BBCA Paling Banyak Diborong Saat IHSG Terpuruk
BBCA mencatat net buy Rp 4,36 triliun saat IHSG tertekan setelah pengumuman MSCI. Investor asing justru membukukan net sell pada saham tersebut.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi yang paling banyak dibeli investor pada 16–23 Oktober 2026, ketika gejolak pasar menyusul pengumuman MSCI menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Berdasarkan data aplikasi Stockbit Sekuritas, BBCA mencatat net buy keseluruhan sebesar Rp 4,36 triliun dalam periode tersebut.
Angka itu berbanding terbalik dengan transaksi investor asing. Mereka membukukan net sell BBCA sebesar Rp 5,22 triliun. Selisih arah transaksi tersebut mengindikasikan investor domestik menjadi pihak yang menyerap saham bank swasta itu saat tekanan di pasar meningkat.
IHSG sempat anjlok tajam pada 16 Oktober, sebelum berangsur pulih hingga akhir pekan berikutnya. Pergerakan tersebut terjadi setelah MSCI mengumumkan dimulainya konsultasi untuk menurunkan status Indonesia dari pasar negara berkembang (emerging markets) menjadi pasar mandiri (standalone markets).
BBRI dan TLKM juga mencatat net buy
Minat beli tidak hanya terlihat pada BBCA. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatat net buy keseluruhan Rp 1,33 triliun selama 16–23 Oktober. Sementara itu, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) membukukan net buy Rp 1,31 triliun.
Investor asing justru mencatatkan net sell pada kedua saham tersebut. Nilai jual bersih BBRI mencapai Rp 3,26 triliun, sedangkan TLKM sebesar Rp 663 miliar. Seperti pada BBCA, kondisi ini mengindikasikan adanya pembelian oleh investor dalam negeri yang mengimbangi penjualan asing.
Ketiga saham itu menjadi yang paling menonjol dalam data transaksi pada periode tersebut. Namun, angka net buy keseluruhan tidak dengan sendirinya menjelaskan identitas setiap pembeli. Kesimpulan mengenai peran investor domestik ditarik dari perbedaan transaksi agregat dengan arus jual bersih investor asing.
IHSG sempat jatuh 11,57 persen
Tekanan pasar terasa kuat pada 16 Oktober 2026. IHSG terjun 11,57 persen hingga menyentuh level 5.185 setelah MSCI mengumumkan konsultasi terkait kemungkinan perubahan klasifikasi pasar Indonesia.
Indeks kemudian perlahan bangkit. Pada 23 Oktober, IHSG ditutup di level 5.439, lebih tinggi dibandingkan posisi terendahnya pada hari pengumuman. Pemulihan ini berlangsung di tengah periode ketika sejumlah saham berkapitalisasi besar mencatat pembelian bersih.
Pergerakan indeks tersebut memberi gambaran bahwa tekanan dan pemulihan terjadi dalam rentang waktu yang relatif singkat. Meski demikian, data yang tersedia hanya mencatat transaksi selama periode itu dan tidak memastikan bahwa arus beli saham tertentu menjadi penyebab IHSG berbalik menguat.
Rencana buyback BBCA pada Oktober
Di tengah volatilitas tersebut, BCA juga berencana melakukan pembelian kembali saham atau buyback pada 19–21 Oktober 2026. Aksi korporasi itu merupakan bagian dari buyback yang telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan pada Maret 2026.
Manajemen belum merinci dana yang disiapkan untuk pelaksanaan buyback pada tiga hari tersebut. Presiden Direktur BCA Hendra Lembong mengatakan alokasi dana bergantung pada kondisi pasar. “Tergantung market,” ujarnya kepada Investor Daily, Senin (19/10/2026).
Rencana buyback itu bertepatan dengan masa gejolak pasar dan periode ketika BBCA mencatat net buy keseluruhan terbesar. Namun, data transaksi yang tersedia tidak merinci porsi pembelian yang berasal dari aksi korporasi, sehingga besaran kontribusi buyback terhadap angka tersebut belum dapat dipastikan.
Pergerakan saham BBCA, BBRI, dan TLKM selama pekan itu menunjukkan adanya pihak yang mengambil posisi beli ketika pasar bergejolak. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada respons pasar terhadap proses konsultasi MSCI serta dinamika transaksi investor; keduanya menjadi hal yang patut dicermati setelah IHSG kembali menguat.
