Hashim Mundur dari WIFI, Proyek Internet Rakyat Berlanjut?
Hashim Djojohadikusumo mundur dari Komisaris Utama WIFI setelah sekitar tiga bulan menjabat. Pengamat menilai proyek Internet Rakyat dan kewajiban spektrum 1,4 GHz tetap melekat pada perusahaan.
Pengunduran diri Hashim S. Djojohadikusumo dari jabatan Komisaris Utama PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) memunculkan pertanyaan tentang kelanjutan Internet Rakyat dan pemanfaatan spektrum 1,4 GHz. Namun, perubahan susunan pengurus tidak serta-merta menghentikan proyek, sebab kewajiban pembangunan melekat pada perusahaan pemegang izin, bukan pada individu di jajaran komisaris.
Pengamat telekomunikasi Heru Sutadi menilai pemerintah perlu memastikan komitmen WIFI tetap berjalan setelah Hashim mundur. Pengawasan, menurut dia, perlu mencakup investasi, pembangunan jaringan, cakupan dan kualitas layanan, keterjangkauan harga, serta optimalisasi spektrum.
Hashim dan Henny Santoso, yang disebut terafiliasi dengan Grup Arsari, baru bergabung dalam jajaran pengurus WIFI pada Juni 2026. Keduanya mengundurkan diri sekitar tiga bulan kemudian. Perseroan dijadwalkan membahas penggantian Komisaris Utama dan Direktur dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 21 Oktober 2026.
Kewajiban spektrum 1,4 GHz tetap berada pada perusahaan
WIFI melalui anak usahanya memperoleh spektrum 1,4 GHz untuk Regional I, yang mencakup Jawa, Maluku, dan Papua. Perusahaan mengembangkan Internet Rakyat dengan teknologi 5G fixed wireless access (FWA), yakni akses internet nirkabel tetap.
Heru mengatakan perubahan figur di jajaran pengurus tidak menghapus kewajiban yang melekat pada pemegang izin. Dengan demikian, pertanyaan utamanya bukan semata siapa yang menduduki posisi komisaris, melainkan apakah WIFI mampu merealisasikan pembangunan dan layanan sesuai komitmen perizinan.
“Pemerintah perlu memastikan komitmen pembangunan, cakupan layanan, investasi, dan target konektivitas tetap berjalan sesuai kewajiban perizinan dan kepentingan publik,” ujar Heru kepada Bisnis, Jumat (2/10/2026).
Internet Rakyat disebut telah memasuki tahap komersial. Akan tetapi, keberlanjutan proyek tetap bergantung pada pelaksanaan investasi dan perluasan jaringan. Pemerintah juga perlu memantau kualitas layanan serta keterjangkauan harga, bukan hanya jumlah infrastruktur yang dibangun.
Internet Rakyat dan tantangan mengejar pelanggan
WIFI memiliki dua produk utama di bisnis konektivitas: Internet Rakyat untuk layanan FWA dan Starlite untuk jaringan fiber optik. Dalam paparan publik terakhir, perusahaan menyebut jumlah pelanggan FWA sekitar 500.000 hingga Juni 2026, dengan target mencapai tiga juta pelanggan. Per Agustus 2026, sebanyak 1.500 site FWA tercatat sudah beroperasi, sementara target pengembangan disebut mencapai 5.000 site.
Angka pelanggan dan site tersebut menjadi salah satu tolok ukur penting untuk melihat perkembangan layanan. Namun, sumber yang tersedia tidak merinci konversi jumlah site menjadi pelanggan maupun kontribusi pendapatan masing-masing produk. Mikirduit memperkirakan pertumbuhan bisnis telekomunikasi WIFI juga ditopang fiber optik, seiring jumlah pelanggan segmen itu naik 377 persen menjadi 1,85 juta per Juni 2026.
Secara keseluruhan, pendapatan telekomunikasi WIFI dilaporkan naik 450 persen menjadi Rp1,28 triliun. Karena perusahaan tidak menguraikan pendapatan secara terpisah antara FWA dan fiber, besarnya sumbangan Internet Rakyat belum dapat dipastikan dari angka tersebut.
Mikirduit memperkirakan, dengan asumsi jumlah pelanggan FWA 500.000 hingga Juni 2026 dan langganan dihitung sejak Januari, pendapatan FWA bisa berada di sekitar Rp300 miliar. Perhitungan itu merupakan estimasi, bukan rincian resmi pendapatan perseroan; realisasinya dapat lebih rendah karena pelanggan tidak seluruhnya mulai berlangganan pada waktu yang sama.
RUPSLB jadi perhatian bagi arah kerja sama
Aspek lain yang menjadi perhatian adalah biaya. Menurut analisis Mikirduit, biaya izin awal tahun pertama dan frekuensi WIFI mencapai sekitar Rp1,2 triliun, sedangkan biaya tahunan berikutnya diperkirakan sekitar Rp403 miliar. Laporan keuangan kuartal II/2026 mencatat biaya frekuensi sekitar Rp222 miliar. Mikirduit memperkirakan beban pada semester II dapat meningkat, tetapi angka tersebut merupakan analisis berdasarkan asumsi cicilan.
Jika pertumbuhan pelanggan Internet Rakyat tertinggal dari target, beban pembangunan dan biaya spektrum berpotensi menekan margin. Mikirduit juga mencatat nilai persediaan perangkat FWA sebesar Rp2,38 triliun dan harga perangkat N50 CPE SRT838CX 5G sekitar Rp1,07 juta per unit. Perhitungan media tersebut menyetarakan nilai persediaan dengan sekitar 2,22 juta perangkat.
RUPSLB pada 21 Oktober akan memberi petunjuk mengenai susunan pengurus selanjutnya. Pergantian itu juga dapat menjadi perhatian pasar untuk membaca arah keterlibatan Grup Arsari, meski kemungkinan tersebut masih bergantung pada siapa yang ditunjuk sebagai pengganti. Sebelumnya, Grup Arsari melalui PT Arsari Sentra Data dan WIFI menandatangani nota kesepahaman terkait investasi di PT Jaringan Infra Andalan, anak usaha WIFI, untuk pengembangan infrastruktur konektivitas yang menyasar 25 juta rumah tangga di Jawa.
Perubahan di ruang rapat belum menjawab seluruh pertanyaan tentang pelaksanaan proyek. Ukuran yang lebih nyata akan terlihat dari realisasi jaringan, pertumbuhan pelanggan, dan kemampuan perusahaan memenuhi kewajibannya. Bagi pemerintah dan pelanggan, kepastian layanan serta keterjangkauan harga akan tetap menjadi hal yang perlu dicermati.
