THOR, Senjata Gelombang Mikro untuk Menangkal Drone

THOR menggunakan gelombang mikro berdaya tinggi untuk melumpuhkan drone secara non-kinetis. Sistem ini dirancang ringkas, dapat dipindahkan dengan C-130, dan disiapkan dalam sekitar tiga jam.

thor-senjata-gelombang-mikro-penangkal-drone

THOR dirancang untuk menghadapi serangan drone yang datang secara berkelompok, dengan cara melumpuhkan perangkat elektroniknya tanpa menggunakan metode kinetik. Sistem yang dikembangkan laboratorium riset Angkatan Udara Amerika Serikat itu ditujukan untuk melindungi pangkalan udara.

Nama THOR merupakan kependekan dari Tactical High-power Microwave Operational Responder. Senjata ini menggunakan gelombang mikro berdaya tinggi untuk menghasilkan efek kontra-elektronik pada target. Menurut keterangan Air Force Research Laboratory (AFRL), sistem tersebut dapat menangani banyak sasaran, bukan hanya satu drone dalam satu waktu.

Informasi mengenai kemampuan dan rancangan THOR juga dilaporkan DetikNews, dengan merujuk pada laman resmi AFRL. Salah satu hal yang membedakannya dari perangkat penangkal drone lain adalah penggunaan energi elektromagnetik sebagai cara utama untuk mengganggu target.

Gelombang mikro diarahkan ke target elektronik

Urutan kerjanya dimulai ketika target teridentifikasi. Setelah itu, THOR melepaskan gelombang mikro dalam rentang nanodetik. Efek pelumpuhan disebut terjadi seketika. AFRL tidak merinci dalam keterangan yang dikutip itu bagaimana proses identifikasi dilakukan, tetapi menjelaskan bahwa sistem memanfaatkan energi gelombang mikro untuk menimbulkan gangguan pada perangkat elektronik sasaran.

Karena itu, karakter THOR berbeda dari cara penindakan yang mengandalkan benda fisik untuk menghantam atau menangkap drone. Sistem ini disebut bekerja secara non-kinetis. Desain tersebut diarahkan untuk menjangkau beberapa target sekaligus dan mempercepat penanganan dibandingkan sejumlah pilihan lain yang disebut dalam laporan, yakni senjata api, jaring, serta laser.

Kemampuan menghadapi lebih dari satu sasaran menjadi bagian penting dari peruntukannya. THOR dikembangkan untuk menangkal kelompok drone yang dapat mengancam pangkalan udara. Dalam konteks itu, sistemnya tidak dirancang hanya untuk menghadapi sebuah pesawat tanpa awak yang bergerak sendiri, melainkan untuk memberikan respons terhadap banyak target.

Dirancang agar mudah dipindahkan

Perangkat ini juga dibuat dengan mempertimbangkan pemindahan dan pemasangan. Seluruh sistem dapat ditempatkan dalam kontainer berukuran 20 kaki. Kontainer itu memungkinkan THOR dibawa menggunakan pesawat angkut C-130, sehingga perangkat tidak harus selalu berada di satu lokasi.

Setelah tiba di tempat tujuan, sistem disebut dapat dirakit dan disiapkan dalam waktu sekitar tiga jam. Antarmukanya dirancang agar operator hanya membutuhkan pelatihan minimal. Dengan demikian, rancangan THOR menggabungkan kemampuan penangkal dengan persyaratan operasional yang menekankan mobilitas dan persiapan yang relatif singkat.

Pengoperasiannya menggunakan pasokan listrik dari stopkontak dinding. Keterangan tersebut menunjukkan bahwa sistem memperoleh daya melalui sambungan listrik, bukan dengan cara yang dijelaskan sebagai amunisi atau proyektil. Namun, rincian tentang kebutuhan daya, jangkauan, maupun kondisi penggunaan tidak dicantumkan dalam informasi yang dilaporkan.

Pengembangan menelan biaya 18 juta dolar AS

THOR meraih penghargaan What’s New in Defense pada 2021. Pengembangan teknologinya diperkirakan menghabiskan sekitar 18 juta dolar AS. Angka itu merupakan biaya pengembangan, bukan keterangan mengenai harga satu unit perangkat atau biaya pengoperasian.

AFRL mengembangkan THOR untuk membantu melindungi pangkalan udara dari ancaman drone, yang dalam laporan disebut semakin banyak digunakan sebagai senjata. Rancangan yang memadukan gelombang mikro, kemampuan menghadapi banyak target, dan bentuk yang dapat diangkut menjadi jawaban teknologi yang ditawarkan laboratorium tersebut.

Informasi yang tersedia belum merinci jumlah sistem THOR yang telah dibuat, lokasi penggunaannya, ataupun hasil uji operasionalnya. Yang dipaparkan adalah kemampuan dan rancangan perangkat, termasuk waktu persiapan, sumber daya listrik, serta cara pengangkutannya. Rincian tersebut menjadi gambaran utama mengenai bagaimana sistem ini disiapkan untuk mendukung pertahanan pangkalan udara.

Fokustoday