Analis: Israel Sulit Gulingkan Pemerintahan Iran

Sejumlah analis menilai Israel belum memiliki strategi dan kapasitas militer yang memadai untuk menggulingkan pemerintahan Iran. Dukungan Amerika Serikat untuk serangan baru pun belum pasti.

analis-israel-sulit-gulingkan-pemerintahan-iran

Israel dinilai tidak memiliki kapasitas memadai untuk menggulingkan pemerintahan Iran, meski Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kembali menyebut tujuan tersebut sebagai prioritas utama. Analisis Al Jazeera yang terbit pada Kamis (22/10/2026) mengutip sejumlah pakar yang meragukan serangan militer dapat menghasilkan perubahan politik di Teheran.

Pernyataan Netanyahu muncul menjelang pemilihan umum nasional Israel pekan depan, saat dukungannya dalam sejumlah jajak pendapat disebut sedang menurun. Namun, menurut para analis, tujuan mengganti pemerintahan Iran tidak cukup ditopang oleh serangan udara, operasi rahasia, ataupun serangan siber. Invasi darat, di sisi lain, akan menuntut komitmen militer yang jauh lebih besar.

Serangan udara belum tentu menghasilkan perubahan politik

Para pakar yang dikutip Al Jazeera menilai Israel belum menunjukkan strategi yang jelas untuk mengubah serangan militer menjadi hasil strategis berupa penggulingan pemerintahan. Serangan udara dapat merusak sasaran, tetapi belum tentu mampu mengubah struktur kekuasaan di Iran.

Netanyahu sendiri pernah mengakui keterbatasan kekuatan udara. Pada Maret, ia mengatakan tujuan tersebut “tidak dapat dilakukan hanya melalui udara” dan harus disertai “komponen darat”. Namun, ia tidak menjelaskan bentuk maupun skala operasi darat yang dimaksud.

Opsi itu juga membawa konsekuensi besar. Menurut para analis, invasi darat akan membutuhkan keterlibatan militer yang jauh lebih luas daripada serangan dari udara. Sementara itu, serangan baru berarti menghadapi Iran yang telah melewati dua putaran serangan, tetapi masih memiliki kemampuan untuk membalas Israel dan negara-negara tetangga di kawasan Teluk yang menjadi lokasi pasukan serta peralatan militer Amerika Serikat.

Di tengah ketidakpastian tersebut, dukungan Washington untuk serangan baru belum jelas. Para pakar meragukan kesediaan Amerika Serikat kembali terlibat dalam perang, terutama karena belum tampak prospek meyakinkan untuk memaksa Iran menyerah dan memenuhi tuntutan Washington.

Operasi rahasia dan kelompok oposisi dinilai terbatas

Al Jazeera juga menyoroti risiko penggunaan kembali metode rahasia yang pernah diterapkan dalam serangan sebelumnya. Orban Cunningham, peneliti Royal United Services Institute (RUSI) di Inggris, mengatakan sumber daya intelijen dan jaringan mata-mata berisiko terbongkar setelah digunakan. Aparat keamanan Iran, menurut dia, dapat mengidentifikasi dan melumpuhkan jaringan tersebut.

Cunningham menilai operasi rahasia maupun serangan siber tidak menyediakan jalan yang jelas untuk menggulingkan pemerintahan Iran. Ia juga meragukan kelompok bersenjata Kurdi dan Baluchi dapat menjadi kekuatan darat yang cukup untuk menantang pemerintah di Teheran.

Pada Maret, CNN mengutip pejabat Kurdi dan Amerika Serikat yang menyebut pemerintahan Donald Trump serius mempertimbangkan rencana mempersenjatai kelompok oposisi Kurdi. Rencana itu pada akhirnya tidak dilaksanakan. Cunningham mengatakan kelompok-kelompok Kurdi tidak memiliki kemampuan militer yang dibutuhkan untuk menghadapi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Keraguan tersebut memperlihatkan bahwa dukungan terhadap kelompok oposisi belum tentu dapat menggantikan kebutuhan akan kekuatan militer besar. Bahkan jika jaringan rahasia atau kelompok bersenjata digunakan, para analis belum melihat bagaimana langkah-langkah itu dapat berujung pada perubahan pemerintahan.

Persediaan senjata dan biaya konflik jadi pertimbangan

Menurut para pakar, Iran tidak harus menyamai jumlah pesawat tempur Israel untuk menaikkan biaya serangan baru. Siddharth Kaushal, peneliti senior RUSI, mengatakan Iran kemungkinan masih memiliki persediaan rudal yang signifikan. Ia menilai persediaan rudal antikapal Iran mungkin masih cukup besar karena senjata itu relatif mudah diproduksi dan sebagian besar model lama buatan China diproduksi sendiri oleh Iran.

Kaushal juga menyebut pegunungan di wilayah selatan Iran menyediakan perlindungan alami dari serangan udara. Faktor geografis dan kemampuan produksi senjata itu dapat membuat operasi militer menjadi lebih sulit, sekaligus memperpanjang beban yang harus ditanggung pihak penyerang.

Di sisi Israel, Cunningham menilai kemampuan pertahanan dapat semakin tertekan. Sebagian persediaan rudal pencegat Israel telah terkuras dalam pertukaran serangan sebelumnya. Jika konflik berlangsung lama, Israel juga harus mengeluarkan biaya besar untuk mencegat drone Iran yang relatif murah dengan persenjataan pertahanan yang jauh lebih mahal.

Ketimpangan biaya itu berpotensi semakin membebani stok pencegat Israel, sementara Iran dinilai masih mampu memproduksi persenjataan berbiaya rendah secara massal dalam jangka lebih panjang. Perbandingan tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menilai kemungkinan dan dampak serangan baru.

Posisi Washington belum memberi kepastian

Al Jazeera mencatat para analis memperkirakan keterlibatan Amerika Serikat dalam serangan baru terhadap Iran kecil kemungkinannya. Perbedaan kepentingan politik antara Tel Aviv dan Washington disebut menjadi salah satu faktor yang membatasi peluang tersebut.

Trump juga menghadapi tekanan menjelang pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat untuk mencegah ketegangan kembali meningkat. Financial Times, dalam laporan yang terbit pekan itu, menyebut usulan Israel untuk melanjutkan serangan belum memperoleh persetujuan Trump.

Dengan demikian, pernyataan Netanyahu mengenai penggulingan pemerintahan Iran belum disertai kepastian tentang strategi, dukungan sekutu, ataupun kekuatan yang diperlukan untuk mencapainya. Para analis yang dikutip Al Jazeera menilai bahwa tanpa jalan yang jelas dari serangan menuju perubahan politik, tujuan tersebut masih sulit diwujudkan.

Fokustoday