Laba BCA Tumbuh 4,2 Persen hingga September 2026
Laba bersih BCA mencapai Rp45,2 triliun hingga September 2026, naik 4,2 persen. Kredit dan NIM menguat pada kuartal ketiga, sementara beban provisi turun.
Laba bersih PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencapai Rp45,2 triliun hingga kuartal III 2026, naik 4,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kinerja tersebut ditopang percepatan pendapatan bunga dan kenaikan margin pada kuartal ketiga, ketika pertumbuhan kredit BCA juga menguat.
Stockbit Snips mencatat laba bersih BCA pada kuartal III 2026 sebesar Rp15,7 triliun. Angka itu meningkat 9 persen secara tahunan dan 6 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Capaian kumulatif sembilan bulan setara dengan 75 persen dari estimasi laba konsensus untuk 2026, sama dengan porsi pencapaian pada periode yang sama tahun lalu terhadap realisasi 2025.
Hasil ini memperlihatkan pemulihan laju laba pada kuartal ketiga. Pada semester I 2026, laba bersih BCA tumbuh 2 persen secara tahunan. Perbaikan pada tiga bulan berikutnya terjadi bersamaan dengan peningkatan pendapatan bunga dan penurunan biaya provisi.
Pertumbuhan kredit mendorong pendapatan bunga
Pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) BCA mencapai Rp22,5 triliun pada kuartal III. Nilainya naik 5 persen dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu dan 6 persen dari kuartal II. Pertumbuhan tahunan tersebut berbalik lebih cepat dibandingkan semester I, saat NII masih turun tipis 1 persen.
Percepatan NII berjalan seiring dengan penyaluran kredit yang meningkat. Stockbit Snips menyebut pertumbuhan kredit BCA mencapai 12 persen secara tahunan per September 2026, dibandingkan 8 persen pada Juni. Kompas.com melaporkan kredit BCA menembus Rp1.063 triliun dengan pertumbuhan 12,6 persen. Angka dalam kedua laporan menunjukkan laju yang menguat menjelang akhir kuartal ketiga.
Dengan penyaluran dan permintaan kredit yang dinilai solid, BCA menaikkan proyeksi pertumbuhan kredit sepanjang 2026 menjadi 10–11 persen. Sebelumnya, bank mematok kisaran 8–10 persen. Stockbit Snips juga menyebut perusahaan melihat adanya pipeline permintaan kredit untuk kuartal IV.
Margin naik saat biaya dana stabil
Perubahan lain terlihat pada net interest margin (NIM), yakni ukuran selisih pendapatan bunga terhadap aset produktif. NIM BCA mencapai 5,6 persen pada kuartal III, naik dari 5,3 persen pada kuartal II. Liputan6.com juga menyoroti posisi NIM 5,6 persen tersebut, dengan kredit produktif dan dana murah sebagai faktor pendukung.
Menurut ulasan Stockbit Snips, kenaikan margin berkaitan dengan penyesuaian harga kredit atau loan repricing pada segmen korporasi. Imbal hasil kredit rupiah meningkat 18 basis poin dibandingkan kuartal sebelumnya, sedangkan biaya dana atau cost of funds (CoF) tetap stabil. Kombinasi tersebut membantu NII tumbuh lebih cepat.
Pergerakan NIM BCA berbeda dari Bank Mandiri dan Bank Negara Indonesia yang, menurut analisis Stockbit, belum menunjukkan kenaikan serupa pada periode tersebut. Ulasan itu mengaitkan daya tahan BCA dengan basis dana pihak ketiga serta rasio pinjaman terhadap simpanan yang lebih longgar ketika likuiditas mengetat.
Manajemen memperkirakan NIM pada kuartal IV dapat sedikit meningkat atau setidaknya bertahan pada level kuartal sebelumnya. Proyeksi itu disampaikan dengan asumsi Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan satu kali sebesar 25 basis poin hingga akhir 2026. Perkiraan tersebut belum merupakan hasil kuartal IV, melainkan pandangan manajemen mengenai arah margin.
Provisi lebih rendah ikut mengangkat laba
Pertumbuhan laba kuartal III juga terbantu oleh turunnya beban provisi. Stockbit Snips mencatat beban tersebut menyusut 53 persen secara tahunan. Biaya kredit atau credit cost berada di 0,4 persen, lebih rendah daripada 0,6 persen pada kuartal III 2025 dan sama dengan posisi kuartal II 2026.
Di sisi operasional, laba sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) tumbuh 2 persen secara tahunan, baik pada kuartal III maupun semester I. Namun, sumber pertumbuhannya berbeda. Pada kuartal ketiga, NII menjadi pendorong utama, sementara kontribusi pada semester pertama lebih banyak berasal dari pendapatan nonbunga. Secara kumulatif, PPOP sembilan bulan juga naik 2 persen.
ANTARA turut memberitakan laba BCA sebesar Rp45,2 triliun hingga triwulan III 2026, dengan pertumbuhan 4,2 persen. Dengan proyeksi kredit yang telah dinaikkan, perhatian berikutnya tertuju pada realisasi penyaluran pinjaman dan kemampuan bank menjaga margin pada kuartal terakhir tahun ini.
Untuk program pembelian kembali saham, manajemen menyatakan masih memiliki Rp4,4 triliun dari anggaran Rp5 triliun. Pelaksanaannya akan dilakukan secara selektif dan oportunistis, menurut Stockbit Snips.
