Grup Salim Siapkan Buyback Saham Rp 2,25 Triliun
INDF dan ICBP menyiapkan buyback masing-masing Rp 750 miliar. Bersama LSIP, total dana yang disiapkan emiten Grup Salim mencapai Rp 2,25 triliun.
JAKARTA — Sejumlah emiten Grup Salim menyiapkan pembelian kembali saham atau buyback dengan dana total hingga Rp 2,25 triliun. Langkah itu dilakukan di tengah gejolak pasar saham setelah pengumuman MSCI. Dua perusahaan yang merinci rencana tersebut adalah PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), masing-masing dengan anggaran maksimal Rp 750 miliar.
Ringkasan informasi yang tersedia juga menyebut PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) akan melakukan buyback dengan nilai maksimal Rp 750 miliar. Dengan demikian, dana yang disiapkan tiga emiten tersebut mencapai Rp 2,25 triliun. Anthoni Salim menjabat direktur utama INDF dan ICBP.
INDF dan ICBP siapkan dana Rp 1,5 triliun
Manajemen INDF menyatakan dana buyback berasal dari kas internal perseroan. Perusahaan menganggarkan maksimal Rp 750 miliar untuk membeli kembali sahamnya. Angka itu belum mencakup biaya transaksi, komisi perantara perdagangan, dan biaya lain yang terkait dengan pelaksanaan aksi korporasi.
Dalam keterbukaan informasi yang dikutip pada Sabtu, 24 Oktober 2026, INDF menjelaskan bahwa jumlah saham yang dibeli kembali tidak akan melebihi 20 persen dari modal disetor. Perseroan juga menyatakan pelaksanaannya tetap memperhatikan ketentuan mengenai free float yang berlaku.
Rencana buyback INDF dijadwalkan berlangsung mulai 26 Oktober hingga 31 Desember 2026. Pada periode yang sama, ICBP juga berencana membeli kembali saham dengan anggaran maksimal Rp 750 miliar. Keterangan yang tersedia menyebut periode buyback ICBP berlangsung pada 26 Oktober sampai 31 Desember 2026.
Informasi yang disampaikan mengenai ICBP tidak merinci jumlah saham yang akan dibeli ataupun sumber dananya. Sementara itu, ringkasan mengenai rencana LSIP mencantumkan nilai maksimal Rp 750 miliar, tetapi tidak memuat rincian batas jumlah saham, sumber dana, maupun periode pelaksanaan.
Buyback di tengah tekanan pada saham
Rencana pembelian kembali saham itu muncul saat pergerakan saham kedua perusahaan menunjukkan tekanan dalam sebulan terakhir. Saham INDF turun 2,53 persen, sedangkan ICBP terkoreksi lebih dalam, yakni 10,15 persen. Angka tersebut menggambarkan kinerja saham dalam periode satu bulan, bukan perubahan harga pada satu hari perdagangan tertentu.
Pengumuman buyback berlangsung setelah pasar saham bergejolak menyusul pengumuman MSCI. Namun, informasi yang tersedia tidak menguraikan lebih jauh dampak pengumuman tersebut terhadap kedua emiten ataupun alasan spesifik manajemen menetapkan besaran buyback. Karena itu, rencana pembelian kembali ini dapat dibaca sebagai langkah korporasi yang dilakukan di tengah kondisi pasar yang tidak stabil, tanpa menyimpulkan adanya jaminan harga saham akan segera pulih.
Buyback pada dasarnya merupakan aksi ketika perusahaan membeli kembali sahamnya di pasar. Dalam rencana INDF dan ICBP, batas dana yang diumumkan adalah jumlah maksimum, bukan kepastian bahwa seluruh anggaran akan terserap. Pelaksanaan akhirnya tetap bergantung pada realisasi pembelian selama periode yang telah ditetapkan.
Pasar bergerak beragam pada pekan yang sama
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia menunjukkan IHSG justru menguat 4,9 persen sepanjang pekan 19–23 Oktober 2026. Indeks ditutup pada 5.439,2, naik dari posisi 5.185,1 pada pekan sebelumnya. Kapitalisasi pasar BEI bertambah Rp 426 triliun atau 4,66 persen menjadi Rp 9.583 triliun.
Sejumlah indikator transaksi juga bergerak berbeda arah. Rata-rata volume harian turun 9,39 persen menjadi 39,96 miliar saham. Sebaliknya, rata-rata nilai transaksi naik 25,42 persen menjadi Rp 20,34 triliun, sementara frekuensi transaksi harian meningkat 13,8 persen menjadi 1,95 juta kali.
Di tengah penguatan indeks, investor asing mencatatkan jual bersih Rp 1,28 triliun pada Jumat, 23 Oktober 2026. Secara kumulatif sepanjang 2026, nilai jual bersih investor asing mencapai Rp 94,87 triliun. Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa kenaikan IHSG pada pekan itu berjalan beriringan dengan tekanan jual asing dan penurunan saham sejumlah emiten.
Rencana buyback Grup Salim kini memasuki tahap yang dinantikan investor: realisasi pembelian selama periode yang diumumkan. Perkembangan pelaksanaannya, termasuk besaran saham yang akhirnya dibeli, akan menjadi informasi penting untuk menilai sejauh mana rencana tersebut dijalankan di tengah dinamika pasar.
