Alasan Soal TKA Dibuat Panjang Menurut Mendikdasmen

Mendikdasmen Abdul Mu’ti menjelaskan soal TKA yang panjang mengikuti model PISA dan dirancang untuk mengukur pemahaman serta kemampuan memecahkan masalah. Hasilnya, kata dia, bukan penentu kelulusan.

alasan-soal-tka-dibuat-panjang-menurut-mendikdasmen

Soal Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang panjang membuat sejumlah siswa harus membaca lebih cermat, terutama saat mengerjakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjelaskan, bentuk soal tersebut dirancang untuk menguji pemahaman serta kemampuan bernalar, bukan sekadar mengingat materi.

Keluhan peserta muncul saat TKA untuk jenjang SMA dan sederajat masih berlangsung. Sejumlah siswa menilai teks dalam soal cukup panjang. Pada bagian Bahasa Indonesia, pilihan jawaban juga dianggap dapat mengecoh. Namun, menurut Mu’ti, model itu memang disusun mengikuti pendekatan evaluasi yang mengukur kemampuan siswa memahami informasi dan menggunakannya untuk menjawab persoalan.

Penjelasan itu disampaikan Mu’ti ketika meninjau pelaksanaan TKA di SMAN 3 Kota Tangerang Selatan. Seperti dilaporkan detikcom, ia mengatakan format ujian tersebut menyesuaikan model Programme for International Student Assessment (PISA). “Kami menyampaikan tes TKA ini kita sesuaikan dengan model tes PISA. Kira-kira kalau PISA itu ya seperti itu,” ujar Mu’ti.

Siswa diminta membaca teks secara teliti

Pengalaman peserta di sekolah itu memperlihatkan bagaimana teks menjadi bagian utama dalam pengerjaan soal. Nairah Marwah Dewi, peserta dari SMAN 3 Kota Tangerang Selatan, mengatakan pertanyaan yang dihadapinya terasa menantang. Ia menilai siswa perlu fokus membaca agar dapat memilih jawaban yang sesuai.

Abiyyu Desain Nagari, siswa dari sekolah yang sama, juga menyebut pemahaman bacaan sebagai kunci. Menurut dia, soal-soal yang dikerjakan bertumpu pada informasi di dalam teks. Karena itu, jawaban tidak cukup dicari dengan mengandalkan ingatan atau menebak pilihan yang tampak paling tepat.

Keluhan mengenai panjangnya bacaan terutama terdengar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Pada Bahasa Indonesia, siswa juga menyoroti kemiripan atau kerumitan pilihan jawaban yang membuat mereka harus kembali mencocokkan opsi dengan isi teks. Pola tersebut menuntut ketelitian sejak membaca pertanyaan sampai menentukan jawaban.

Model ini berbeda dari soal yang hanya meminta siswa menyebutkan hasil dari operasi atau mengulang informasi yang telah dihafal. Mu’ti menggambarkan bahwa pertanyaan matematika tidak selalu disajikan dalam bentuk hitungan langsung. Soal dapat membungkus perhitungan dengan cerita, sehingga peserta perlu memahami situasi terlebih dahulu sebelum menentukan langkah penyelesaian.

TKA mengukur pemecahan masalah

Menurut Mu’ti, penggunaan soal berbasis narasi berkaitan dengan penerapan kemampuan berpikir tingkat tinggi atau high-order thinking skills (HOTS). Siswa diharapkan menafsirkan informasi, memahami konteks, lalu menggunakannya untuk menyelesaikan persoalan. Dengan cara itu, ujian tidak hanya memeriksa penguasaan rumus atau hafalan.

Konsekuensinya, peserta perlu mencermati isi bacaan dan hubungan antara informasi yang tersedia dengan pertanyaan. Panjang teks bukan sekadar tambahan kata, melainkan bagian dari cara soal menyajikan konteks. Penjelasan ini sejalan dengan pengalaman siswa yang menyebut setiap jawaban perlu ditelusuri kembali ke materi dalam teks.

Mu’ti menyebut penyusunan TKA mengikuti standar evaluasi internasional. Ia juga menyatakan hasil tes tersebut telah diakui oleh sejumlah pihak di luar negeri, termasuk Belanda dan Hong Kong, serta dapat digunakan oleh siswa yang hendak melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Pernyataan itu ia sampaikan saat menjelaskan tujuan standardisasi tes.

Hasil TKA bukan penentu kelulusan

Meski formatnya menantang, Mu’ti mengingatkan bahwa hasil TKA yang tidak sesuai harapan bukan akhir dari kesempatan siswa untuk berkembang. Ia menyatakan masih ada waktu bagi peserta untuk memperbaiki kemampuan. TKA, menurut penjelasannya, juga tidak menentukan kelulusan.

Pesan tersebut memberi konteks bagi siswa yang merasa kesulitan menghadapi bacaan panjang atau opsi jawaban yang membingungkan. Tuntutan ketelitian dalam ujian tetap ada, tetapi hasilnya tidak diposisikan sebagai satu-satunya penentu perjalanan pendidikan peserta.

Pelaksanaan TKA jenjang SMA dan sederajat masih berlangsung saat keluhan itu disampaikan. Mu’ti mendorong persiapan dilakukan sebaik-baiknya, sementara hasil tes perlu dipahami sebagai bagian dari evaluasi kemampuan. Penjelasan pemerintah mengenai format ujian itu berpusat pada tujuan mengukur pemahaman dan nalar, bukan hanya kecepatan mengingat jawaban.

Fokustoday