Konser Ye, Dampak Ekonominya Bisa Melampaui Rp625 Miliar
Peter F. Gontha menilai dampak ekonomi konser Ye dan Jakarta Running Festival dapat melampaui estimasi Rp625 miliar. Belanja wisatawan asing dan sektor informal dinilai belum sepenuhnya tercakup.
Konser Ye dan Jakarta Running Festival berpotensi menggerakkan ekonomi Jakarta lebih luas daripada estimasi Rp625 miliar yang disampaikan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Peter F. Gontha menilai, perhitungan tersebut belum tentu mencakup seluruh pengeluaran pengunjung dan perputaran usaha, terutama pada sektor informal.
Dalam pandangan yang dimuat Matra News, efek acara besar tidak hanya terlihat dari tiket yang terjual. Pengeluaran pengunjung untuk transportasi, makanan, penginapan, serta layanan lain turut menghidupkan usaha di sekitar kegiatan. Sebagian transaksi itu mungkin tidak tercatat dalam hitungan resmi penyelenggara.
“Masih banyak kegiatan ekonomi yang belum sepenuhnya diperhitungkan, terutama dari sektor informal,” demikian pandangan Gontha yang dikutip Matra News.
Belanja pengunjung asing menjadi salah satu hitungan
Gontha menyoroti kehadiran sekitar 24.000 pengunjung dari luar negeri. Ia membuat simulasi, bukan klaim tentang belanja aktual: jika setiap orang mengeluarkan US$500 hingga US$1.000 selama kunjungan, total pengeluaran bisa berada pada kisaran US$12 juta sampai US$24 juta.
Dengan kurs Rp16.000 hingga Rp16.700 per dollar AS, simulasi itu setara sekitar Rp192 miliar sampai Rp400,8 miliar. Besar kecilnya belanja nyata bergantung pada lama kunjungan, pilihan akomodasi, pola konsumsi, dan berapa banyak pengeluaran yang benar-benar terjadi di Indonesia.
Angka tersebut tidak dapat langsung ditambahkan begitu saja ke estimasi Rp625 miliar. Pengukuran perlu memastikan komponen pengeluaran yang sudah masuk dalam hitungan sebelumnya tidak dihitung kembali. Misalnya, jika biaya tiket sudah tercakup dalam belanja pengunjung, tiket itu tak semestinya kembali dimasukkan sebagai tambahan tanpa penyesuaian.
Angka yang beredar juga berbeda. Matra News menyebut estimasi Rp625 miliar yang dikaitkan dengan Pramono, sedangkan ringkasan pemberitaan ANTARA menyebut perputaran ekonomi konser Kanye West mencapai Rp600 miliar. Bahan yang tersedia tidak merinci apakah perbedaan itu berasal dari pembulatan, cakupan kegiatan, atau metode penghitungan yang berlainan.
Manfaat bisa mengalir ke usaha kecil
Pengemudi ojek daring dan moda transportasi lain, pedagang kaki lima, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah termasuk pihak yang berpotensi memperoleh tambahan pendapatan. Keramaian pengunjung dapat meningkatkan kebutuhan perjalanan dan konsumsi. Namun, potensi itu tidak dengan sendirinya membuktikan berapa besar penghasilan yang benar-benar diterima masing-masing kelompok.
Hotel, restoran, pusat perbelanjaan, dan usaha di sekitar lokasi acara juga dapat merasakan tambahan permintaan. Pengunjung membutuhkan tempat menginap dan makan, sementara penyelenggaraan kegiatan berskala besar membuka peluang penjualan produk seperti makanan, minuman, dan suvenir. Dampaknya menyebar melalui berbagai layanan pendukung, bukan hanya melalui transaksi di tempat acara.
Karena itu, nilai ekonomi kegiatan tidak sama dengan pendapatan pemerintah. Nilai transaksi mencerminkan jual beli, sementara penerimaan pajak merupakan pemasukan pemerintah dari pungutan sesuai aturan. Dampak ekonomi memiliki cakupan lebih luas, termasuk belanja langsung dan aktivitas usaha yang berkaitan dengan acara maupun efeknya pada sektor lain.
Metode penghitungan menentukan besarnya dampak
Besarnya angka akhir juga bergantung pada cara menghitung manfaat bersih bagi Jakarta. Tidak semua uang yang dibelanjakan pengunjung otomatis menjadi tambahan ekonomi lokal. Sebagian pengeluaran mungkin menggantikan konsumsi yang memang sudah direncanakan, dan sebagian lainnya dapat mengalir kepada pemasok dari luar daerah.
Catatan itu membuat transparansi metode menjadi penting. Penghitungan yang menjelaskan sumber data, cakupan transaksi, dan cara mencegah penghitungan ganda akan membantu publik memahami arti angka yang diumumkan. Tanpa rincian tersebut, estimasi potensi dan hasil aktual mudah dianggap sebagai ukuran yang sama.
Bagi Gontha, konser internasional dan festival olahraga dapat dilihat sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kreatif dan pariwisata. Namun, besarnya manfaat tidak cukup dinilai dari skala acara atau jumlah pengunjung saja. Pengeluaran yang benar-benar tercatat di Jakarta dan distribusinya kepada pelaku usaha menjadi bagian penting dari gambaran tersebut.
Sejauh informasi yang tersedia, angka belanja wisatawan asing masih berupa ilustrasi, bukan hasil verifikasi. Rincian metode dan realisasi pengeluaran diperlukan untuk memastikan seberapa besar aktivitas ekonomi dari konser Ye dan Jakarta Running Festival benar-benar tertinggal di Jakarta.
