Harga Emas Turun, Pembeli di India dan China Bergerak
Harga emas dunia yang turun mendorong pembelian di India saat festival Dussehra, sedangkan permintaan fisik China bertahan di tengah lemahnya belanja perhiasan.
Harga emas dunia yang merosot ke US$ 3.986,5 per troy ounce pada Jumat (23/10) memicu peningkatan pembelian di India. Di China, permintaan emas fisik terpantau stabil, meski konsumen masih berhati-hati dalam berbelanja perhiasan.
Penurunan harga memberi ruang bagi sebagian pembeli untuk masuk ke pasar, terutama di India yang tengah menyambut festival Dussehra. Pada momen tersebut, pembelian emas lazim meningkat dan toko perhiasan ramai didatangi pelanggan.
Data permintaan itu menunjukkan bahwa koreksi harga tidak serta-merta menghilangkan minat terhadap emas. Namun, kondisi di kedua negara konsumen utama tersebut berbeda: pembelian ritel India terdorong musim festival, sementara pasar China masih menghadapi tekanan kepercayaan konsumen.
Dussehra mendorong pembelian emas di India
Pekan ini, penjualan ritel emas di India meningkat seiring Dussehra. Harga yang lebih rendah dinilai mendorong konsumen untuk membeli, termasuk dalam jumlah kecil. Seorang pedagang emas dari bank swasta di Mumbai mengatakan, banyak pelanggan menganggap masa perayaan sebagai waktu yang tepat untuk bertransaksi.
“Penjualan ritel meningkat minggu ini berkat Dussehra, karena banyak pelanggan menganggap momen perayaan ini sebagai waktu yang tepat untuk melakukan pembelian, setidaknya dalam jumlah kecil.”
Aktivitas tersebut turut tercermin dari premi yang ditetapkan pedagang lokal. Pekan ini, harga emas di India diperdagangkan dengan premi hingga US$ 9 per ons di atas harga resmi domestik. Harga resmi itu telah memperhitungkan pajak impor 15 persen dan pajak penjualan 3 persen.
Besaran premi tersebut naik dari maksimal US$ 7 per ons pada pekan sebelumnya. CEO perusahaan perdagangan emas Amrapali Group Gujarat, Chirag Thakkar, menyebut permintaan biasanya melonjak saat Dussehra dan toko perhiasan dipadati pelanggan. Meski begitu, ia menilai permintaan pada perayaan tahun ini masih jauh di bawah tingkat tahun lalu.
Minat emas fisik China bertahan, perhiasan masih lemah
Di China, permintaan emas fisik disebut tetap stabil. Konsumen masih membatasi pengeluaran untuk perhiasan, tetapi harga emas setempat tetap mencatat premi sekitar US$ 9 hingga US$ 10 per ons dibandingkan harga acuan global.
Direktur regional MKS PAMP untuk China daratan, Bernard Sin, menilai premi positif itu menandakan masih adanya minat dasar terhadap emas fisik. Namun, volume transaksi secara keseluruhan relatif rendah. Artinya, sinyal minat belum sepenuhnya tercermin dalam pembelian dalam jumlah besar.
Tekanan paling terasa pada pasar perhiasan. Kepala analisis pasar StoneX, Rhona O’Connell, mengaitkan lemahnya permintaan dengan rendahnya kepercayaan konsumen China, terutama di kalangan pembeli yang lebih muda.
Laporan terbaru World Gold Council juga menunjukkan permintaan perhiasan emas di China berada di bawah tekanan sepanjang 2026. Pada semester pertama, permintaan berdasarkan tonase tercatat paling lemah sejak 2006. Kondisi ini menegaskan bahwa penurunan harga saja belum cukup untuk menghidupkan kembali belanja perhiasan.
Harga emas digital di Indonesia cenderung stabil
Di Indonesia, harga emas digital pada Minggu (25/10) terpantau cenderung stabil, mengikuti pergerakan harga emas global dan nilai tukar rupiah. Informasi harga yang dihimpun dari beberapa platform menunjukkan variasi harga beli dan jual, dengan sebagian harga tidak berubah pada hari tersebut.
Di Treasury, harga beli tercatat Rp 2.373.737 per gram dan harga jual Rp 2.293.309 per gram, keduanya stabil. Sementara itu, harga beli di Lakuemas tercatat Rp 2.386.000 per gram dan harga jual Rp 2.313.000 per gram, masing-masing turun Rp 19.000. IndoGold mencatat harga beli Rp 2.352.301 per gram dan harga jual Rp 2.294.000 per gram, juga dalam kondisi stabil.
Emas digital kian diminati karena bisa diakses secara daring dan memungkinkan pembelian dengan nominal kecil. Bagi investor ritel, cara ini membuka peluang untuk mengakumulasi emas secara bertahap, meski harga pasar global sedang berfluktuasi.
Pergerakan permintaan di India dan China memperlihatkan bahwa faktor lokal—seperti musim festival, daya beli, dan kepercayaan konsumen—ikut menentukan respons terhadap harga emas. Bagi calon pembeli, perubahan harga tetap perlu dibaca bersama kondisi pasar dan tujuan investasi, bukan hanya sebagai sinyal untuk segera bertransaksi.
