

Menurut Wong, geliat industri semikonduktor turut menggerakkan jaringan perusahaan rekayasa presisi dan pemasok peralatan. Dampak ledakan AI juga dirasakan sektor lain, termasuk logistik dan layanan profesional. Dengan demikian, manfaat permintaan AI tidak hanya terkonsentrasi pada perusahaan pembuat chip.

Wong menyebut ekonomi Singapura tumbuh sekitar 5 persen per tahun selama tiga tahun terakhir, termasuk pada 2026. Sebagian pertumbuhan itu, katanya, didukung oleh permintaan yang berkaitan dengan AI. Angka tersebut menggambarkan bagaimana perkembangan teknologi telah menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap aktivitas ekonomi negara itu.

Singapura juga dinobatkan sebagai negara terkaya di dunia pada 2026 oleh majalah Global Finance, berdasarkan produk domestik bruto per kapita yang disesuaikan dengan paritas daya beli atau PPP. Predikat tersebut menjadi latar bagi upaya negara itu mempertahankan daya saing dan menarik investasi di tengah perubahan industri.

Namun, besarnya peluang ekonomi berjalan beriringan dengan perubahan di pasar kerja. Adopsi AI yang cepat diperkirakan mengubah jenis pekerjaan yang tersedia: sebagian pekerjaan dapat hilang, sementara pekerjaan lain menuntut keterampilan yang berbeda. Wong mengakui perubahan itu tidak dapat dihindari.

Perubahan pekerjaan dan kebutuhan pengamanan

“Jelas beberapa pekerjaan akan hilang, dan banyak pekerjaan harus berubah,” ujar Wong, seperti dikutip detikINET dari VN Express. Tantangannya bukan hanya mempertahankan pertumbuhan industri, melainkan juga membantu pekerja menyesuaikan diri dengan kebutuhan baru.

Wong menilai ukuran Singapura yang relatif kecil dapat membantu proses adaptasi. Kerja sama antara pemerintah, pengusaha, dan serikat pekerja juga disebut sebagai modal untuk menghadapi perubahan. Dalam pandangannya, koordinasi para pihak tersebut penting ketika lanskap pekerjaan bergeser akibat penggunaan AI.

Perhatian Wong tidak terbatas pada dampak ekonomi dan ketenagakerjaan. Ia juga menyerukan kerja sama internasional untuk mengatasi risiko dari sistem AI yang semakin canggih, termasuk potensi penyalahgunaan dan kemungkinan sistem otonom beroperasi di luar kendali.

Menurut Wong, upaya pengamanan global pada akhirnya dapat dikembangkan melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sementara itu, strategi Singapura bertumpu pada pemanfaatan permintaan yang ada sambil menyiapkan kemampuan baru dan membantu tenaga kerja beradaptasi. Seberapa jauh pendekatan itu mampu menahan dampak koreksi industri akan bergantung pada perkembangan AI dan kesiapan berbagai pihak mengantisipasi perubahan.

Fokustoday