Emiten Konglomerat Siapkan Buyback Saham Rp4,5 Triliun
Lima emiten terkait konglomerat menyiapkan buyback saham dengan total dana hingga Rp4,5 triliun saat IHSG tertekan dan sejumlah saham melemah.
Sejumlah emiten milik konglomerat mengumumkan rencana buyback saham dengan alokasi dana gabungan hingga Rp4,5 triliun pada Senin (19/10/2026). Aksi pembelian kembali itu muncul ketika tekanan sentimen pasar menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke bawah level 5.000.
IHSG sempat menyentuh 4.907,37, level terendah harian, di tengah gejolak sentimen MSCI. Dalam kondisi pasar yang berfluktuasi tersebut, lima perusahaan menyampaikan rencana buyback melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI).
Barito Pacific dan Chandra Asri siapkan dana terbesar
PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) menganggarkan dana Rp1 triliun untuk membeli kembali sahamnya. Periode buyback berlangsung hingga 31 Desember 2026 melalui PT Sucor Sekuritas. Perseroan menyebut dana bersumber dari kas internal dan telah mencakup biaya transaksi serta jasa perantara perdagangan.
PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) juga menyiapkan dana maksimal Rp1 triliun. Perusahaan berencana membeli sebanyak-banyaknya 800 juta saham atau sekitar 0,92 persen dari total saham yang diterbitkan. Kisaran harga yang disiapkan berada di rentang Rp1.250 hingga Rp3.000 per saham.
Buyback TPIA dijadwalkan berjalan selama tiga bulan, mulai 20 Oktober 2026 sampai 19 Januari 2027. PT Henan Putihrai Sekuritas ditunjuk sebagai perantara pelaksanaan transaksi tersebut.
Dua emiten lain yang terafiliasi dengan Prajogo Pangestu turut mengalokasikan dana. PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) menyiapkan Rp1 triliun, sedangkan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) menganggarkan Rp500 miliar. Dengan demikian, total dana buyback yang disiapkan BRPT, TPIA, BREN, dan CUAN mencapai Rp3,5 triliun.
DSSA ikut mengumumkan pembelian kembali saham
Rencana serupa diumumkan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), emiten dari Sinarmas Grup milik Franky Oesman Widjaja. Perseroan menyiapkan dana hingga Rp1 triliun, sehingga total alokasi lima emiten yang mengumumkan buyback mencapai Rp4,5 triliun.
DSSA menyatakan pembelian kembali saham ditujukan untuk meningkatkan nilai bagi pemegang saham, mendorong agar kinerja saham mencerminkan kondisi fundamental, serta menjaga kepercayaan publik. Periode pelaksanaannya ditetapkan pada 19 Oktober 2026 hingga 18 Januari 2027. Biaya transaksi diperkirakan sebesar 0,20 persen dari nilai saham yang dibeli.
Secara umum, perusahaan-perusahaan tersebut menyebut kondisi pasar yang berfluktuasi signifikan sebagai alasan pelaksanaan buyback. Aksi korporasi ini dimaksudkan untuk menjaga nilai fundamental harga saham. Emiten dapat melakukan pembelian kembali tanpa lebih dahulu menunggu persetujuan rapat umum pemegang saham (RUPS), sebagaimana dijelaskan dalam laporan sumber.
Harga saham bergerak beragam di tengah tekanan
Pengumuman buyback hadir di tengah pelemahan sejumlah saham terkait. Pada perdagangan yang dilaporkan, BRPT terkoreksi 1,24 persen ke Rp1.195 per saham. TPIA turun 6,64 persen ke Rp1.125, sementara CUAN melemah 6,48 persen ke Rp505 per saham.
Saham BREN juga berada di zona merah, turun 1,08 persen ke Rp1.835 per saham. Berbeda dari mayoritas saham tersebut, DSSA menguat 2,10 persen ke Rp730 per saham.
Rencana buyback juga muncul setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan sanksi kepada DSSA, BREN, dan CUAN. Total denda terhadap ketiga emiten itu disebut mencapai Rp2,1 triliun. Informasi tersebut menjadi salah satu konteks yang mengiringi pengumuman pembelian kembali, di samping tekanan pasar yang terjadi pada hari itu.
Pelaksanaan buyback dan perkembangan harga saham berikutnya akan menjadi perhatian investor, terutama saat pasar masih menghadapi gejolak sentimen. Rencana yang diumumkan para emiten memberi gambaran langkah perusahaan menghadapi volatilitas, tetapi realisasi pembelian dan pergerakan harga tetap perlu dicermati dari waktu ke waktu.
