Prabowo Kumpulkan Pejabat Ekonomi di Istana
Prabowo memanggil jajaran menteri ekonomi, Gubernur BI, DEN, dan petinggi Danantara ke Istana pada 20 Oktober. Agenda rapat belum diungkap.
Presiden Prabowo Subianto memanggil sejumlah pejabat ekonomi, pimpinan Bank Indonesia, dan petinggi Danantara ke Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (20/10). Pertemuan itu berlangsung sehari setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan pada perdagangan Senin (19/10), tetapi agenda rapat belum dijelaskan secara terperinci.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto tiba lebih dulu sekitar pukul 15.30 WIB. Berdasarkan pantauan CNN Indonesia, ia kemudian disusul Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti dan Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara.
Chief Operating Officer Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, juga terlihat datang ke kompleks Istana. Kehadiran para pejabat tersebut menunjukkan rapat melibatkan sejumlah unsur pemerintah dan lembaga yang berkaitan dengan kebijakan ekonomi.
Agenda rapat ekonomi belum diungkap
Airlangga menyebut pertemuan itu akan dihadiri jajaran menteri bidang ekonomi dan Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Namun, ia tidak merinci topik yang akan dibahas bersama Presiden sebelum rapat dimulai.
“(Rapatnya) sama menteri ekonomi dan DEN,” kata Airlangga kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan.
Dony juga mengatakan belum mengetahui agenda rapat secara terperinci. Ia belum dapat memastikan materi yang akan dibicarakan bersama Prabowo, meski memperkirakan pembahasan berkaitan dengan ekonomi.
“Belum tahu ya (rapat soal apa), tapi pasti rapat soal ekonomi,” ujar Dony.
Dony memastikan sejumlah pejabat lain akan hadir, termasuk jajaran DEN, Airlangga, dan Suahasil. Keterangan tersebut memberi gambaran mengenai peserta rapat, tetapi belum menjawab apakah pembahasan akan berfokus pada pasar keuangan, kondisi fiskal, investasi, atau isu ekonomi lain.
Hingga rapat berlangsung, belum ada penjelasan resmi mengenai keputusan ataupun langkah kebijakan yang dihasilkan. Karena itu, tekanan IHSG pada hari sebelumnya menjadi konteks waktu pertemuan, bukan konfirmasi bahwa pelemahan pasar tersebut menjadi pokok bahasan.
Berbeda dari rapat stabilitas keuangan pada Mei
Pertemuan di Istana pada 20 Oktober itu berbeda dari rapat terbatas Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang dipimpin Prabowo pada 5 Mei 2026. Dalam rapat Mei tersebut, pemerintah secara terbuka membahas kondisi perekonomian nasional dan pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Seusai rapat Mei, pemerintah melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen. Inflasi tercatat 2,42 persen, sementara pertumbuhan dana pihak ketiga mencapai 13,55 persen dan kredit tumbuh 9,49 persen. Angka-angka itu disampaikan dalam keterangan mengenai rapat KSSK, bukan sebagai hasil pertemuan Prabowo dengan pejabat ekonomi pada Oktober.
Rapat Mei juga membahas rupiah yang saat itu berada di kisaran Rp17.300 hingga Rp17.400 per dolar AS. Pemerintah, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan menyatakan akan mengawal nilai tukar melalui koordinasi kebijakan fiskal dan moneter. Perbedaan keterangan ini penting: agenda dan hasil rapat Oktober belum diumumkan, sehingga belum dapat disamakan dengan pembahasan KSSK sebelumnya.
Menanti keterangan resmi dari Istana
Pertemuan yang mempertemukan pejabat ekonomi, BI, DEN, dan Danantara berpotensi menjadi forum koordinasi lintas lembaga. Namun, tanpa paparan resmi, rincian mengenai pokok pembahasan maupun tindak lanjutnya belum bisa dipastikan.
Perhatian berikutnya tertuju pada penjelasan pemerintah setelah rapat. Keterangan resmi akan menentukan apakah pertemuan tersebut menghasilkan keputusan tertentu atau sebatas menjadi pembahasan internal mengenai kondisi ekonomi.
